Yang Menangis di Balik Pelaminan

Cerpen Alda Muhsi

Setelah acara pertunangan selesai digelar dan waktu untuk melangsungkan pernikahan disepakati, mereka berdua dan keluarga masing-masing sibuk mempersiapkan segalanya. Mulai dari pakaian-pakaian yang akan dikenakan nantinya hingga seperti apa dekorasi. Sesuai mufakat, resepsi pernikahan akan berlangsung di halaman rumah mempelai wanita, dengan memakan sedikit badan jalan. Soal perijinan tentu saja sudah diatur dengan sedikit menggelontorkan uang untuk si kepala lingkungan. Agar kepalanya keras sewaktu menjaga keamanan saat pesta berlangsung.

“Jadi ketika akad nikah kau dan calonmu itu akan memakai baju adat Aceh. Lalu setelah tepung tawar selesai barulah kalian pakai baju bebas seperti yang kau mau.”

“Memangnya harus pakai baju adat, Yah?”

“Kau ini seperti tak punya suku saja. Negeri kita bertabur suku budaya, siapa bisa menyangka kau bersuku apa. Makanya perkawinan memakai baju adat ini akan mengenalkan sosokmu ke hadapan khalayak bahwa kau bersuku Aceh, keturunan raja.”

“Bukannya dengan adanya nama Teuku di depan namaku sudah memberikan identitas itu?”

“Nah, justru itu apa nanti kata orang, keturuan Teuku mengadakan pesta pernikahan tak pakai pakaian adat. Tak nampak tradisi sama sekali. Sudah mengkhianati raja.”

“Mungkin sampai segitunya, Yah? Kita sudah jauh meninggalkan jaman kerajaan, sekarang kita telah berada di jaman kepresidenan, Ayah! Lagipula ini kan bukan di Aceh, pasti tak ada yang mencibir seperti yang ayah takutkan.”

“Ah, kamu ini sudah mau nikah saja masih tetap susah diatur. Sebelum kau meninggalkan ayah dan ikut suamimu tolong penuhi permintaan ayah ini. Ayah tetap harus menjaga tradisi.”

Teuku Mutia diam. Barangkali sedang berpikir untuk membantah pernyataan ayahnya itu. Memang ayahnya adalah orang yang sangat menjunjung tinggi nilai tradisi. Ia takut budaya yang ada harus sirna dimakan kemajuan jaman. Sejak kepindahannya ke kota Medan ini perasaan prihatin itu tiba-tiba muncul di benaknya. Ia tak tahu lagi budaya yang tertinggal di kota yang tengah mencari jati diri. Yang ia tahu Medan adalah kota yang mewarisi kerajaan melayu, tapi kini perlahan-lahan telah habis dikikis modernisasi.

“Mutia, kau adalah anak ayah satu-satunya, tidakkah kau ingin membahagiakan satu-satunya ayah bagimu ini?”

“Mutia, apa salahnya kau turuti permintaan ayahmu, setelah menikah nanti belum tentu ayah dapat meminta sesuatu darimu.” Sela ibunya.

“Ayah sudah menelepon Pak Rahim agar datang kemari untuk membikin pelaminannya.” Sambung ayahnya lagi.

“Apa? Pelaminannya juga pakai adat Aceh?” Mutia sangat terkejut dan ia merasa terpukul mendengar perkataan ayahnya barusan. “Oh Ayah, kenapa tak pernah kompromi tentang acara pernikahanku ini?”

“Pelaminannya akan dibuat dua, satu lagi bisa dijadikan alternatif untuk berfoto. Kau kan tahu pelaminan Aceh itu tak begitu lebar untuk menampung segerombol orang untuk berfoto.”

Kau dapat membayangkan seorang yang bernama Teuku Mutia, yang berwajah manis hidung bangir mata hitam pekat dan rambut agak cokelat, yang ketika memandangnya orang-orang tak akan berkedip. Saat itu wajahnya berubah begitu pahit. Aku baru sekali melihat wajahnya seperti itu.

***

Akad nikah berjalan lancar. Disusul acara tepung tawar dari keluarga besar satu per satu tanpa ada yang tertinggal. Sebelum dipersilakan makan, kedua pengantin, kaum kerabat dan para tamu disuguhkan penampilan tari Saman.

“Tari ini merupakan tarian syukur kita kehadirat Allah yang masih memberi kita napas untuk berkumpul dalam acara besar ini. Semoga kedua mempelai dapat selalu menjaga nilai-nilai agama dalam membangun keluarga nanti. Dan juga semoga kekompakan keduanya tetap terjaga seperti yang digambarkan tarian ini.”

Sepanjang acara kedua mempelai tak pernah terlihat duduk di pelaminan khas Aceh yang telah susah payah dibuat, yang memakan waktu berhari-hari merancangnya, yang mendatangkan perancang khusus dari Aceh. Orang tua mempelai wanita yang bersuku Aceh tak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya geleng kepala dan menyayangkan mengapa jadinya seperti ini. Tapi itu hanya berlangsung sebentar saja. Seketika pikiran dan hatinya berubah, ia berpikir ini hari bahagia tak pantas jika dilunturkan dengan perkara yang tak semestinya ada.

Rombongan tamu bergantian menghanturkan ribuan kata selamat. Doa-doa yang terucap diaminkannya dengan sigap.

Memang seperti itulah pernikahan beda suku. Beda adat istiadat, apa lagi jika salah satu di antaranya menjunjung tinggi budaya leluhur dan yang satu mengganggap tradisi hanyalah penghias kehidupan semata.

Siapa saja yang menyaksikan pesta pernikahan itu akan takjub. Lampu-lampu yang menghias bersinar terang ditambah lagi mata kedua pengantin, para keluarga, tamu undangan, yang terus memancarkan cahaya tanpa henti. Serupa gemerlapan bintang di langit yang berhamburan. Tapi ketika kau melihat ke kamar, kau akan menemukan seseorang yang tersedu menahan tangis. Isaknya sendu. Ia adalah Pak Rahim. Pak Rahim adalah orang yang merancang pelaminan itu. pelaminan yang hanya dipakai pada saat tepung tawar. Coba kau tebak berapa lama Pak Rahim membangunnya. Bukan cuma satu atau dua hari, Pak Karim butuh waktu satu minggu mulai dari mempersiapkan beberapa batang kayu, memotongnya hingga membangun rangka, dan yang terakhir menghias dengan kain penuh ukiran-ukiran. Ia merasa bersalah. Ia sangat menyesal dengan semua ini. malam itu ia bertekad ketika pesta selesai digelar, ia akan segera membongkar pelaminan itu dan membawanya pulang. Ia juga bertekad tak ingin dibayar.

Pak Rahim tak lagi melihat warna-warni yang indah di hadapannya. Segala riuh dan haru di pesta itu tak terdengar di pangkal telinganya. Ia hanya melihat cahaya hitam, yang seolah-olah semakin mendekati dan menutupi bolamatanya.

Aku masih ingat percakapan itu dengan jelas. Aku juga turut membantu Pak Rahim saat membangun pelaminan itu, walau hanya sesekali memanjat, merekatkan kain ke rangka yang tinggi yang tak dapat dijangkau Pak Rahim. Tentu saja aku mengenakan tangga waktu itu. Kemudian membalut bantal dengan kainnya dan menyusunnya pada kedua sisi.

“Coba lihat ketika sudah selesai dibangun nanti, pelaminan ini sangat indah. Kau tahu kan, setiap tradisi pasti mempunyai makna sendiri?”

Aku mengangguk pelan. Saat itu kami sedang istirahat sambil minum kopi dan mengisap rokok di hadapan pelaminan yang sedang dikerjakan.

“Nah, begitu pula dengan pelaminan ini, tiap bagian punya makna yang berbeda-beda. Begitu juga dengan warna-warna yang ada. Bukan cuma pilihan semata, setiap warna juga memiliki arti. Coba lihat warna tiree yang menjadi latar belakang pelaminan itu, ada empat warna yang melambangkan status sosial masyarakat tradisional Aceh. Kuning melambangkan raja, merah sebagai hulubalang atau dikenal panglima, hijau sebagai ulama, dan hitam adalah rakyat jelata. Perpaduan keempat warna tersebut melambangkan persatuan dan kesatuan masyarakat dalam menjalankan acara-acara tradisi. Begitulah, mulai dari raja hingga rakyat jelata dapat berkumpul dalam sebuah acara perkawinan ini.”

Pak Rahim menjelaskan dengan sedikit tersedu. Tak dapat menahan air mata yang terus memberontak keluar, akhirnya tangis itu jatuh membanjiri wajahnya. Aku kikuk dan coba berpaling.

Aku tak pernah paham alasan Teuku Mutia tak ingin menggelar pesta pernikahan yang diwarnai tradisi itu. Mungkin Mutia malu harus mengenakan pakaian dan pelaminan adat. Barangkali itu tak sesuai yang diimpikannya selama ini. Barangkali itu bukanlah pesta pernikahan idamannya. Barangkali ia menginginkan pesta pernikahan seperti pangeran William dan Kate Middleton yang digelar di istana besar. Tanpa pernah disadarinya makna tradisi yang digelar itu. Mungkin mimpi-mimpi Teuku Mutia yang terlalu besar dan ia tak pernah sadar kalau sudah sepantasnya ia mengalah dan mengubur mimpi-mimpi itu. Karena mengingat bahwa suaminya hanyalah seorang pedagang batu akik di perempatan jalan Sunggal.

Medan, Agustus 2016

Alda Muhsi, lelaki kelahiran Medan, 1993. Telah menamatkan pendidikan di Universitas Negeri Medan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Tinggal di Jalan Amaliun No. 152 Medan. Penyuka puisi dan cerpen. Puisinya pernah dipublikasikan di Harian Waspada, Analisa, Medan Bisnis, Jurnal Masterpoem, dan Media Indonesia. Dan Cerpennya pernah dipublikasikan di Harian Waspada, Analisa, Medan Bisnis, Republika, Suara Merdeka, dan Banjarmasin Post. Buku kumpulan cerpennya, Empat Mata yang Mengikat Dua Waktu (Ganding Pustaka, 2016).
No. HP 085371783262

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)