Yayasan Pusat Kajian dan Dokumentasi Sumatera, Wisata Sastra Berbasis Kebudayaan Lokal

Oleh: Mawardah

“Sejujurnya, gagasan membuat pusat kajian dan dokumentasi Sumatera Utara ini berawal dari panggilan hati nurani. Jiwa tergugah untuk menjaga warisan kepustakaan yang mengangkat topik bahasa dan budaya Sumatera Utara untuk generasi mendatang,” ujar Jhon Fawer Siahaan selaku salah satu pelopor berdirinya Yayasan Pusat Kajian dan Dokumentasi Sumatera Indonesia.

Sejenak keadaan hening. Ada keharuan yang begitu kental di wajah Jhon Fawer, seperti sedang menghimpun segala kenang tentang bagaimana perjuangannya mengumpukan buku-buku langka bertemakan sejarah antara lain, buku Tuanku Rao, Bukit Kadir, Ahu Sisingamagaraja, Di Bawah Bendera Revolusi, Sejarah Kemerdekaan Sumatera, Toba Na Tae, Sejarah Batak, Raja Batak, hingga A Traves Sumatera.

“Saat menyelesaikan tugas akhir mengenai sejarah opera batak di tahun 2010, saya kesulitan dapat buku referensi. Termasuk di perpustakaan Universitas Nomensen juga. Untuk itu saya mau mengumpulkan berbagai kajian dan dokumentasi Sumatera dalam bentuk Yayasan,” ujar alumni Pendidikan Sejarah Unimed ini.

Tahun 2010, Jhon Fawer pun mulai menggagas ide kreatif dalam melakukan pendokumentasian buku-buku sejarah yang ada di Sumatera Utara yang dinamai dengan Literasi Sumatera. Sementara, secara kelembagaan dinamai dengan Yayasan Pusat Kajian dan Dokumentasi Sumatera Utara yang tujuannya untuk menerbitkan buku indie. Hal ini diinginkan pula, untuk mengajak kawan-kawan bagaimana menuliskan buku dan literasi yang berkaitan dengan Sumatera kembali. Sehingga, kedepannya nanti literasi-literasi mengenai sejarah lokal semakin banyak.

“Sekitar 500 buku koleksi. Buku-buku ini saya beli di toko buku bekas, toko buku online Yogyakarta, Surabaya, dan lain-lain. Ada hal unik waktu mengoleksi buku langka. Harga buku cukup mahal mulai dari Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta. Jadi saya telpon teman-teman yang kebetulan punya hobi koleksi sama seperti saya dan kebetulan mereka tinggal di Brunei Darusalam dan Jerman. Mereka kirim uang kepada saya, jadi buku saya beli dan langsung saya fotocopy dan asli saya kirim ke mereka dan atas dasar itu pula membuat saya merasa tergerak menerbitkan buku kumpulan puisi tentang danau Toba meski secara indie.”

Salah satu yang melandasi keinginannyaa mengumpulkan literasi-literasi akibat banyak kegiatan penelitian maupun seni pertunjukkan yang mengusung kearifan lokal dan membutuhkan referensi buku-buku mengenai budaya lokal di sumatera ini sangatlah minim. Sehingga hati nuraninya terpanggil untuk menunjukkan ‘Akulah Anak Sumatera, Kalau Kau Tak Paham Baca Saja Literasi Sumatera.”

Ya! Tujuan mendirikan Yayasan Pusat Kajian dan Dokumentasi Sumatera Utara tersebut, agar adanya sebuah perpustakaan khusus utuk belajar tentang Sumatera Utara. Kegiatan pendokumentasian buku-buku kebudayaan lokal dilakukannya terinspirasi salah satu tokoh sastra Indonesia Taufiq Ismail yang mendirikan rumah puisi. Lebih lanjut Jhon Fawer menuturkan, gerakan literasi dan kebudayaan termasuk sejarah kesusasteraan di Sumatera Utara sangatlah minim. Padahal Kota Medan, merupakan salah satu penyumbang dalam bidang budaya dan sastra sekaligus melahirkan dasar-dasar kebangasaaan indonesia, seperti yang sastrawan Chairil Anwar, Sanusi Pane, Amir Hamzah, dan Iwan Simatupang. Kemudian pahlawan Indonesia, seperti William Iskandar, Syahril, Adam Malik, M.Yamin, dan Amir Syarifuddin. Jika dilihat orang-orang Sumatera utara seolah-olah untuk memikirkan hal itu kurang semangat dalam mengenal tokoh-tokoh dari daerahnya.

Hingga saat ini, jumlah buku yang terdapat di Perpustakaan Yayasan Pusat Kajian dan Dokumentasi Sumatera Utara yang berada di Jalan Sisingamangaraja No. 132 Medan sekitar 400 sampai 500 buku. Selain Jhon fawer, ada beberapa pelopor yang mendirikan perpustakaan ini yakni Dr. Jhon Robek selaku penyedia tempat, serta Yurina Nasution, Srivani, dan Elva Harahap selaku relawan. Saat ditanya perihal sumber dana, Jhon Fawer menuturkan saat ini memakai uang pribadi. Namun ada juga beberapa penyumbang buku dari luar. Harapannya, selain di Medan, perpustakaan serupa bisa didirikan di Balige atau Danau Toba

Jadi, tunggu apalagi. Kalau mau petualangan seru melalui ‘rekreasi membaca buku’ datang saja ke Yayasan Pusat Kajian dan Dokumentasi Sumatera Utara, karena inilah tempat wisata sastra yang akan membuatmu semakin mencintai kebudayaan lokal yang ada di Sumatera Utara.

Penulis adalah mahasiswa semester 5 jurusan sastra Indonesia Universitas Negeri Medan.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)