Ma Hyang

Oleh Khairul Anam

Salam sastra!

Para penikmat sastra di Indonesia, pada kesempatan kali ini kita berjumpa di sub konten ‘Kliping Sastra Medan’. Sub konten ‘Kliping Sastra Medan’ akan menampilkan karya sastra penulis Medan yang telah terpublikasi baik di buku, koran, majalah, dll. Jumpa pandang awal ‘Kliping Sastra Medan’ ini kali akan menyuguhkan salah satu cerita pendek yang termaktub dalam Antologi 29 Cerita Pendek, Ma Hyang.

Tahun 2010 Laboratorium Sastra Medan menerbitkan buku Antologi 29 Cerita Pendek yang memuat tulisan-tulisan penulis Medan. Judul besar buku Antologi 29 Cerita Pendek ini adalah Ma Hyang, yang diambil dari salah satu judul cerita pendek yang termuat di dalamnya. Ma Hyang adalah cerita pendek karangan Ria Ristiana Dewi.

Dua puluh sembilan cerpenis yang terdapat dalam buku antologi cerita pendek Ma Hyang, yaitu: Afrion, Annisa Tri Sari, Ayu Sundari, Budianto, Butet Benny Manurung, Dewi Agus Fernita Ginting, Djamal, Eka Brenta Sembiring, Eliza Ghazali Sitepu, Emasta E Simanjuntak, Febri Mira Rizki, Hasan Al Banna, Henny Nurhasanah Chaniago, Ira Pane, Iis Aprianti, Muhammad Anhar Husyam, Nanda Chandra Kirana Silitonga, Nurlaela, Ria Ristiana Dewi, M. Raudah Jambak. Rudiansyah Siregar, Raudahtul Sarifah Lubis, Rudi Hartono Saragih, sari Lestari Sinaga, Susanti Lamhot, Sofyan Ibrahim, Ulfa Zaini, Wahyu Wiji Astuti, dan Zuliana Ibrahim.

Penerbit melalui kata pengantar mengungkapkan bahwa keanekaragaman cerita yang disampaikan dalam buku Antologi 29 Cerita Pendek Ma Hyang ini mengungkapkan kenyataan dalam realitas kehidupan manusia yang digubah ke dalam dunia fiksi dengan menggunakan diksi bahasa lokal Sumatera Utara.

Salah satu cerita pendek yang memuat  kenyataan realitas kehidupan yang digubah dalam fiksi tersebut adalah cerita pendek milik Raudahtul Sarifah Lubis. Cerita Pendek yang berjudul ‘Gelombang Mengakhiri Derita’ ini mencoba memfiksikan sisi lain kejadian gempa 25 Oktober 2010 yang terjadi di Mentawai, yang menelan korban sebanyak 200 orang mengalami luka parah dan ringan, 286 orang meninggal, dan 252 orang dinyatakan hilang (baca: Wikipedia- Gempa bumi Kepulauan Mentawai), melalui pengalaman hidup tokoh utamanya, Andi.

Mari kita simak cerita pendek tersebut.

Selamat membaca.

 

Gelombang Mengakhiri Derita

Oleh: Raudahtul sarifah Lubis

 

Matahari sudah muncul sejak tadi. Tak satupun belahan bumi yang terlewatkan sinarnya, tak jua langit kosong olehnya. Suasana yang tepat untuk meneguk sebungkus es sirup sebagai pelepas dahaga sejenak di siang terik ini. Tapi tidak padaku. Bagaimana bisa haus yang tersimpan di tenggorakan kutimbun dengan cairan manis yang terbungkus rapi bersusun dalam steling emperan jalan. Kantong masih kosong melompong, sebab belum satupun keripik di keranjang terjajakan. Meski sepanjang trotoar tak terlihat pedagang keripik lain, namun enggan kiranya keripik singkongku pergi dari peraduannya.

“Hei dik, kalau ingin berjualan jangan di sini. Tuh, ke pantai sana!” Bapak tua bergerobak kecil menyapaku seraya mengarahkan telunjuknya ke pantai di sebelah utara jalan raya.

Dari jauh sudah kelihatan orang-orang menyemut meraih kesenangan bertukar tawa dan ria di sana. Aku mengikuti bapak tua dari belakang hingga sampai di hamparan pasir di mana para pedagang berdiri tegak mengais rejeki menjajakan dagangan masing-masing.

“Ma, adit mau keripik!” Gumam seorang anak laki-laki berselakan rengek pada ibunya yang tanpa basa-basi langsung merogoh kantung celananya dan menukar selebaran uang seribu padaku dengan keripik singkong.

Semakin sore keripikku semakin laris, petang hari aku beranjak pulang mengantungi setumpuk uang kertas dan recehan. Puas rasanya jualan hari ini. Walau tak sempat menikmati sedapnya makanan yang terhidang di warung nasi sepanjang jalan, tapi aku berharap Tek Nur menjadi senang karena keripiknya laris manis dan nanti malam pasti makan enak.

Setibanya di rumah kuserahkan semua isi kantong pada Tek Nur. “Cuma segini? Kok makin sedikit dari biasanya? Kau makan ya, uangnya?” Bentak Tek Nur.

“Enggak Tek itu udah semuanya.” Jawabku seraya menunduk karena takut.

“Kalau begitu, malam ini makan nasi saja, kayak biasa!” Jelas Tek Nur sambil mengambil sapu dari pojok pintu. Baru saja hendak melepas lelah ke kamar, Tek Nur sudah menyuruh pergi ke warung membeli beras.

Lelapku berselimutkan dingin yang menebal di sekujur tubuh. Angin masuk melalui lubang tepas kamar berukuran 3×2 meter ini. Nyeri yang mengiris kantung lambungku terus menolak mata untuk terkatup. Hingga fajar menyingsing tubuhku berat beranjak dari pembaringan. Sedang Tek Nur berkoceh dari balik pintu kamar berbahan triplek.

“Andi, ayo bangun. Lekas pergi jualan!” Akhirnya kupaksa tubuh ini bergerak menelusuri jalanan menenteng keranjang dengan pandangan masih berkunang-kunang. Menuju pantai perairan pulau Mentawai yang selalu dilanda keramaian. Walau mata setengah mengatup, akhirnya aku sampai juga di barisan padagang souvenir. Nasibku tak jauh beda dengan ibu penjual souvenir di sebelah kananku.

Dagangan kami hanya beberapa yang terjual. Semakin sore pantai semakin ramai dan ombak kian mengamuk sehingga mau tidak mau tak sedikit daganganku yang laku. Saat sedang melayani pembeli, terdengar teriakan seorang pengunjung yang menghebohkan seluruh penjuru pantai.

“Ada ikan banyak di sana.” Pria paruh baya menunjuk ke arah pulau Mentawai. Beberapa orang pun pergi ke sana.

Sakit kepalaku perlahan hilang karena hari ini keripikku habis terjual. Ibu pedagang souvenir menawarkan segelas es dawet sebagai tanda perkenalan dan rasa syukur karena dagangannya tak kalah laris denganku.

Suasana petang hangat terasa seraya menikmati gumbukan dawet bersantan aren bersama Ibu Rosim, pedagang teramah yang kukenal. Memandang laut dengan panorama langit merona dan barisan burung bebas di angkasa. Belum pernah kurasakan keindahan ini sebelumnya. Bersenda gurau dengan ibu sebaik Bu Rosim adalah hal yang tak mungkin kudapatkan di rumah.

“Dik, banyak ikan terdampar di tepi. Ayo ke sana!” Sontak Bu Rosim mengajakku menepi.

Orang-orang memunguti ikan yang berhamburan. Mau tak mau aku ikut menyelipkan 4 ekor ikan di bajuku. Tetapi gelombang pasang menuju ke sini bersiap menerjang seisi pantai. Perasaanku tak karuan. Kejadian yang pernah kulihat di televisi. Gelombang itu semakin dekat, tak ada waktu bagiku menyelamatkan diri. Hanya bisa berpasrah membayangi wajah ayah dan ibu seperti berbalut dengan gelombang.

“Ya Allah, jika ini saatnya aku bertemu dengan mereka, maka pertemukanlah aku.” Bernada aku dalam hati.

Hanya berselangkan detik tubuhku dihantam gelombang besar. Sebongkah kayu terbawa air menepas tubuhku, dan dunia tak terbaca lagi.

Di hadapanku berdiri sebuah istana megah berdindingkan baja. Tanpa beralas kaki aku masuk membawa keranjang keripik di lengan. Seorang nenek tua membeli sebungkus keripik dengan batang emas. Usai mengamati keindahan emas batangan, Aku tersadar bahwa nenek itu sudah pergi entah ke mana. Sambil mencari nenek tua tadi, langkahku berhenti di sebuah ruangan layaknya pasar. Seorang pemuda berpakaian bak utusan raja menghampiriku dan merampas emas batangan yang kugenggam.

“Aku sudah menemukan emasnya.” Teriaknya keras. Seisi ruang menyorotku sinis tak ubah maling tertangkap basah. Sontak tubuhku diikkat dan dicahayakan lampu dari setiap sisi. Keringatku semakin deras tatkala seorang wanita menggenggam pisau ke arahku. Sampai pisaunya menusuk seisi perut, aku membisu menahan sakit dan tanpa terasa air mata berlinang.

Usapan di dahi memaksaku membuka mata. Hanya seorang suster dan wanita molek di hadapanku. Istana dan seisinya yang kulihat tadi hilang entah kemana. Entah berapa lama pun kusandarkan tubuh di tempat tidur ini.

“Syukurlah kau sudah sadar, nak.” Ujar wanita molek seraya menyentuh pipiku lembut.

“Dok, setelah ini pasien dibawa ke mana?” Tanya suster.

“Ia akan tinggal bersama saya,” jawab wanita itu dan tersenyum padaku.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)