Sendiri

Puisi Syafrizal Sahrun

mata yang lain yang lain datang menikam pandang di antara sepisepi yang matimatian mempertahankan diri di rimba nyeri dalam sakitnya sediri dalam rindunya sendiri dalam hancurnya sendiri dalam seraknya sendiri namun mata yang lain tak hirau tak hirau harap yang tak tahu diri di rimba sakit yang pasti yang pasti perih menimang ngeri menimang sendiri diri yang terkulai tergapaigapai tertanam dalam hitamnya rindu sendu yang tak tahu arti tak tahu untung rugi

matikau mampuskau mampus dikunyah mati dikunyah mati yang mampus sendiri tanpa ada yang digapai tanpa ada yang mengerai tanpa ada yang peduli tanpa ada yang mau mengerat keringat yang menyucurnyucur dan kembali ke tadi

gelakgelaklah kekehkekehlah senangsenganglah dengan fana yang dipeluk dipeluk direngkuhrengkuh sebab ia bagimu pasti sebab ia bagimu pasti bila ia nanti menangis dan kau menangis siapa yang peduli siapa yang peduli siapa yang mengganti tak ada satu yang pasti

bila sakitmu satusatu gugurgugur ke bumi ke tanah kembali ke tanah bila ia datang menjeput saat kau di rimba dalam sakit yang rimbun dalam diri perih jua kawan ngerih jua kawan gigil tak mau dibilang matikau mampuskau dikunyah mati dikunyah mati

kau baru tahu fana tetap fana yang pasti tetap pasti yang pasti tetap pasti dan ketika kau mohonmohon merengekrengek minta tolong tunggu dengan seribu bujuk ia tak hendak dengan seribu rayu ia tak layu dengan seribu miris ia tak tangis dengan seribu doa terlambat sudah.

Percut, Agustus 2015

 

Syafrizal Sahrun, tinggal di Desa Percut. Alumni FKIP UISU. Masih berguru di PPs UMN Medan. Menulis puisi, esai sastra, dan sekali-sekali menulis cerpen. Karyanya pernah dimuat di beberapa media lokal dan nasional. Bekerja sebagai guru di SMAN 1 Percut Sei Tuan. Bergiat di Komunitas Home Poetry.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)