Sketsa Anak Harapan

Puisi Nasib TS

Serombongan anak yang kemarin kita lepas
Dari gerbang almamater
Kemudian memang
Tidak sekadar membebaskan beban
Dari pundak Ki Hajar Dewantara
Yang kini terletak di setiap puncak
Menara gading akademisi
Menjunjung tinggi amanah falsafah
Tut Wuri Handayani

Serombongan anak yang kemarin kita lepas
Dari tuntunan tangan
Menambah jumlah jubelan meninggalkan gerbang almamater
Mereka berjalan dengan langkah melayang dikoyak angin
Pusaran waktu dan zaman memuyengkan kepala
Lebih sulit dari sekadar soal matematika
Atau membanding data statistika
Hidup memang bukan teka-teki silang!

:akan kemana kita
Kita terperangkap lingkaran pekat yang sempit pengap
Setelah kemarin kita patuh sekadar untuk berangan-angan
Bahwa hari ini seperti yang tergambar dalam sejuta ilusi tempo hari
Semestinya kita telah sampai
Dan setidaknya meraba kaki bukit impian
Dan harapan
Lalu memandang ke atas
Matahari bertahta bagai dewa
Maka kejarlah matahari
Itu pesannya!

Diam
Ruangan itu sudah lama ditinggalkan
Bangku-bangku sepi kosong tinggal kenangan
Lalu
Anak-anakku surut mengenang harapan
Kandas tergilas zaman
Luka menggores di raut wajahnya

: bapak janganlah bermimpi apa-apa
Ibu janganlah berkhayal
Guru janganlah berduka
Bila ternyata aku jatuh tersuruk
Tergilas zaman
Mati!

Mendengar ini
Satria perkasa “Top Hit 45” memukul genderangnya
Menggedor barisan yang tertidur lelap
–Bung!
Angkat dagu, luruskan pandang
Busungkan dada, kepalkan tinju
Tinjulah dunia!

Ya!
Suaranya masih seperti dulu
Menggelegar menyulut dada
Lalu, beliau berkata lagi:
–Bukan kemerdekaan namanya, kalau rakyat tak bebas menuntut apa yang menjadi hak. Dan kita telah berangan-angan. Demikian enakkah? Kamu bukan tukang mimpi. Harapan milikmu. Ini bukan janji, tanpa karsa, perjuangan dan kerja keras…

Anakku geleng-geleng
Manggut-manggut
Geleng-geleng

:namun di depan mataku
Masih tetap saja gelap dan hampa
Menghadang panjang
Mana titik cahaya yang kau gambar dulu
Dalam bayang dan pikiranku
Mana?

Demi impian ini
Mereka menuntut ramai-ramai menempuh prosedur resmi
Dari kantor lurah, kantor camat, kantor polisi, kantor dinas tenaga kerja sampai di meja personalia departemen anu
Dengan atau tanpa kolusi
Kenyataannya
Yang mereka temukan hanya setumpuk berkas formalitas
Karena kursi formasi sudah terjual habis
Tidak ada lagi bagian untuk kejujuran yang tersisa
Bahkan uang hasil penjualan sawah dan sapi orangtua Sarjono
Raib di balik saku seorang calo.

Tidurlah untuk bangun pagi-pagi
Bukan untuk mimpi yang tak pernah selesai meninabobokkan
Sehingga lupa apa yang semestinya dikerjakan
Kita menuangkan hidup ke dalam arti!

Yei!
Dan wajahnya mengejek semakin jelek
Anak ini benci slogan
Tiap kata tak pernah ia dengarkan

:tapi apalah arti secarik sertifikat
Toh ada yang tanpa program akademi bisa jadi toke
Toh persoalan ini tak bisa kupecahkan dengan:
Fungsi kwadrat, phytagoras, stoikiometri atau
Adhisi-hidrohalogenasi?
Harap sia baktiku Bunda
Namaku Buang
Anak Ibu Pertiwi
Rindu pulang pada harapan
Bertahun langkah ini kugambar
Aku buta
Mana jalan?

Ya!
Matahari berjalan di atas ubun-ubunmu sendiri
Gapailah kupingmu untuk belajar mendengar
Sebelum kau bisa memandang..

(Kuelus rambutnya, saat tangannya berusaha keras menggapai telinga!)

Keluh
Jangan jadikan
Tanda tanya
Rapuh
Nak!

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)