Yang Menjandakanku Bukan Kepergianmu

Puisi Febri Mira Rizki

Ranting telah menggantikan alis di pelipis sebagai payung. Semisal rinai mengejar tubuh, maka rantingpun hilang seperti pecundang yang kita anggap musuh. Berdikari ini kutempah meski diterpa angin. Sempoyongan hanya numpang lewat saja. Apakah aku kuat atau malah sekarat? Beberapa hari jejak yang kuayun berbalik arah, ranting telah lapuk dan patah. Kini tebasan daun pisang melambai diingatan. Hijau pupusnya pernah warnai musim cinta kita. Entahlah, jalan itu kian jauh, titik buntu dan lorong waktu tak memberi pintu, sementara daun pisang telah layu! Kini kuangkat selendang abu yang kau kalungkan di leherku dahulu. Sungguh hanya menutup kepala dan tubuh ini tetap kuyup. Mengapa kau pergi tanpa meninggalkan butuh yang senantiasa kau suguh?

Kamar tiga kali dua, Agustus 2016

Febri Mira Rizki, lahir di Lhokseumawe 09 Februari 1990. Anak pertama dari Bapak Soemady dan Almarhumah Ibu Maimunah ini menyelesaikan kuliahnya di FKIP/UMSU (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Bergiat di Komunitas Kompak (Komunitas penulis anak kampus) sebagai Dewan Ahli. Buku solonya berjudul “Senarai Hati”. Di tahun 2012 Ia mendapat WSC AWARD sebagai Penulis Puisi Terproduktif dan Penulis Buku Terproduktif. FB: Febri Mira Rizki. E-mail: febrimirarizkisastra@gmail.com No.Hp: 0852-6111-5852.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)