Meningkatkan Kualitas Berbasis Komunitas*

 circle-community-lnx_yhe15q 

Oleh Rudi Saragih

Buanglah pemikiran bahwa berkomunitas itu Ribet!

Komunitas itu ibarat langkah pertama setelah anda bangun pagi. Jika dalam pikiran anda itu susah maka ribetlah dalam komunitas. Jika dalam pikiran anda itu mudah, maka mudahlah dalam komunitas. Ingat! Penemuan-penemuan lahir dari komunitas. Riset-riset dilakukan dalam komunitas. Sekarang ini, sangat banyak komunitas yang kita temui. Komunitas penulis, komunitas riset, komunitas robot, komunitas musik, bahkan komunitas permainan (hobi), dan masih banyak lagi.

Dalam hal ini, komunitas yang kita bahas merupakan komunitas berskala kecil. Memang, jika menilik KBBI, komunitas merupakan kelompok organisme (orang dsb.) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu; masyarakat; paguyuban. Tergantung banyaknya anggota yang berpartisipasi penuh dalam komunitas tersebut.

Komunitas penulis merupakan fokus utama pada pembahasan kali ini. Banyak komunitas penulis yang lahir dan sudah menunjukkan eksistensinya. Komunitas-komunitas penulis Pelajar, mahasiswa, masyarakat umum tentunya sudah tidak asing lagi. Tidak perlu muluk-muluk mengartikan komunitas itu hanya seperti komunitas-komunitas besar seperti FLP, yang sekarang sudah meng-Indonesia. Di mulai dari hal yang kecil. Komunitas penulis yang berskala kecil tetapi terobosannya besar. Dengan anggota empat, lima, enam orang atau lebih.

Di Medan, ada berbagai komunitas penulis. Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK); Komunitas Tanpa nama (KONTAN); Win’s Sharing Club; Kompoi; Kopi Susu; KOMa; dan banyak lagi. Komunitas-komunitas ini memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas anggota. Dalam satu satu visi dan misi, orang-orang dalam sebuah komunitas saling memberikan manfaat dan saling memotivasi.

 

Ibaratkan anda sebagai menejer/kepala sekolah! Pilih Mana?

Ibaratkan anda seorang menejer dalam sebuah perusaan, atau anda seorang kepala sekolah. Lantas ada puluhan orang  yang datang membuat lamaran yang ditujukan pada instansi yang anda pimpin. Dari semuanya, hasil penyaringan ada tiga orang terbaik. Ketiganya dari program studi yang sama. Diantara mereka, anda harus pilih salah satu. Orang pertama, memiliki IPK 3,6; memiliki bukti karya-karya dari koran dan buku; memiliki pengalaman organisasi. Orang kedua, memiliki IPK 3,6; memiliki pengalaman organisasi. Orang ketiga, memiliki IPK 3,6; memiliki bukti karya-karya dari koran dan  buku; memiliki bukti (sertifikat) memenangkan beberapa lomba; memiliki pengalaman organisasi. Dalam melaksanakan tugas, tentunya andah harus melepaskan nepotisme. Sebagai seorang menejer/kepala sekolah, anda memilih orang yang mana? Memperhatikan syarat-syarat yang mereka bawa tersebut, orang ketiga merupakan orang yang lebih diyakini menjadi bawahan anda.

Sekarang kita balik. Ibaratkan anda salah satu dari ketiga orang di atas. Anda pilih yang mana? Jangan katakana memilih menjadi seorang sarjana yang hanya bisa menunjukkan ijazah tanpa ada hal lain yang membuat diri anda lebih dibandingkan orang lain. Itu sungguh disayangkan. Tentu orang ketiga tetap menjadi pilihan yang lebih OK. Lantas bagaimana caranya untuk menjadi seperti orang nomor tiga di atas?

 

 

Mengapa harus dengan komunitas?

Ada banyak keuntungan ketika bergabung dalam sebuah komunitas penulis. Tentunya keuntungan-keuntungan ini dikonsep dan diterapkan para anggota demi tercapainya tujuan yang telah dibuat bersama. Pertama, komunitas sebagai sumber motivasi. Percaya diri merupakan hal penting dalam berkarya dan mempublikasikan karya. Dorongan-dorongan para anggota bisa membuat seseorang menjadi berani dan percaya diri dengan karya yang dibuatnyan sendiri. Dengan motivasi yang tinggi, maka kemampuan-kemampuan menulis bisa teraktualisasikan/tergali. Selain itu karya-karya ‘dalam laci’ bisa mencuat ke ‘permukaan’. Kedua, komunitas sebagai fasilitator ilmu kepenulisan. Komunitas menjadi fasilitator ilmu kepenulisan bukanlah hal yang asing. Setiap komunitas tidak terlepas dari kegiatan pelatihan-pelatihan. Dalam mencari ilmu, (katakanlah untuk memanggi pemateri/ahli) akan berat rasanya, jika hanya seorang diri (tanpa komunitas) namun dengan adanya komunitas, semuanya sudah saling memudahan.

Ketiga, wadah diskusi. Dalam hal ini, para anggota komunitas pasti saling berdiskusi mengenai sesuatu karya atau perkembangan anggota. Ada kalanya seseorang kurang percaya dengan karyanya. Dengan adanya diskusi  solusi-solusi bisa mencuat dan siap diterapkan. Keempat, tempat bedah karya. Karya-karya yang disinyalir masih kurang kualitasnya dibedah secara tuntas dalam komunitas. Saran dan kritik teman yang lain sangat membantu dalam perbaikan karya. Kelima, wahana berbagi informasi. Berbagai jenis lomba menulis dan info-info terbitan karya dari koran bisa kita dapatkan dari teman satu komunitas. Tampaknya itu spele, tetapi hal tersebut merupakan penopang utama dalam mengaktualisasikan dan mempublikasikan karya. Itu juga membiasakan diri  tetap tahu informasi karya yang masuk dalam koran, majalah, buku dll. Keenam,  meningkatkan kemampuan berkreasi dan kemampuan berkomunikasi. Dalam kelompok, setiap anggota dituntut untuk berkreasi dan berkomunikasi antar sesame anggota. Semakin sering berkreasi maka semakin tinggi pula kemampuan yang dimiliki. Semakin sering berkomunkasi, semakin paham dengan cara dan teknik berkomunikasi dengan aktif dan positif.

Masih ada keuntungan lain seperti menambah teman, wahana rekreasi bersama, canda tawa bersama dan lain-lain.

Jika dibandingkan dengan pengembangan diri secara personal, pengembangan komunitas jauh memiliki manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Disadari, sebuah komunitas tidak terlepas dari kemampuan personal. Artinya sebuah komunitas ditentukan kualitas para anggotanya. Nah, dalam hal ini, kemampuan anggota ditopang oleh komunitas. Ada keterkaitan yang tidak terpisahkan.

Perlu dipahami bahwa kemampuan personal akan meningkat jika ada kemauan ikut aktif dalam komunitas. Pribadi-pribadi yang unggul akan menjadi pribadi yang lebih luar biasa jika tergabung dalam sebuah komunitas.

 

 

Ikut komunitas yang ada atau bentuk komunitas baru?

Membentuk komunitas penulis bukanlah hal yang sulit. Dengan berkumpul tiga, empat, lima atau lebih yang memiliki visi yang sama, membuat agenda, lantas melaksanakannya, itu sudah termasuk dalam komunitas. Namun menjaga keberlangsungan dan eksistensinya harus membutuhkan perhatian yang serius dari para anggotanya.

Ikut komunitas penulis yang sudah ada lebih asyik dan terarah. Dengan catatan, komunitas yang dimasuki sudah sesuai dengan keinginan. Jika anda masuk ke dalam komunitas yang sudah ada, maka tidak susah lagi memikirkan, mengelola, dan melaksanakan agenda yang dibuat. Biasanya anggota baru itu ‘dimanjakan’, diladeni dengan penuh perhatian. Anggota baru tinggal ‘menyantap sajian’ para senior. Dalam hal ini, kreasi anda secara penuh mungkin tidak dapat tersalurkan semuanya karena sudah ada senior yang mengkonsep kegiatan sedemikian rupa.

Pilihan ini tergantung pada peserta. Anda bebas dalam menentukan pilihan. Ikut komunitas yang ada atau bentuk komunitas yang baru. Semua itu tergantung dari visi dan misi yang anda emban dan cara mencapainya.

Jika ingin membentuk komunitas penulis yang baru, kumpulkanlah teman-teman yang memiliki kemauan yang sama; berdiskusi dan bicarakanlah kegiatan apa saja yang akan dilakukan; tentukan jadwal pelaksanaannya; pilih perangkat organisasinya; lalu laksanakan dengan konsisten. Itu saja dulu. Pada tahapan tingkat lanjut, komunitas membuat AD/ART, ketentuan-ketentuan, tatacara pelaksaan organisasi, atau sesuatu yang mengatur semua hal dalam komunitas.  Namun perlu ditekankan, merawat dan menjaga eksistensinya membutuhkan perhatian yang serius dan semangat. Jadilah perintis yang kreatif, inovatif, produktif dan peduli!

Jika ingin masuk bergabung  ke dalam komunitas penulis, lihat dulu visi dan misi komunitasnya, sesuaikan dengan kemauan; jumpai anggota dan mendaftarlah; ikutlah prosedur/kegiatan yang akan dibuat. Jadilah generasi yang produktif!

Pengelolaan komunitas penulis tidak jauh beda dengan pengelolaan organisasi lainya. Melalui perangkat organisasi, tujuan komunitas diraih bersama. Yang pasti partisipasi aktif seluruh anggota merupakan jantung keberlanjutan komunitas. Ketua, dan perangkat komunitas lainnya diminta untuk lebih agresif melakukan perbaikan-perbaikan serta inovasi-inovasi untuk meningkatkan peran dan kontribusi komunitas terhadap para anggota.

 

Jangan terkejut jika mengalami ini!

Saat-saat menjengkelkan melihat tingkah laku sesama anggota. Kadang ada timbul rasa jenuh. Ada timbul rasa kurang percaya diri. Kadang ada pula cemoohan dan berita yang kurang membuat anda tenang. Namun semua itu adalah khasanah dan ‘bumbu’ organisasi.

Perbedaan pendapat bukanlah hal yang jarang dalam sebuah komunitas penulis. Sedikit berdebat dan saling memperhankan pendapat. Tidak jarang pula teman menjadi berubah seketika, walau kadang kala itu hanya menurut pribadi seseorang. Teman tersebut pun tidak merasa kalau sifatnya sedikit berubah. Yang pasti, anda dibuatnya jengkel.  Padahal anda mungkin berpikir betapa baiknya perlakuan anda terhadapnya. Sebenarnya pada saat itu, sudah terpatok dalam pikiran bahwa apa yang anda harapkan dari dia tidak sesuai dengan apa yang anda dapatkan/inginkan.

Pertemanan dan pergaulan dalam komunitas memiliki ‘bumbu’ yang beraneka rasa. Senang, sedih, suka, duka, bahagia maupun malapetaka. Seperti sepasang kekasih yang selalu saling mengisi. Variasi serta selingan dalam pertemanan juga sangat perlu. Bayangkan jika semua berjalan baik-baik saja. Kita tidak akan tahu lagi apa yang sebenarnya. Kebaikan itu sangat bermanfaat untuk menjadi tolak ukur ketidakbaikan, sebaliknya, ketidakbaikan menjadi tolak ukur sebuah kebaikan.

Dalam komunitas, pergaulan yang terlihat secara kasat mata atau tidak menjadi titik tolak. Di balik itu semua ada hal yang masih harus diperhatikan. Memahami, peduli merupakan sebuah kewajiban yang tidak tertulis dalam komunitas. Ketahuilah sifat-sifat itu, semua itu adalah keunikan yang tersimpan di dalam diri manusia. Jangan menganggap itu sebagai sebuah ketidakberesan, jangan katakana itu ketidakberesannya, itulah keunikan setiap manusia, itulah keunikannya!

 

Manusia bersifat unik. Jangan emosi dulu! Ketahuilah keunikan itu sehingga kamu paham dengan seseorang dengan segala tindak tanduknya bahwa itulah keunikannya.

Semoga Bermanfaat!

 

 *Pernah disampaikan pada acara pelatihan komunitas di TBSU, 19 Mei 2013

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)