Dihargai itu, Sebuah Kebutuhan Primer (Emosional)

Oleh Rudi Saragih

Sejak saat kejadian seperti itu, Liwa mulai berubah. Semangatnya sudah berkobar dan kinerjanya melonjak naik drastis. Liwa yang dulunya ingin pindah kerja kini menjadi penyulut semangat bagi teman-temannya. Bukan gajinya yang membuat Liwa tetap bertahan, tetapi sikap atasannya yang menjadi panutan membuat Liwa merasa diperhatikan dan diperhitungkan.

Pada sebuah yayasan, seorang karyawan yang malas bekerja –karyawan yang harus dikomando secara ketat-  terpaksa menjemput anaknya yang sedang duduk di bangku TK, sebut saja namanya Liwa. Lalu dengan sedikit ragu dan takut, akhirnya dia menghadap atasan untuk permisi karena istrinya sedang sakit. Dengan wajah yang sedikit pucat, Liwa pun mengetuk pintu kantor atasannya. Cerita punya cerita, Liwa diberikan ijin, tentunya dengan sedikit interogasi atasan. Dengan wajah yang tidak bisa diterka dia keluar kantor dan pergi.

Sepulang menjemput anaknya dari TK, dia singgah lagi di kantor untuk mengambil tas dan tugas yang dibebankan untuknya. Ternyata di gerbang, si atasan tadi sudah menyuruh sopir pribadinya mengantarkan. Tanpa banyak tanya mereka pun melaju menuju rumah. Sebelum berangkat, si atasan tadi menyempatkan memberikan coklat kepada anak bawahannya itu. Tidak lama kemudian dia kembali ke kantor untuk mengerjakan tugasnya.

Sikap atasannya memang selalu memperhatikan anggotanya dari hal-hal kecil yang kadang kala terlupakan, seperti memberi permen, pulpen kepada anak bawahannya, mengajak makan, memberikan ijin, bercanda sambil bekerja, dan tentunya dia pintar melihat kondisi psikologi bawahannya. Menyapa adalah khas darinya, di mana saja.

Membuat bawahan senang bukan semudah mandi air hujan – berdiri  mengangkang dan hujan membasahi secara sendirinya. Mencipta rasa memiliki terhadap sebuah organisasi atau perusahaan yang notabenenya bukan milik pribadinya tetapi dia bisa merasa memiliki bukan perkara mudah. Memang bukan pula dia merasa itu semua milik dia, artinya rasa sayang dia terhadap perusahaan atau organisasi sehingga kehadirannya bisa berdampak positif terhadap perkembangan oraganisasi. Keikhlasan dan kemauan akan semakin tinggi ketika rasa memiliki maupun rasa bertanggungjawab tertanam pada diri pribadinya.

Betapa pentingnya kebutuhan dan pemahaman dengan situasi itu. Apa yang terjadi jika anda tersenyum, perhatian, dan berbudi baik? Apa pula yang terjadi jika anda pemarah, dengki, dan cuek? Ingat, sesimpul senyum bisa membuat permulaan yang baik. Awal yang baik selanjutnya diberikan perhatian bisa mencipta keharmonisan. Dan, dari keharmonisan itu akan timbul kekuatan yang dahsyat, jika ditambahkan lagi dengan budi pekerti yang baik, maka akan menemu kemajuan yang damai, yang para pelakunya menikmati suasana nurani nan indah. Eits, marah bisa mencipta dendam, dengki menimbulkan kecurangan, cuek menimbulkan hilangnya perhatian. Apa yang terjadi jika dendam, curang dan cuek sudah merajalela? Tentunya itu bukan hal-hal yang diinginkan.

Hal tersebut akan menjadi fenomenda dalam hubungan antara atasan-bawahan, kakak-adik, ketua-anggota. ‘Kuper’ bukan kurang pergaulan tetapi kurang perhatian. Anak muda sekarang ini menyebutnya ‘jablai’, jarang dibelai. Seorang bawahan juga butuh perhatian, butuh sentuhan jiwa. Butuh dimengerti, butuh diperhatikan, butuh dipuji, dan banyak lagi yang menjadi kebutuhan bawahan dari pemimpinnya.

Menghargai orang lain bukan hanya terbatas pada pemberian materi. Semua itu hanya memenuhi kebutuhan fisik yang nyata. Kebutuhan ini tidak pernah berhenti, oleh karena itulah sebabnya manusia selalu disebut serba kekurangan. Dibalik itu semua, ada kebutuhan jiwa yang harus dipenuhi. Jika jiwa-jiwa bisa tenang tentunya semua berjalan dengan baik tanpa ada rasa sakit hati atau bahkan benci maupun balas dendam.

Memang kebutuhan kedua aspek tersebut harus sejalan, itulah yang harus bisa dilihat oleh seorang atasan. Ei, bukan menyepelekan, kalau untuk memenuhi kebutuhan materi secara keseluruhan tidak mungkin dilakukan. Namun kita sadar, bahwa seorang bawahan juga memiliki pikiran  dan daya nalar. Gunakanlah pikiran dan daya nalar itu. Berikan pemahaman dengan sentuhan-sentuhan batin. Perhatikanlah situasi batinnya, situasi keluarganya, situasi lingkungannya, jangan terlalu cepat mengambil keputusan tentang bawahan, analisis terlebih dahulu dari berbagai aspek. Mereka akan tahu sendiri dengan apa yang akan mereka lakukan. Namun tidak serta merta itu berjalan sendirinya tanpa ada perhatian yang baik dari seorang atasan.

Ikutkan dalam pengambil keputusan atau minta pendapatnya mengenai pekerjaan yang akan dilakukan. Selain ada ide bagus dari, dengan cara itu dia akan merasa diikutkan di dalamnya. Apa yang anda rasakan jika atasan anda meminta pendapat atau ide tentang sesuatu? Tentunya senang. Demikian juga dengan yang lainnya.

Ketenangan dan kesenangan akan timbul dari batin dan situasi kejiwaan. Materi hanyalah pendukung mencapai tingkat kesenangan itu. sentuhlah batin yang sunyi. Jangan biarkan sedu mendalam, selimuti dengan senyum. Eits, jangan tanamkan benci karena benci bisa menurunkan kinerja.

***

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)