Tradisi Lisan Nyanyian Rakyat Anak-anak Pada Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan

Salam riset lokalitas.

Pecinta peneliti, tidak terasa kolom ‘Penelitian’ sastramedan.com sudah memasuki minggu kedua setelah peluncurannya pada tanggal 24 Agustus 2016 lalu. Pada minggu kedua redaktur akan mereview penelitian yang berhubungan dengan sastra lisan. Penelitian berikut adalah penelitian yang menjadikan nyanyian rakyat masyarakat Batak Toba sebagai objek penelitiannya. Penelitian ini dilakukan oleh Demak Magdalena P. Silaban. Judul penelitian ini adalah Tradisi Lisan Nyanyian Rakyat Anak-Anak Pada Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan.

Mengamati fenomena tergerusnya tradisi lisan khususnya nyanyian anak-anak dari masyarakat tradisional yang mulai beralih menuju masyarakat industri, peneliti merasa perlu melakukan penelitian untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi semakin punahnya nyanyian anak-anak pada masyarakat Batak Toba khususnya di Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan. Nyanyian anak-anak yang menjadi objek langsung penelitian ini adalah Dideng Dideng, Kacang Koring, Sada Dua Tolu, Sampele Sampele, dan Jambatan Tapanuli.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi semakin punahnya nyanyian anak-anak pada masyarakat Batak Toba, menganalisis fungsi dan makna, konteks, serta kearifan lokal yang terkandung dalam nyanyian anak-anak tersebut. Untuk itu digunakan teori fungsionalisme, teori semiotika, dan teori teks, koteks, dan konteks. Teori fungsionalisme folklor terbagi dua yaitu fungsionalisme murni dan fungsionalisme struktural. Teori fungsionalisme murni awalnya dikemukakan oleh Malinowski, seorang antropolog sosial. Dia tertarik pada dongeng masyarakat primitif. Menurut dia, dongeng dapat dijadikan sebagai alat pendidikan dan kontrol sosial. Dongeng suci dianggap sebagai hal sakral dan benar-benar terjadi. Karenanya di wilayah Trobriand, ada dongeng yang berfungsi sebagai pedoman keagamaan, kesusilaan, dan aktivitas masyarakat. Fungsi semacam ini menunjukkan bahwa kebudayaan memiliki fungsi bagi pemenuhan kebutuhan naluri manusia.

Sedangkan teori fungsionalisme struktural meyakini bahwa memiliki fungsi bagi pemenuhan keutuhan dan sistematik struktur sosial. Struktur sosial dapat dipahami sebagai pengaturan kontinu atas orang-orang dalam kaitan yang ditemukan oleh institusi, yakni norma dan pola perilaku yang dimapankan secara sosial. Di lain pihak, Evan Pritchard berpendapat bahwa struktur sosial adalah konfigurasi kelompok yang mantap.

Teori selanjutnya adalah teori semiotika. Semiotika adalah ilmu tentang tanda-tanda. Tanda-tanda itu mempunyai arti dan makna, yang ditentukan oleh konvensinya, karya sastra merupakan struktur tanda-tanda yang bermakna. Karya sastra menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Bahasa sebagai medium karya sastra merupakan sistem semiotika ketandaan. Sebagai ilmu, semiotika berfungsi untuk mengungkapkan secara ilmiah keseluruhan tanda dalam kehidupan manusia, baik tanda verbal maupun non verbal. Tokoh perintis semiotik adalah Ferdinand de Saussure (1857-1913) seorang ahli linguistik dari Swiss dan Charles Sander Pierce, seorang folosof dari Amerika Serikat (1839-1914). Saussure menyebut ilmu itu dengan nama semiologi, sedang Pierce menyebutnya semiotik (semiotics). Saussure melihat bahasa sebagai sistem yang membuat lambang bahasa itu terdiri dari sebuah imaji bunyi (soundimage) atau signifier yang berhubungan dengan konsep (signified).

Kemudian teori terakhir yang dipakai untuk menganalisis nyanyian objek penelitian ini adalah teori teks, koteks, dan konteks. Sibarani (2012: 241-242) mengemukakan bahwa setiap tradisi lisan memiliki bentuk dan isi. Bentuk terbagi atas teks, ko-teks, dan konteks, sedangkan isi terdiri dari makna dan fungsi, nilai dan norma, serta kearifan lokal. Teks, koteks, dan konteks merupakan tiga bagian yang saling berhubungan sehingga pemahaman sebuah teks juga tergantung pada ko-teks dan konteksnya, dan juga sebaliknya. Di samping menganalisis hubungan proposisi dalam teks tradisi lisan, juga perlu menganalisis elemen koteks dan konteksnya untuk mendapatkan makna yang sebenarnya, makna paduan kalimat dalam wacana tradisi lisan baru dapat dipahami secara lengkap setelah dikaitkan dengan ko-teks dan konteksnya. Teks memiliki struktur, ko-teks memiliki elemen, dan konteks memiliki kondisi, yang formulanya dapat diungkapkan dari kajian tradisi lisan.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Dalam hal ini peneliti mendeskripsikan bagaimana proses dari nyanyian menidurkan anak dan nyanyian permainan anak dalam MBT. Data penelitian pada penelitian ini adalah nyanyian menidurkan anak yaitu Dideng dideng dan nyanyian permainan anak yaitu Kacang koring, Sada Dua Tolu, Sampele Sampele dan Jambatan Tapanuli yang direkam langsung di lokasi penelitian Kecamatan Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan.

Pengumpulan data pada penelitian sastra lisan ini dilakukan melalui dua cara, yaitu studi pustaka (library research) dan penelitian langsung di masyarakat (field research). Dalam hal ini penelitian nyanyian rakyat anak-anak pada MBT, peneliti menggunakan teknik  pengumpulan data dengan penelitian lapangan (field research) dan secara studi pustaka (library research). Teknik pengumpulan data dengan penelitian lapangan dilakukan secara langsung yaitu dengan metode wawancara dan observasi. Dalam melakukan wawancara, peneliti melakukan wawancara mendalam (in depth interview) tidak berstruktur untuk melengkapi data. Wawancara ini dilakukan untuk mendapatkan data-data yang terhimpun dari jawaban-jawaban informan dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Adapun pertanyaan itu tidak hanya dipersiapkan terlebih dahulu, akan tetapi pertanyaan juga muncul sebagai reaksi saat menyaksikan kegiatan nyanyian menidurkan anak dan nyanyian permainan anak pada MBT.

Sedangkan metode observasi dilakukan dengan pengamatan partisipasi (participation observation) yang peneliti lakukan dengan cara terjun langsung ke lapangan dan mengamati objek secara langsung, meliput secara langsung proses berlangsungnya nyanyian menidurkan anak dan nyanyian permainan anak pada MBT di dua desa yaitu desa Tapian Nauli dan desa Nagasaribu di Kecamatan Lintongnihuta. Nyanyian menidurkan anak dan nyanyian permainan anak tersebut direkam langsung dengan menggunakan Tablet Samsung tab 4. Begitu juga dengan wawancara yang dilakukan dengan informan, peneliti menggunakan alat yang sama untuk merekam. Teknik pengumpulan data secara studi kepustakaan (written document) dilakukan dengan mengumpulkan data-data melalui  documentary historical, yakni mengumpulkan data melalui dokumen-dokumen yang berhubungan dengan objek yang akan diteliti yaitu nyanyian menidurkan anak dan nyanyian permainan anak pada MBT, baik itu berupa teks buku, artikel, internet, dan tulisan-tulisan ilmiah yang berhubungan dengan objek penelitian.

Temuan dari penelitian ini yang dilakukan oleh Demak Magdalena P. Silaban ini adalah bahwa keberadaan nyanyian menidurkan anak Dideng Dideng pada MBT saat ini sudah mulai sulit ditemukan. Ini terlihat dengan adanya pergeseran dan perubahan budaya yang dipengaruhi oleh mobilitas zaman yang cepat dan begitu sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial masyarakat. Kemajuan teknologi yang semakin merata baik di desa maupun di kota turut mempengaruhi keberlangsungan dideng pada MBT. Orangtua lebih suka memperdengarkan nyanyian-nyanyian atau musik-musik melalui media elektronik seperti CD, DVD, VCD, radio, dan media elektronik lainnya. Mereka cenderung lebih suka memperdengarkan musik-musik klasik, religi, dan lainnya yang diputar melalui audiovisual, atau media-media elektronik daripada Dideng Dideng dalam menidurkan anak.

Temuan selanjutnya adalah bahwa fungsi nyanyian menidurkan anak sebagai bentuk hiburan, alat pendidikan anak, alat pemaksa berlakunya norma-norma sosial, dan penguat ikatan persaudaraan, sedangkan fungsi nyanyian permainan anak masing-masing adalah sebagai bentuk hiburan, sebagai alat pendidikan anak, sebagai alat pemaksa berlakunya norma-norma sosial dan pengendali sosial, dan sebagai penguat ikatan persaudaraan. Makna nyanyian menidurkan anak adalah menghargai perjuangan ibu, sedangkan makna nyanyian permainan anak masing-masing tidak boleh rakus, menjaga kebersihan badan, kebersamaan, dan cinta lingkungan. Konteks nyanyian menidurkan anak dan nyanyian permainan anak ini adalah mengenai latar atau tempat berlangsungnya nyanyian anak tersebut, siapa yang melantunkan, siapa yang mendengarkan, bagaimana suasananya, serta bagaimana melakukannya. Nilai kearifan lokal yang terdapat pada nyanyian menidurkan anak adalah menghormati orang tua, menghormati kaum perempuan, sedangkan kearifan lokal nyanyian permainan anak masing-masing adalah saling berbagi, kesehatan, kerukunan bersaudara, serta cinta lingkungan.

Tulisan lengkap penelitian ini dapat anda baca pada http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/50691

Tentang Peneliti

Nama: Demak Magdalena P. Silaban

Tempat/Tgl Lahir Alamat: Lintongnihuta, 20 Desember 1982

Alamat : Jl. A.H Nasution No 73 A. Medan

Alamat Email : demakmagdalenaslbn@gmail.com

No. Telepon : 082160807652

Instansi Tempat Bekerja : AMIK MBP Medan

Riwayat Pendidikan

  1. Pascasarjana : Linguistik USU Medan
  2. S1 : Sastra Inggris USU Medan
  3. D3 : AMIK MBP Medan
  4. SMA : SMA Negeri 1 Lintongnihuta, Humbahas
  5. SMP : SMP Negeri 2 Lintongnihuta, Humbahas
  6. SD : SD Katolik Bintang Kejora, Lintongnihuta

 

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)