Sastra: Metode Pembelajaran Bagi Ilmu Lain

 Oleh: Hasan Al Banna

 

(Tatkala seorang anak suka jajan berlipat-lipat

Tentulah dinamai itu perilaku boros

Kala benda banyaknya seratus empat puluh empat

Wajiblah diseru ia satu gros)

* * *

Segudang metode pembelajaran telah diciptakan demi kemaslahatan ilmu pengetahuan peserta didik di sekolah, khususnya sebagai lembaga formal. Namun, banyak pula metode pembelajaran berakhir gagal karena tidak ‘merujuk’ pada aspirasi alam bawah sadar peserta didik yang tengah dihadapi, sehingga kekayaan metode tersebut tetap berwujud fakir.

Sederhananya, metode apapun yang ditunaikan dalam kelas sedapat mungkin harus menyenangkan. Tentu, tidak arif pula jika menyenangkan didefinisikan secara tunggal. Namun, menyenangkan berkaitan erat dengan kesiapan seseorang dalam memberi dan menerima sesuatu (baca: pengetahuan), yang tentu melibatkan pendidik dan peserta didik.

Idealnya, sebuah proses pembelajaran yang didesain sedemikian rupa sehingga muatan pendidikan dan hiburan dapat dikombinasikan secara harmonis. Pembelajaran, oleh karenanya, terasa lebih menyenangkan ketika dilakukan dengan humor, permainan (game), bermain peran (role play), kuis, dan sebagainya.

Oleh sebab itu, tidak tertutup kemungkinan jika pendidik dapat memodifikasi metode pembelajaran seacap mungkin, tergantung kondisi lahir batin peserta didik. Selanjutnya, kemungkinan tersebut akan menggiring pendidik memanfaatkan disiplin ilmu lain dalam ‘menyusupkan’ ilmu yang diembannya, demi proses pembelajaran yang menyenangkan tadi. Bukankah hakikat ilmu di muka bumi saling berkaitan dan saling mengisi?

Ilmu sastra salah satunya! Konsep sastra (lisan atau teks) yang menyuguhkan bahasa sebagai media yang menyenangkan tetapi bertanggung jawab dapat menjadi alternatif (dari sekian banyak pilihan) bagi pendidik dalam mengajarkan disiplin ilmu yang bukan sastra.Ya, salah satu fungsi sastra adalah menghidupkan atau memperbarui pengetahuan pembaca, menuntunnya menyaksikan berbagai kenyataan kehidupan. Lalu, melalui norma estetika, karya sastra mampu menggairahkan pembaca untuk berpikir dan berbuat lebih banyak dan lebih baik bagi kehidupan. Selain itu, karya sastra mampu menyodorkan peristiwa kebudayaan, sosial, keagamaan, atau politik.

Lebih daripada itu, menurut I.A Richard dalam bukunya Peotries and Science (1926), dunia sastra mampu menyuguhkan imajinasi sehingga memberi inspirasi orang untuk berkarya. Sastra juga bisa menjadi basis (core) bagi munculnya berbagai disiplin keilmuan. Banyak pemikir inovatif dalam ilmu sosial dan eksak, mempunyai latar belakang teori sastra yang kuat atau setidaknya penikmat sastra. Sebut saja misalnya, Edward W. Said, yang membongkar epistemologi orientalisme sambil membuka pintu poskolonialisme; Michael Foucault, yang mengadakan analisis wacana untuk melihat prawacana; atau Antonio Gramsci, yang melihat sastra sebagai medium pembaharuan moral dan untuk mengungkapkan ideologi-ideologi kelompok sosial, dan sebagainya.

Demikian halnya kemunculan ilmu Matematika atau Aljabar. Disiplin ilmu tersebut lahir dari ekspresi atau luapan imajinasi yang diguratkan dengan angka, simbol dan deretan rumus atau persamaan-persamaan. Bahkan, beberapa ilmuwan ternama seperti astronomer Carl Sagan, kosmolog Free Dyson, dan rocketry Wernher Von Braun, mengawali karir mereka dari kegemaran membaca sastra; fiksi-fiksi sains.

Dalam konsep sastra, kekuatan berkisah (katakanlah mendongeng) merupakan bagian yang begitu dominan. Pada dasarnya, genre sastra yang meliputi prosa, puisi, dan naskah drama merupakan dongeng dalam makna yang luas. Maksudnya, dongeng yang tidak semata berkisah seputar binatang, melainkan meliputi seluruh kehidupan dan ilmu. Begitu pula dalam perwujudannya, dongeng dalam makna luas tidak lagi berbentuk lisan, tetapi juga tulisan (teks).

Kegiatan berkisah (mendongeng) akan menghubungkan bahasa yang dikuasai dan digunakan peserta didik (sesuai fase umur) mempunyai potensi untuk meningkatkan pemahaman mereka terhadap kandungan cerita dan pada saat yang bersamaan akan mengajak pendidik dalam memahami anak-anak. Selain itu, peristiwa mendongeng mampu mendekatkan ikatan emosi dan ikatan batin orang tua dan anak-anak.

Bagaimana mendongengkan materi pelajaran yang hakikaktnya konkret? Bukankah dongeng (sastra) disusun dengan perkakas fiksi?

Benar, sastra memang digolongkan sebagai ranah fiksi, yang meski bertolak dari kisah nyata, tetapi tetap mengalami proses rekayasa. Lazimnya, sastra merupakan perkawinan fakta dan fiksi yang selaras dengan air dan gula, ketika berbaur, siapapun tak bisa mengindentifikasi: mana air mana gula! Namun, bukan berarti fakta dan fiksi dalam sastra tidak boleh sepadan dengan perwujudan air dan minyak; tetap bisa diuraikan meskipun dileburkan dalam satu wadah.

Pilihan terakhir inilah yang paling memungkinkan bagi para pendidik untuk memberdayakan sastra dalam proses pembelajaran, khususnya materi pelajaran di luar sastra. Mendongeng merupakan kisah menarik yang menghadirkan tokoh cerita, setting, dan perangkat lainnya. Metode mendongeng semacam ini akan menggiring pendidik menebarkan ilmu dengan, misalnya, olah vokal intonasi, ekspresi/mimik, sambil menggunakan alat peraga yang kreatif. Sebaliknya, jika dongeng berbentuk teks, juga akan menggiring peserta didik menegakkan bangunan ekpresinya sendiri (membaca mandiri). Akumulasi dari cara ini mampu ‘menyenangkan’ peserta didik. Imbasnya, peserta didik juga terlatih menuangkan pikiran atau idenya melalui bahasa lisan maupun tulisan.

Sebenarnya cara ini bukan tidak pernah dilakukan tenaga pendidik, tetapi banyak pula di antaranya yang hanya mewarisi bahan pendahulunya yang belum tentu menarik bagi kondisi peserta didik yang tengah dihadapi. Lebih rumit lagi, tenaga pendidik tidak dengan sadar memahami khasiat teknik ini bagi sekalian peserta didik, sehingga tidak memiliki kepekaan dan daya juang kreatif untuk memperbarui bahan pengantar materi pelajarannya.

Idealnya, metode dipandang sebagai rumusan kiat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Berarti, bukan tidak mungkin pendekatan disiplin ilmu lain dapat difaedahkan untuk memaslahatkan proses pemahaman ilmu lainnya. Mengapa misalnya, seorang guru tidak mencoba bercerita tentang rumus matematika dengan menghadirkan tokoh cerita dan percakapan-percakapan yang memikat (disiplin imu sastra)? Lalu melalui permainan peran, misalnya. Tentu, harus dipastikan materi inti pelajaran tetap duduk pada ranah fakta, dan pastikan pula tokoh cerita dan bahasa cerita bermain di ranah fiksi.

Simaklah hasil kreativitas seorang tenaga pendidik yang berbentuk susunan pantun berikut ini. Pantun (baca: dongeng) yang dideretkan, dapat memudahkan atau paling tidak membuka jalan yang lain bagi peserta didik dalam menerima pelajaran tentang ukuran satuan pada pelajaran matematika.

ikanlah sungai digulai Nek Husin

disertailah serai dan batang talas

manalah dinamai sejumlah barang satu lusin

kalau jumlahnya tidaklah genap dua belas

 

bilakah ada surat yang dapat terkirim

kalau pak pos enggan mengantar

bilakah lembar kertas dikatakan satu rim

kalau jumlahnya sudah pas lima ratus lembar

Dari contoh di atas dapat ditemukan bahwa baris pertama dan kedua pada masing-masing pantun berada pada wilayah fiksi (rekaan), sedang baris ketiga dan keempat merupakan fakta dari satuan ukuran.

Amsal di atas boleh jadi dinilai terlalu menyederhanakan persoalan. Namun, dalam upaya mengidentifikasi ‘kesenangan’ peserta didik, semangat memodifikasi pantun di atas layak diapresiasi. Benar, di sisi lain, tidak semua pendidik ‘gemar’ menciptakan bahan bernapas sastra, bahkan guru bahasa dan sastra sekalipun. Namun, banyak pilihan lain yang terbuka untuk digunakan, khususnya bahan sastra yang sudah ‘jadi’ (hasil cipta pengarang).

Seperti dalam studi kasus yang lain, dalam pelajaran ilmu astronomi-astrobiologi, seorang tenaga pendidik memanfaatkan sebuah novel. Novel Eliza Vitri Handayani adalah fiksi sains Area X: Hymne Angkasa Raya berkisah tentang kota-kota metropolis yang ditumbuhi rimbunan satelit, juga dengan sedemikian rupa menceritakan perihal benda-benda ruang angkasa, energi nuklir, dan teknologi sumber daya energi yang meliputi bumi. Rujukan Eliza menulis novel tersebut mencakup 33 buku yang terdiri dari 4 bidang, yaitu atronomi-astrobiologi (ilmu bintang, ilmu biologi bintang), ilmu lingkungan-sumber daya alam, sains dan teknologi, dan ufologi (ilmu benda angkasa tak teridentifikasi).

Misal yang lain, dalam mata pelajaran sejarah, seorang guru mengenalkan riwayat Medan dengan penggalan novel Berjuta-juta dari Deli, Satoe Hikayat Koeli Contract (2006) karya Emil W. Aulia. Dalam novel itu dikisahkan secara dramatis peristiwa perbudakan di tanah Deli yang berlangsung pada awal abad XX. Penjajah Belanda sebagai bangsa Eropa berhasil menguras peluh asin, air mata dan darah para kuli demi tembakau Deli yang masyhur.

Novel karya Emil W. Aulia tersebut banyak mendeskripsikan Medan tempo doeloe. Dalam novel tersebut dapat ditilik bahwa bangunan Kantor Bank Mandiri Medan adalah hotel pertama di Medan. Bangunan tersebut dibangun tahun 1886, dan diberi nama Hotel Medan. Dalam novel tersebut juga diterangkan bahwa Medan adalah muara pertemuan. Dalam bahasa Melayu, dia berarti tempat berkumpul. Konon, Guru Patimpus orang yang pertama menjejakkan kakinya di kota yang mempertemukan dua sungai: Sungai Deli dan Sungai Babura.

Namun, cara pemanfaatan bahan sastra ‘jadi’ bukan tak memiliki kelemahan. Paling tidak, seorang pendidik harus melakukan proses cek and ricek terhadap bahan ‘jadi’ tersebut. Nah, peristiwa cek and ricek itu sendiri secara sadar atau tidak sadar akan ‘menodong’ guru untuk memodifikasi (menyiasati) kisah sastra tersebut menjadi ‘dongeng baru’ sesuai materi, panduan dan tujuan yang hendak dicapai.

Memang, anjuran ini, serupa halnya anjuran permulaan tadi akan menjadi pekerjaan rumah bagi pendidik, tetapi untuk apa membicarakan metode alternatif pembelajaran kalau tenaga pendidik enggan menerima pekerjaan rumah? Lagi pula, metode alternatif yang bersifat selingan, atau penyangga sekunder bagi proses pembelajaran tidak-serta merta menumbangkan metode mapan yang ditunaikan sebelumnya.

Pada hilirnya, kiat-kiat yang demikian selalu mempunyai peluang untuk diterapkan pada banyak mata pelajaran. Tentu tenaga pendidik tidak boleh lalai dalam mempersiapkan bahan kisah yang sesuai dengan jenjang umur peserta didik (jenjang pendidikan).

Demikianlah, menciptakan metode alternatif merupakan peristiwa kreatif, bukan saja bagi pendidik, melainkan juga bagi peserta didik itu sendiri. Penggunaan konsep sastra (dongeng) sebagai metode alternatif akan menuntun pendidik-peserta didik menjadi subjek, bukan objek. Selain itu, bukankah akan terbuka pula kemungkinan bagi peserta didik untuk menemukan metode alternatifnya sendiri dalam menyerap pelajaran, bahkan ketika peserta didik harus menuangkannya dalam kelas?

Penulis menyadari sepenuhnya, penawaran (konsep sastra bagi metode pembelajaran) ini bukan jalan satu-satunya, meskipun dapat menjadi salah satu jalan yang dapat dipertimbangkan, diuji, terlebih-lebih dikoreksi.

 

Penulis adalah penyair, prosais, esais, dan pegawai Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)