Yang Lahir dari Kegelapan

Cerpen Alda Muhsi

1)

Aku merasakan saat ini sangat jauh tertinggal. Ketika diam orang-orang yang terus bergerak akhirnya meninggalkanku sendiri di belakang. Tak ada cahaya yang dapat menerangi jalanku. Dunia rasanya berubah menjadi malam. Saban hari tanpa ada satu pun bintang dan bulan yang berputar di langit. Seperti banyak legenda akhirnya aku terkubur dalam timbunan ranting-ranting di tengah rimba dan terbangun di lubang bawah tanah sebuah gedung tinggi.

“Ini tahun berapa?”

“Tahun 1983, Tuan.”

“Apa?”

“Tahun 1983, Tuan.”

Aku tak dapat mendengar dengan jelas suara pemuda yang kutanyakan itu. Samar-samar terdengar sembilan belas delapan tiga, semoga saja tak salah. Itu artinya sudah 70 tahun aku tertanam di bawah tanah hutan yang penuh ranting. Dan aku tak tahu tepatnya kapan dan bagaimana caranya berpindah ke goa bawah tanah sebuah istana.

Aku coba keluar dari kaki bangunan itu dengan merangkak setelah melihat cahaya putih suci seperti yang terpancar dari pintu surga. Dengan langkah gontai pelan-pelan kukayuh kaki mungil yang penuh debu mencari sumber cahaya itu. Tak lama lantunan adzan terdengar indah dan merdu di gendang telingaku. Membuat seluruh tubuhku bergetar.

Di samping kamar mandi ada kaca dan sisir yang tergantung. Aku segera meraihnya setelah beberapa kali membasuh muka. Alangkah terkejut ketika kutatap mataku sendiri di dalam cermin. Kulit wajahku tak berubah sama sekali seperti 70 tahun lalu.
Aku mendengar orang-orang berteriak ketika melihatku lahir dari buaian cahaya itu.

“Kini dia tiba!”

“Alhamdulillah….”

“Sudah saatnya!”

Meugang… meugang… meugang….

Kemudian orang-orang saling memadati lapangan yang sudah diisi lebih dulu oleh beberapa ekor sapi dan pendekar penyembelihnya. Mereka berlarian berlomba-lomba mencari tempat untuk dapat melihat langsung dengan terang.

Sebelum para pendekar itu memulai aksinya aku dituntun seorang pemuda berbadan kekar menuju sebuah podium lengkap dengan mikropon dan pengeras suara. Tak lupa pula ia menyelipkan selembar kertas yang berisi tulisan-tulisan entah siapa, yang mesti kubaca di depan khalayak. Seperti pidato kerajaan, kupikir diriku gagah sekali waktu itu.

“Dalam menyambut bulan puasa dua hari ke depan semoga kita tetap istiqomah menjalankan syariat-Nya, hari ini kita akan memulai tradisi turun-temurun leluhur kita, yaitu Meugang. Semoga acara ini berjalan lancar dan tentunya diridhoi Allah….”

Meugang… meugang… meugang….” seru ribuan warga yang berkumpul.

Aku jadi ingat, tradisi meugang tak jauh berbeda dengan perayaan hari raya kurban. Inti acaranya adalah penyembelihan sapi atau lembu yang dagingnya dibagi-bagikan kepada warga agar dapat dimakan bersama keluarga di rumah. Lalu mereka yang berkumpul di lapangan itu juga akan disuguhkan daging sembelihan yang sudah dimasak. Makan besar seperti itulah yang akan mempererat persaudaraan antar sesama. Bedanya dengan hari raya kurban terletak pada waktu pelaksanaan. Meugang biasanya dilaksanakan tiga kali dalam setahun, dua hari sebelum bulan puasa tiba, dua hari sebelum hari raya idul fitri, dan dua hari sebelum hari raya kurban.

Prosesi satu per satu pun dijalankan dengan khidmat. Kemeriahan takbir berkumandang ke angkasa mewarnai biru langit cerah, seolah-olah ribuan malaikat membendung awan-awan hitam agar tak berkerumun di atas lapangan itu.

Penyembelihan dan pemotongan telah terlaksana dengan baik. Setelah ditumpuk-tumpuk menjadi beberapa bagian lalu daging-daging tersebut dibagikan untuk seluruh warga yang hadir di sana. Mereka berbaris rapi menanti giliran. Sebagian pelaksana telah menyediakan bumbu-bumbu untuk segera memasak bagian daging para pekerja. Semuanya makan bersama-sama. Semuanya merasa bahagia. Memang beginilah seharusnya dalam menyambut kedatangan bulan suci.

Tak ada wajah kusam yang terpancar. Rona-rona indah menghias begitu berwarna terbias dari mata-mata mereka. Aku tahu Tuhan sedang melihat, dan semoga Ia senantiasa melimpahkan rahmatnya di kota ini.

2)

Kutelusuri pagi yang dingin. Udara membawaku melayang di antara awan-awan putih yang halus. Seperti peri pengantar embun kepada daun-daun yang merebah di pangkal tangkai, aku adalah pemilik pagi yang dirindukan. Napas waktu yang meremajakan paru-paru ketika kau menghirupnya. Aku melihat wajahmu betapa kusam sembunyi di bawah beringin besar yang kering. Seperti sedang memanen masalah. Matamu mengepulkan tanda-tanda duka, yang terkandung di kelopaknya. Hitam serupa bola mata langit ketika menertawai kedukaanmu. Mencemooh ratapan.

Ketika malam kau diharuskan menanggalkan gelisah pada butir-butir air yang jatuh, menyelinap di balik bantal, dan esoknya mengering. Kau kembali bangun tanpa dosa, tanpa salah, tanpa dendam. Kau adalah bayi yang menangis sambil ngompol di ranjang. Bayi yang tak pernah berharap digendong di tangan ayah dan ibu yang kasar. Namun harapan itu justru tak pernah menjadi nyata. Kau tak pernah dipangku sepasang tangan, kau merebah di jantung bumi yang sedang berguncang, melebihi riuh perang, yang merampas kedua orang tuamu. Kemudian akulah orang yang terdampar atau sengaja didamparkan ke hadapanmu. Seorang yang akan membasuh wajahmu ketika lelah. Membelai kepalamu sepanjang malam. Dan menemanimu menghabisi rentang waktu yang diberikan.

Hingga tumbuh dewasa kita harus berpisah. Aku mesti meninggalkanmu untuk berlabuh di kota-kota yang lain. Sama sepertimu, aku harus mengajarkan bagaimana bertahan hidup pada situasi ini. Bagaimana saling mengasihi ketika lapang maupun sempit. Serupa yang kuajarkan kepadamu sepanjang hari.

Saat itu ketika kau berada di depan ribuan orang yang telah mengering air mata di pipinya. Orang-orang yang menggenggam tangan saudaranya penuh getaran. Orang-orang yang di perutnya menetas ribuan cacing yang setiap saat beradu dengan angin. Aku pelan-pelan mundur dan menghilang menunggangi angin, menembus awan, kembali menjadi peri. Ingatanku seperti menembus lorong waktu masa lalu, kejadian itu sama persis seperti kejadian puluhan tahun silam di bagian selatan tanah Nangroe.

Aku adalah orang yang tumbuh dari gelap malam. Yang merangkak melewati ribuan lubang cahaya. Pada akhirnya tiba di sini dihantarkan angin. Hari ini adalah hari besar bagi kita semua. Akan hilang segala rasa lapar dan dahaga. Untuk memeriahkan bulan puasa kita akan melaksanakan meugang! Kita akan melaksanakan meugang! Agar kalian ketahui acara ini telah berjalan bertahun-tahun silam tanpa pernah luput sekalipun. Tujuannya adalah untuk menyatukan hati kita semua, mendekatkan diri satu sama lain, mengakrabkan, menyamaratakan, berbagi cerita, dan menjalin kebersamaan. Dengan begitu tak akan ada yang mampu mengalahkan kita, tak akan ada yang dapat memecah belah persaudaraan ini. Kalau kita kuat maka musuh-musuh pasti musnah di tangan kita.

Semuanya berdiri tegap mengepalkan tangan ke udara. Sambil berteriak meugang… meugang… meugang….

Hari ini adalah hari besar untuk kita. Kita akan menyambut bulan penuh berkah dengan sukacita gegap gempita. Mari kita semarakkan. Semoga menjadi darah daging untuk menambah tenaga beribadah kepada-Nya.

3)

Tradisi menyambut bulan suci di kalangan masyarakat Aceh tersebut terus berlangsung. Tentu tersirat beragam makna dalam setiap bagiannya. Mereka sangat menghargai datangnya hari-hari besar keagamaan, mereka sangat mementingkan kesejahteraan rakyat, meringankan beban masyarakat kurang mampu dengan mengadakan meugang. Seluruh fakir miskin dikumpulkan untuk menggelar acara makan bersama. Ini membuat batas itu hilang antara penguasa dan rakyat jelata. Para perantau akan pulang mengunjungi sanak famili, menebar kerinduan pada kota kelahiran. Pemandangan itu betapa indah untuk disaksikan.

Oh ya, kudengar kabar kotamu kini tengah berantakan. Kau tak mampu mengayomi jutaan rakyatmu hingga mereka menepi di emperan, di bantaran, dan di kolong sungai yang padat dengan sampah. Jutaan perut setiap hari keroncongan, sejak itu pula tindak kejahatan makin meningkat. Rintihan beriringan dengan hujan deras yang mengguyur malam. Suara-suara parau lengking menyiksa tenggorokan ketika terik mentari membakar tubuh-tubuh tanpa daya. Para pembantumu kerap berganti-ganti, tapi tetap juga tak dapatkan jalan keluar. Apa yang telah kau perbuat? Mungkin kau membunuhku ketika aku terlelap di dalam goa bawah tanah istana. Mengapa? Kuberitahu satu hal padamu, yang lahir dari kegelapan tak selalu kelam, begitu pula yang lahir dari cahaya tak selalu suci. Jika kau baru sadar maka kusarankan jemputlah aku. Kotamu telah dipenuhi bocah-bocah kelaparan. Aku ingin berkunjung ke sana menyaksikan wajah anak-anak yang kau biarkan terlantar. Melihat-lihat tradisi yang kau jalankan. Berdoalah agar aku belum mati agar dapat datang menghampiri. Berharaplah agar kita dapat merayakan meugang bersama-sama. Semoga tiba waktunya agar seluruh rakyatmu sejahtera.

Medan, Juli 2016

Alda Muhsi, lelaki kelahiran Medan, 1993. Telah menamatkan pendidikan di Universitas Negeri Medan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Tinggal di Jalan Amaliun No. 152 Medan. Penyuka puisi dan cerpen. Puisinya pernah dipublikasikan di Harian Waspada, Analisa, Medan Bisnis, Jurnal Masterpoem, dan Media Indonesia. Dan Cerpennya pernah dipublikasikan di Harian Waspada, Analisa, Medan Bisnis, Republika, Suara Merdeka, dan Banjarmasin Post. Buku kumpulan cerpennya, Empat Mata yang Mengikat Dua Waktu (Ganding Pustaka, 2016).
No. HP 085371783262

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)