Artefak Cerita Pendek Indonesia

Oleh Khairul Anam

Salam sastra!

Penikmat sastra Indonesia, sua lewat kata kembali dengan saya di sub konten ‘Kliping Sastra Medan’. Kali ini saya akan mengangkat salah satu tulisan cerita pendek karya cerpenis muda kota Medan. Pada 6-9 Agustus 2009 Laboratorium Sastra Medan mengadakan acara Festival Cerita Pendek Indonesia di Taman Budaya Sumatera Utara dengan tujuan untuk menumbuhkan penulis-penulis cerita baru di kota Medan. Puncak acara yang berlangsung selama tiga hari ini melahirkan sebuah buku antologi cerita pendek dengan judul “Artefak Cerita Pendek Indonesia”.

Sebanyak 25 cerita pendek dihimpun dalam buku antologi ini. Cerita-cerita pendek tersebut antara lain, yaitu: Percakapan Angin karya Afrion, Inilah Kita karya Anggie Zulmi, Benang Hitam karya Budi S Sihombing, Isyarat Emak karya Dani Sukma Agus Setiawan, Lori karya Diana Tobing, Bu Ijah karya Eka Fitri Lestari, Parjagal karya Emasta E Simanjuntak, Di Gerbang Penantian karya Erny Wirda Ningsih, Latah Membawa Hadiah karya Eva Ardiana, Kematian karya Frisca Sinaga, Wak Gomuk karya Helmy Fenesia, Menjemput Bidadari Syurga karya Imatuzzahra al Hurun ‘in, Prahara karya Lela Mustika, Dua Lembar Jilbab Buat Aisyah karya Maulana Satrya Sinaga, Orang Orang Lereng Bukit karya M. Aulia Rahman Lubis, Sepenggal Kisah Dari DPR karya Rahmadyah Kusuma Putri, Tekad Rahmiatul Hasni Nst, Sehelai Sirih karya Rudi Hartono Saragih, Catatan Hitam karya Sakinah Annisa Mariz, Hasrat Buta karya Sari Lestari Sinaga, Ketulusan karya Sri Rizki Handayani, Hijau yang Hilang karya Suryani Sitorus, Waktu Rentatua karya Syaifullah, dan Lara karya Wahyu Wiji Astuti.

Antilan Purba mengemukakan bahwa cerita dalam ‘Artefak’ ditulis melalui sebuah proses pencarian tentang fakta di satu pihak dan fiksi di pihak lain. Sebagaimana diketahui bersama bahwa cerita fiksi acapkali berangkat dari suatu fakta empiris yang telah atau sedang terjadi, yang berkembang dari konflik antar manusia. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kecemasan dan kegelisahan menghadapi persoalan dalam kehidupannya.

Keanekaragaman masalah kehidupan yang dihadirkan dalam ‘Artefak’ ternyata mampu menyihir pembaca untuk ikut masuk ke dalam cerita dan merasakan apa yang terjadi dalam cerita. Salah satu masalah yang diangkat dalam ‘Artefak’ adalah pencarian identitas tokoh utama sebagaimana yang diungkap dalam cerita pendek ‘Di Gerbang Penantian’ dan ‘Isyarat Emak’. Berikut marilah kita simak cerita pendek ‘Di Gerbang Penantian’ karya Erny Wirda Ningsih.

 

Di Gerbang Penantian

Oleh: Erny Wirda Ningsih

 

img0064a_400x400

 

Entah sampai kapan semua akan berakhir. Setiap genap tiga puluh hari dari satu bulan, aku dan ibu pergi ke perbatasan menunggu ayah. Dari terbitnya matahari sampai senja hampir terbenam, kami tetap menunggu di sana. Entah sudah berapa purnama yang kami lewati tanpa ayah. Entah kapan ayah akan pulang, dan entah kapan aku dan ibu bisa bersama-sama ayah lagi seperti dulu.

Aku rindu belaian ayah. Rindu semua tentang ayah. Setiap malam kusampaikan rindu untuk ayah, lewat hembusan angin yang ramah. Tapi ayah tak kunjung tiba. Mungkinkah ia telah lupa padaku dan juga ibu?

***

Suatu hari aku dan ibu duduk di beranda depan, sambil sesekali menikmati segelas teh hangat dan ubi rebus buatan ibu. Hampir tiga puluh menit kami diam tanpa kata. Mataku menerawang jauh, berusaha mencari kepastian tentang ayah. Tiba-tiba ibu menarik jemariku dan menggenggamnya erat-erat. Kuarahkan pandanganku ke ibu, kutatap tajam mata ibu dengan ribuan tanda-tanda yang tak menentu. Ibu menarik nafas sejenak, seperti hendak menggulung kepingan luka yang bergemuruh di hatinya.

“Ada apa bu?” Tanyaku.

“Kau sudah besar Seruni, sudah seharusnya kau tau,” ucap ibu dengan nada getir.

“Tau apa bu? Apa yang selama ini ibu rahasiakan dari Seruni?”

“Kau sayang ibu nak?” Tiba-tiba ibu melontarkan pertanyaan itu padaku. Aku mengangguk pasti, tanpa keraguan.

“Aku sangat menyayangi ibu,” tegasku sembari memeluknya. Aku tak tahu apa yang ada di pikiran ibu, tak juga paham apa yang membuat matanya berlinang.

Perlahan, satu-persatu salju bening yang menggenang di mata ibu tumpah, menetes perlahan membasahi paras wajahnya. Kuhapus titik-titik salju itu, kucium pipi ibu dan kudekap erat tubuhnya. Aku ingin merasakan sebagian pilu yang ada di hati ibu, agar aku tahu, arti dari setiap tetesan air matanya.

“Kenapa ibu menangis?” Tanyaku seraya melepas pelukanku.

“Ibu menyayangimu nak, ibu harap kau bisa berhenti memikirkan ayah,” tegas ibu.

Aku semakin bingung menatap ibu. Selama ini kami selalu bersama-sama menunggu ayah di perbatasan. Tapi kenapa hari ini ibu berkata demikian? atau mungkinkah ia telah jemu.

***

Masih sama seperti hari-hari sebelumnya, aku tetap menunggu ayah di perbatasan, walaupun kini aku sendiri, tak ditemani ibu lagi. Aku rindu dengan ayah, sangat  rindu bahkan. Aku duduk di atas sebongkah kayu besar, di pinggir pantai berpasir putih ini. sambil memandangi foto ayah yang diberikan ibu padaku, aku terus berharap agar senja kali ini ayah datang. Aku sudah teramat rindu padanya.

Sesekali ombak menghempas kakiku, membuat darahku berdesir. Sesekali angin menyapaku ramah, mengingatkanku pada senja yang hampir tiba. Di ufuk barat sana, senja mulai tampak kemerahan. Matahari semakin merunduk, seakan tersipu malu, seakan hendak bersembunyi di kepingan malam. Kulirik jam di tanganku.

“Hhh…!” Aku mendesah pelan, seperti orang yang kehilangan harapan.

“Apakah Ayah juga tidak datang hari ini? Padahal aku telah berjam-jam menunggu ayah di perbatasan ini, tapi kenapa kepastian itu tak juga ada? Sampai kapan ayah harus menghantui rindu di Qalbuku?” Gumamku dalam hati.

Kutatap langit di ufuk barat sekali lagi. Kutatap tajam dan dalam-dalam. Sejenak aku terdiam di sudut waktu itu.

“Akh…..!!” Teriakku keras. Membuang kekesalan di dadaku. Ini batu terakhir yang kugenggam. Aku melemparkannya jauh ke tengah pantai. Sekali lagi kulirik jam di tanganku, jarumnya telah menunjukkan pukul setengah tujuh petang. Aku membalikkan badan, dan kemudian pulang.

Letak pantai ini memang tak begitu jauh dari rumahku, paling sekitar beberapa ratus meter saja. Aku berjalan kaki sendirian. Dan tak berapa lama kemudian akupun telah sampai ke rumah.

***

Tiga bulan kemudian, aku sakit keras dan terbaring di rumah sakit. Ibu menemaniku melewati rasa sakit ini. Rasa sakit yang sebenarnya tak begitu nyeri jika dibandingkan rasa rinduku pada ayah. Jarum-jarum infus menjeratku, entah berapa jenis pil yang harus kutelan setiap harinya.

Suatu malam, saat ibu duduk di samping pembaringanku, kutarik tangan ibu dan kugenggam seerat mungkin.

“Ibu.., Seruni rindu ayah…,” ucapku tertatih.

Ibu menghapus air mataku, dan diciumnya keningku. Air matanya kembali berderai, menetes hingga ke sudut bibirnya.

“Ibu jangan nangis..,” pintaku ketika melihat ibu menangis.

“Seruni cuma ingin ketemu ayah..,” ucapku lagi.

Ibu mengguk pelan, penuh keraguan.

“Seruni tidur ya sayang.., nanti kalau Seruni sudah sembuh, kita akan sama-sama menunggu ayah di perbatasan nak,” ucap ibu akhirnya, sambil menyimpulkan senyuman getir yang nyaris hampa. Aku mengangguk pelan.

Malam kembali larut dalam kesunyian yang telah menjadi identitasnya. Senyap—sepi; seperti tak berpenghuni. Hanya detak-detak jam dinding yang bernyanyi di sudut malam. Aku tertidur pulas dalam mimpi-mimpi semu.

Malam sepertinya tak asing lagi. Aku hafal syairnya. Dari A hingga ke Z. Kapan malam akan berubah? Aku bosan mendengar nyanyian detak jam dinding atau gurauan sekelompok jangkrik. Sesekali aku ingin ayah yang bernyanyi.

***

Setelah berbulan-bulan terbaring lemah di rumah sakit, akhirnya aku diperbolehkan pulang. Aku dan ibu kembali ke rumah dan melakukan rutinitas seperti biasannya. Kami masih tetap menunggu ayah di setiap akhir bulan. Tapi sampai hari ini ayah tak kunjung tiba.

Suatu malam, saat aku dan ibu nonton TV, aku memberanikan diri bertanya tentang ayah lagi pada ibu.

“Ibu, kenapa ayah tak pernah datang? Padahal Seruni sangat rindu padanya. Ibu, kemana ayah sesungguhnya?”’ tanyaku putus asa.

“Seruni anakku, kau sudah dewasa nak. Sudah seharusnya kau tau.”

“Tau apa bu? Ceritalah,” pintaku penasaran.

“Maafkan Ibu nak, sebenarnya………………..,” ibu menceritakan semuanya.

“Jadi penantian kita selama ini hanya omong kosong bu?” Tanyaku nyeri. Ibu diam tanpa kata. Seraut wajahnya menggambarkan kekecewaan yang lama ia sembunyikan.

Rasanya dadaku sesak, sangat sesak bahkan. Mimpi-mimpiku tentang ayah selama ini ternyata kosong. Aku hanya berfatamorgana, merajut harapan di seperempat maya.

Akhirnya tanda tanya yang selama ini tertimbun di benakku pun terungkap. Semua telah terjawab secara rinci. Jawaban yang tak pernah kuinginkan sebelumnya. Jawaban yang seharusnya tak pernah ada! Yah, tak harus ada malahan.

Ayah yang semula kukira merantau di negeri orang dan akan pulang di salah satu senja yang kami nanti, ternyata tidak. Ayah yang selama ini menghantui rinduku, ternyata sekadar fiktif belaka. Aku menanti sesuatu yang tak pernah ada. Sesuatu yang sebenarnya omong kosong yang tak bernyawa.

Jika yang di sampingku bukan ibu, yang selama ini menjagaku, merawatku, dan membesarkanku dengan keringatnya sendiri, mungkin akan kulemparkan sekarung makian untuknya. Tapi kenyataannya, yang ada di sampingku adalah seorang ibu yang rela bersusah-payah merawat dan membesarkanku dengan keringatnya. Seorang ibu yang bersedia menyisihkan sebagian, bahkan hampir seluruh waktunya untukku.

Aku tak sanggup lagi berkata sepatahpun. Salju-salju bening semakin berlinang di mataku. Aku berusaha membendungnya agar tak sampai tumpah. Kuhela nafas panjang dan kupeluk erat ibuku.

“Seruni sayang ibu.,” ucapku akhirnya. Ibu tak membalas kata-kataku. Hanya derai air matanya yang seolah berbicara jujur tentang kepiluan hati.

“Maafkan ibu nak,” hanya kalimat singkat itu  yang akhirnya terucap dari bibir ibu.

***

Kusandarkan tubuhku ke badan kursi bambu di tepian pantai. Aku masih membiarkan desiran ombak menyapu kakiku membiarkan deru angin membelaiku ramah.

“Aku benci ayah..,” gumamku pelan.

“Aku benci ayah..!!” jeritku keras, seakan memecah senja kali ini.

Yah, aku benci ayah yang telah membuatku harus terlahir dan menyandang status anak haram. Aku benci ayah yang telah merampas kebahagian ibu. Aku benci dia! Dia yang telah menanamkan kepingan luka di nuraniku.

Kukepal kekesalan yang terangkai indah sebagai rasa penyesalan di hatiku. Kudekap erat-erat di sanubariku. Kepiluan yang tak terlukis. Semua telah membusuk menjdi benalu-benalu, menjadi parasit yang selamanya akan kubenci.

Good bye to all..,” bisikku dalam hati. Dalam nyeri yang tak terdefenisi.

Medan, 2009

 

img_20161108_214110

Please follow and like us:

2 Comments on Artefak Cerita Pendek Indonesia

  1. kelebihan :
    cerita pendek ini memiliki kandungan makna yang sangat dalam sehingga membuat orang yang membaca terhipnotis atau terbawa perasaan.

    kekurangan :
    cerita pendek ini memiliki kata-kata kiasan yang lumayan sulit untuk dipahami. lebih baik lagi apabila cerita pendek ini memakai kata kiasan yang sederhana pasti orang yang membaca lebih memahami lagi makna-makna dalam cerita pendek ini

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)