Titi Gantung dan Segala Cinta

Puisi Alda Muhsi

Kau muncul dari lembaran-lembaran buku bekas yang bergumul di atas titi gantung
bertebar di udara laksana seorang pengkhotbah bercerita masa lalu
Deru lokomotif mengeluarkan napas hitam
menyesakkan dada
gerbong kereta mengikat janji
saling menjaga seisinya
sedang orang-orang betapa teduh memandang
saat senja dari atas titi gantung
berlapis gambar-gambar usang
serpihan kenang jadi alas duduk
Mungkin kau adalah utusan yang punya batas waktu
sebab kami tak lagi membutuhkanmu
anak cucu telah tunaikan kewajiban baca tulis dan menghapal
setelah itu kau boleh pulang. Pelan-pelan dilupakan
Kau kembali ke dalam buku-buku. Menghilang dan tertutup
debu-debu tebal memenuhi sampul. Menghapus garis-garis hingga samar
meninggalkan kisah-kisah dan menjadi hambar. Untung tak dibakar
Kini kita tak pernah tahu siapa pengkhotbah yang berdiri di atas tugu perjuangan
seperti Mahatma Gandhi meletupkan gelora kebangkitan
Titi gantung kehilangan cinta
nyawanya hilang, sejarah melayang
dan tak pernah lagi dikenang
Kertas-kertas yang tertulis menjadi saksi
telah menjelma bungkus cabai

Medan, Agustus 2016

Alda Muhsi kelahiran Medan, 1993. Telah menamatkan pendidikan di Universitas Negeri Medan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Tinggal di Jalan Amaliun No. 152 Medan. Penyuka puisi dan cerpen. Puisinya pernah dipublikasikan di Harian Waspada, Analisa, Medan Bisnis, Jurnal Masterpoem, dan Media Indonesia. Dan Cerpennya pernah dipublikasikan di Harian Waspada, Analisa, Medan Bisnis, Republika, Suara Merdeka, dan Banjarmasin Post. Buku kumpulan cerpennya, Empat Mata yang Mengikat Dua Waktu (Ganding Pustaka, 2016). No. HP 085371783262

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)