Maryam

Oleh: Afrion

Sejak suaminya meninggal, Maryam menjadi sendirian bekerja mengurus ladang karet, menderes getah, menyabit rumput liar dan mengumpulkan ranting-ranting membelah kayu seukuranyang bisa ia bawa pulang.

Menjelang sore, ia membakar daun-daun kering, mengikat ranting kayu bakar. Lalu mencelupkan keudua kakinya ke dalam parit, sambil membenahi bedeng dan mengorek tanah yang longsor menyumbat aliran air.

Meneruskan kerja suaminya, bukan pilihan yang mudah baginya. Kalau ia tidak mau mati kelaparan dengan wajah keriput dan tubuh kurus kering. Ia harus bekerja keras mencari nafkah untuk menyambung hidupnya. Ditinggal suami mati muda, hal yang tidak pernah disangka-sangka terjadi begitu cepat.

Bekerjalah ia memaksakan diri, mengurus pohon karet peninggalan suaminya. Sebagaimana kebanyakan perempuan di kampung itu, terbiasa membantu suami mengurus ladang-ladang mereka. Meskipun hanya mengerjakan pekerjaan sesuai dengan kemampuan tenaga, selebihnya, mereka akan mengurus anak-anak dan mengatur rumah tangga.

Di tengah pekerjaan menderes, ada saja lelaki lajang yang menawarkan tenaga. Para lelaki itu sesekali merayunya dan mengajak kawin. Telebih lagi Angku Gadang, mertuanya yang selama ini begitu mengasihnya. Saban hari ketika maryam selesai bekerja mengurus ladang pohon karet, menderes getah, menyambit rumput liar dan mengumpulkan ranting-ranting pohon di tengah ladang, Angku Gadang datang merayunya. Kalau tidak sekedar memberikan uang belanja sehari, ia akan membawa beberapa ikat kayu bakar.

Akan tetapi, dengan kelembutan dan keramahan Maryam, setiap kali Angku Gadang merayunya dan mengajaknya kawin, ia berusaha menolak dengan kata-kata yang santun agar lelaki itu tidak tersinggung.

“Kalau kau mau jadi istriku, tak perlu kau pergi menderes getah,” rayu Angku Gadang suatu ketika. ”hidup sendirian itu tidak baik untuk masa depanmu,” lanjutnya.

Menggigil tubuh Maryam mendengar perkataan Angku Gadang, apalagi ketika tangan Angku Gadang menyentuh bahunya. Tidak disangkanya, laki-laki yang selama ini menjadi mertua yang ia hormati, bahkan telah dianggapnya seperti orangtua kandungnya sendiri, kini berani terang-terangan mengajaknya kawin.

Apa kata penduduk kampung kalau tahu  ia kawin lagi dengan mertua sendiri? Tidakkah itu akan menyakitkan arwah suaminya? Alasan apapun yang dimaksudkan Angku Gadang menyikapi pandangan orang-orang sekampung, apakah ganti tikar atau menjaga kesinambungan hubungan keluarga, Maryam tetap menolak. Lagi pula, ia telah bertekad tidak akan kawin lagi.

Tangan Angku Gadang semakin berani memegang wajah, tangan, dan mengelus-elus rambut Maryam.

“Jangan kau takut Maryam, tak ada orang yang melihat,”

“Malu Pak!”

“Tidak, tidak ada yang melihat! Ayolah…..!

“Ah, jangan!”

“Tak ada yang melihat!”

“Tolong pak ! Jangan!”

“Ayoklah!”

“Aku tak mau!”

Angku Gadang semakin lama semakin nakal. Maryam berusaha menjauh, melompati parit, kemudian pura-pura menyabit rumput di pinggir jalan besar. Dengan demikian, jika Angku Gadang terus mendekatinya atau berniat melakukan sesuatu, ia akan mudah menjerit dan berlari sejauh mungkin ke ladang penduduk kampung terdekat.

“Ayolah Maryam, jangan terlalu kau pikirkan. Kalau kau telah menjadi istriku, akan kubelikan kau rumah yang baru,” rayu Angku Gadang.

“Aku tidak mau.”

“Kalau kau tidak mau, akan kuambil kembali tanah dan pohon karet anakku.”

“Itu milikku, kami beli bersama selama kami berumah tangga.”

“Tanah yang kalian beli beserta pohon karet itu, selain namaku, tidak sebaris kalimatpun mencantumkan nama suamimu.”

“Itu milik suamiku.”

“suamimu membelinya dariku tanpa surat-surat.”

Kalau bukan karena mertua, sudah diludahinya muka Angku Gadang. Tapi untunglah ia segera sadar mengahdapi laki-laki seperti itu, harus pandai memutar haluan. Tidak melawan dan juga tidak memberi harapan. Nafsu laki-laki makin dibendung akan semakin memberontak.

Begitu Maryam melihat Nek Suti di ujung jalan melewati jalan setapak, Maryam pura-pura batuk, diraihnya termos minuman yang terselip di pinggang. Pelan kakinya menyusuri jalan mendekati Nek Suti, memanggilnya dengan mengacungkan parang. Nek Suti berdiri menunggu Maryam.

Setengah berlari Maryam mempercepat langkahnya. Sampai ia merasa aman dan jauh dari Angku Gadang. Sebaliknya, dengan perasaan dongkol Angku gadang menjauh meninggalkan Maryam bersama Nek suti menuju ke arah lain. Maryam menarik nafas, untuk kali ini selamatlah ia dari perlakuan Angku Gadang yang kasar.

Tidak hanya Angku Gadang, banyak laki-laki lain yang datang ke ladangnya. Ada saja cara mereka menarik simpati Maryam. Kadang sekedar bercakap-cakap, terkadang menawarkan jasa menjualkan getah dengan harga lebih tinggi. Padahal, ketika suami masih hidup, tidak ada satu orang pun dari mereka yang datang menawarkan jasa, apalagi berani menggoda dan bercanda dengannya.

Bagi siapa yang berani menggangu Maryam, akan segera menerima akibatnya. Kalau tidak disabet dengan parang, pasti akan dikejar seperti mengejar maling, sampai orang yang lari dikejarnya itu kehabisan napas dan meminta ampun. Suaminya akan menghajar habis-habisan, ukurannya kalau tidak dipisah oleh orang kampung pasti matilah orang yang telah mengganggunya itu.

***

Kini lepas setahun kematian suami, para lelaki itu seakan lega. Mereka lebih leluasa mendekati Maryam, tanpa rasa takut dikejar atau dihajar sampai babak belur. Nek suti satu-satunya orang yang marah jika ada laki-laki datang berkunjung ke rumah Maryam. Meski tidak semarah suaminnya, namun cukuplah sekedar membuat orang berpikir dua kali untuk datang, apalagi dengan niat yang tidak baik.

“Jangan sembarangan menerima orang! Apalagi yang namanya laki-laki, tidak baik dilihat tetangga! Laki-laki kalau tidak dikasih hati, makin lama makin nelonjak,” ujar Nek Suti menasehati.

“Mereka saja yang mata keranjang, Nek” jawab Maryam datar.

“Makanya kau secepatnya kawin, biar mereka itu tidak datang-datang lagi.”

“Aku telah bersumpah, Nek.”

“Benar kau tidak akan kawin lagi.”

“Ya.”

“Kenapa? Kaukan masih muda.”

“Kawin tidak menjadikan aku bisa sebebas sekarang ini.”

“Sampai kapan.”

“Sampai kapanpun.”

Sedih hati Nek Suti menerima keputusan Maryam. Tubuh perempuan yang berdiri di hadapannya itu, seakan diliputi dendam yang panjang. Sebenarnya kalau tidak karena paksaan orang tua, Maryam tidak mau kawin di usia muda.

Kala itu usia Maryam baru 15 tahun. Kebanyakan orang tua di kampung itu memang ketakutan kalau anak gadisnya jadi perawan tua. Padahal jodoh tidak bisa dipaksakan. Ibarat buah mentah yang masak dikarbid, manisnya akan lain jika dibandingkan dengan buah yang masak di pohon.

Begitu cepat ia menikah, hingga tak ada kesempatan baginya menikmati masa gadis. Hidup sendiri bagi Maryam tidaklah mengenakkan. Tetapi siapa yang bisa menjamin dirinya bisa sebebas sekarang ini. dibandingkan dulu ketika suami masih hidup, banyak hal yang membuat ia dicekam ketakutan. Setiap kali suami pulang dari menderes getah, ia akan selalu dimarahi, dicurigai, bahkan sering menerima tamparan kalau ia membantah.

Sesungguhnya, keramahan Maryam kepada semua orang telah disalah artikan. Baik oleh suaminya sendiri maupun kebanyakan lelaki di kampung itu. Bukan main gundah perasaannya, kadang harus berdiam diri seharian di rumah. Membuat dirinya merasa terkungkung. Maka itu, setiap hari menjelang siang, Maryam pergi ke ladang mengantarkan makanan untuk suami. Sesekali ia ikut menderes getah sambil mengumpulkan kayu bakar untuk dibawa pulang.

***

Sudah bulat hati Maryam untuk hidup sendiri dan memutuskan tidak kawin, sampai kapanpun. Meski ia kadang gemetar membayangkan waktu yang panjang, menderes getah, menggurat-gurat bayang membuat jalur parit getah putih itu kemudian mengucur ditampung mangkuk. Lalu sambil menunggu mangkuk itu penuh, ia menyabit rumput liar di sekitar batang pohon. Menjelang sore, getah yang dideres itu dikumpulkan dalam satu ember plastik besar.

Tidak terbayang olehnya akan bekerja sepenuh waktu, seharian mengerjakan ladang, membuka hutan liar dan menanam bibit pohon karet yang baru. Padahal dulu ketika suami masih hidup, ia paling hanya sesekali ikut. Itu pun jika banyak peralatan yang akan dibawa. Kerjanya hanya menyiapkan makanan atau menyelupkan kaki ke parit kecil sambil membersihkan sampah yang menyumbat aliran air. Tanpa sengaja, ketika matanya menangkap seekor ikan menyembul ke permukaan air, ia segera mengejar dan menangkapnya. Ikan itu dibakar lalu dimakan bersama suaminya.

Tapi kini, setelah lima tahun ia hidup sendiri, Angku Gadang tetap memaksa Maryam agar mau menjadi istrinya. Selain rumah baru, Angku Gadang akan memberi 8 hektar lagi tanah untuk Maryam.

“Aku tidak punyak anak lagi, Maryam. Aku punya tanah yang banyak dan aku ingin mewariskanya untuk keturunanku, untukmu juga.”

“Masih banyak perempuan lain, Pak! Kenapa harus saya!”

“Karena hanya kau yang kuinginkan, yang lain tidak. Lagi pula, karena kematian suamimu, hubungan keluarga kita telah terputus.”

“Aku tidak mau kawin, Pak!”

“Harus Maryam, kau harus mau.”

“Tidak!”

“Kalau kau tidak mau, kembalikan tanah anakku!”

Gemetar Maryam mendengar ucapan Angku Gadang. Sekian detik tubuhnya menggigil. Wajah memucat, bagai tak ada darah mengairi urat nadinya. Tenggorakan seperti dicekik puluhan makhluk.

Ada saja yang ia takuti, bila matanya bertumbukan dengan deretan batang pohon karet. Tidak ada kesanggupanya melihat hamparan luas ladang yang dibelah parit kecil, yang di dalamnya mengalir air menuju sungai Batubelah.

Angku Gadang yang begitu dibencinya sekarang ini. datang merayu dan mengancamnya. Ia menjerit menghindari tingkah Angku Gadang yang berlutut di kakinya. Maryam hampir terjatuh ketika Angku Gadang menarik kedua kakinya, namun secepat itu ia menghujamkan pisau deres hingga melukai wajah lelaki durjana itu.

Angku Gadang membalas menampar wajah Maryam, memukul dan menghajarnya, sampai Maryam terjerembab ke tanah. Tak berdaya.

“Aku tidak mau kalau kau kawin dengan laki-laki lain, Maryam!”

“Aku tidak akan kawin, Pak! Tidak akan kawin dengan siapa pun!”

“Lima tahun aku menunggu, sekarang kesabaranku sudah habis!”

“Malu pak! Aku malu! Jangan paksa aku kawin dengan mertuaku sendiri”

“Ah! Persetan dengan mertua.”

“Ambilah tanah dan ladang itu, tapi jangan paksa aku, jangan pukul aku lagi, Pak.”

“Aku kasihan melihatmu, Maryam! Aku hanya mau melindungimu. Kawinlah denganku, aku akan senang, akan bahagia.”

Angku Gadang mengangkat tubuh Maryam, lalu tubuh yang tak berdaya itu dipeluknya kuat-kuat seakan tidak mau ia lepaskan. Maryam membiarkan saja Angku Gadang melakukan sesuka hati, membelai rambut, menghapus airmatanya. Tak ada daya lagi bagi Maryam melawan.

Seterusnya, ketika Angku Gadang mulai nakal, Maryam menggeliat menghentakkan tubuhnya. Maka lepaslah ia dari pelukan laki-laki itu. Menghindar, berlari menjahui. Angku Gadang mengejar, namun dengan cepat Maryam menarik parang dari pinggangnya. Begitu Angku Gadang mendekat, diayunkannya parang sampai mengenai tangan lelaki itu. Hilang pikiran Maryam, pandangannya gelap.

Dengan membabi buta parang itu dihujamkan ke tubuh Angku Gadang, berkali-kali sampai lelaki durjana itu terjerembab ke tanah, lunglai bersimbah darah. Melihat tubuh Angku Gadang tak bergerak, Maryam sadar, ia kebingungan sendiri. Melihat ke kanan-kiri, tak satu pun dilihatnya orang kampung melintas. Ia juga tidak melihat Nek Suti melintasi jalan setapak.

Maryam terduduk lemas, bersandar di batang pohon karet. Pikirannya menerawang jauh. Antara perasaan bersalah dan dosanya menghujamkan parang ke tubuh Angku Gadang, sudah matikah ia?

Sekian lama ia menatap tubuh bersimbah darah itu, semakin tak menentu pikirannya. Maryam berteriak sekuat tenaga, memanggil nenek Suti, memanggil orang-orang kampung. Namun tak ada satu orang pun yang datang dan mendengar jeritannya. Terus ia berteriak, sampai serak suaranya, sampai ia lemas tak berdaya.

*Cerpen ini adalah salah satu dari 8 cerpen yang termuat dalam buku Kumpulan Lelaki Bukan Pilihan (Star Indonesia Group, 2006: 76-87)

Tentang Penulis

Selain dikenal sebagai seorang sastrawan, ia juga aktif menekuni seni teater. Hijrah ke Jakarta (1987) bergabung mengikuti latihan di bengkel teater Rendra dan mendapat kesempatan dalam lakon “The Ritual of Solomons Children” di New York International Festival of The Art.

Membentuk Genta Enterprise bersama Ali Jauhari Productions (1989). Mengundang Bengkel Teater Rendra, Teater Kecil Arifin C Noer, Ikranagara, dan N. Riantiarno bersama Teater Koma Jakarta.

Membentuk teater Blok (1984). Naskah dramanya antara lain  Orang-Orang Tercecer (1985), Orang-orang Terasing (1986), Dialog Batin (1987), Monolog Orang-Orang Tercecer (1986), Di Ujung Malam (2002-2003), Huma (2003), Monolog Tanah Negeri dan Semak Kuburan (2004)

Karya yang telah diterbitkan, kumpulan puisi Gelombang (Kencana Ungu Medan, 1985), Sangsi (Sinar Agung Medan, 1987), Nyanyian Jiwa (Politeknik Negeri Medan, 2003), Waktu Beku (Laboratorium Sastra Medan, 2004), Parade Teater Sekolah (Dewan Kesenian Medan, 2005), Amuk Gelombang (Star Indonesia Grup, 2005), Jelajah (Valentino Grup. 2006).

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)