Rumah Sebelah

Cerpen Alda Muhsi

Pagi masih belum lama lahir ke bumi. Embun-embun segar masih nyaman berbaring beralas daun-daun di halaman rumah. Burung-burung yang berkicau kedinginan dan juga kokok ayam kelaparan turut menghiasi. Tiba-tiba terdengar pula suara berderik dari rumah sebelah. Ternyata si Pinem sedang mencangkul tanah. Berkebun dia hari ini.

Memang beberapa hari belakangan, jika melewati rumahnya setiap orang akan berkomentar.

“Rumah bagus, tapi halaman tak genah….”

“Percuma kaya, manggil tukang rumput saja tak bisa….”

“Dasar orang kaya pelit…!!!”

Ya begitulah ibu-ibu sekomplek. Pantang sehari saja jika tak mencela. Padahal belum tentu kelakuannya lebih baik. Mereka tak tahu malu atau barangkali sudah melayang kemaluannya, bayangkan jika anaknya sedikit saja mengeluarkan kata-kata kotor, misalnya, ‘anjing’ atau ‘babi’ dan sebagainya. Tentu mereka akan marah, dan selalu berkata, “Belum kena cabe mulutmu itu ya?” Tapi apa? Bagaimana anaknya mau bicara yang baik-baik kalau saja orang tua selalu mencela tetangga dengan kata-kata pedih, yang tak hanya kasar di mulut, tapi juga kasar di hati. Ya sudahlah, mungkin memang sudah demikian perjalanan kehidupan yang harus ditempuh, yang telah lama digurat Tuhan melalui persetujuan manusia juga.

“Heh Pinem! Besok kau tidak sekolah, Kan? Jangan lupa kau bereskan rumput-rumput dan bunga-bunga di taman depan ya. Jangan kau malas kali jadi anak. Sudah syukur kau masih kuberi makan dan kusekolahkan!”

“I…i…iya, Bu.”

“Heh! Jangan kau panggil aku ibu. Aku bukan ibumu. Ibumu sudah mati ditabrak kereta api. Lagi pula aku tak sudi punya anak sepertimu. Cacat!”

Sementara itu Pinem diam saja. Ia memang tak pernah membantah kata-kata seorang perawan tua, si tuan rumah itu.

“Heh anak cacat! Kau sudah masak? Aku sudah sangat lapar, cepatlah kau bawakan makanan!” bentaknya lagi.

Mungkin perawan tua itu tak mempunyai nurani, atau jiwanya sudah terganggu sebab tak ada seorang perjaka ataupun duda yang bersedia mempersuntingnya. Lantas, apakah semua kekesalan itu harus dilimpahkan pada Pinem, seorang anak delapan tahun yang kakinya pincang sebelah?

Bentakan dan jeritan yang ia lontarkan kepada Pinem selalu saja terdengar ke rumahku. Mungkin itulah makanan sehari-hari bagiku, mendengar caci makinya.

Kasihan Pinem, seandainya orang tuanya masih hidup tentu nasibnya tidak akan seperti ini. Ibu Pinem adalah teman dekat Bu Sandra, yang kini menjadi majikannya. Bu Sandra memiliki hutang budi kepada Ibu Pinem, yang tak mungkin dapat dibayarnya. Suatu hari Bu Sandra divonis terkena kelainan ginjal, dan ginjalnya mesti diganti. Karena jika tidak, bisa-bisa nyawa Bu Sandra melayang pergi. Ibu Pinem yang mendengar kabar itu dari dokter, langsung berinisiatif untuk tranplantasi ginjalnya kepada Bu Sandra. Oleh karena itu, Bu Sandra sangat berhutang budi kepada Ibu Pinem, dan dia berjanji akan menyekolahkan Pinem hingga sarjana nanti.

***

Pinem sedang memangkas rumput liar yang panjangnya sudah hampir selutut. Perlahan tapi pasti ia melakukannya. Aku yang berada di halaman rumah sebelah juga sedang berkebun. Memang berkebun adalah hal yang paling enak dilakukan di pagi hari. Saat sayupan angin pagi yang sejuk menemani, nyanyian burung-burung, dan teduhnya aroma embun yang memesona hati.

Tak jarang mata kami kedapatan saling tatap, tapi hanya sebatas tatap. Mulut tetap diam tak berbicara. Barangkali ia gengsi, ya atau apalah.

Suasana pagi begitu hening, hanya ada kicauan burung yang sesekali terdengar. Masing-masing kami sibuk dengan tugasnya. Merapikan rumput dan menyirami bunga-bunga yang mulai mekar mahkotanya. Terkadang ia kedapatan sedang mencuri pandang.

Tak lama kemudian, Bu Sandra keluar rumah. Ia hendak berangkat kerja.

“Pinem, tak kau lihat aku mau berangkat kerja? Kenapa kau diam saja? Ayo buka gerbangnya!”

Dengan tergopoh-gopoh Pinem segera membuka gerbangnya dan mempersilakan Sang Nyonya untuk pergi.

“Heh! Jangan lupa kau siapkan makanan untuk makan siang.”

“I…ii…iya… Bu”

“Sudah kubilang, jangan panggil aku ibu. Aku bukan ibumu. Ibumu sudah mati ditabrak kereta api!” bentaknya lagi seraya ia menginjak pedal gas mobilnya.

Sementara itu Pinem kembali melanjutkan pekerjaannya.

Kupikir Bu Sandra memang sudah gila. Apa mungkin benar yang digosipkan ibu-ibu sekomplek, bahwa Bu Sandra stres karena belum ada yang bersedia meminangnya. Bayangkan, wanita yang sudah berumur 42 tahun sampai kini belum menikah. Lantas, kekesalan batin yang dialaminya harus ditumpahkan kepada Pinem? Apa mungkin Bu Sandra psikopat? Ya, apa dia membutuhkan seorang psikiater? Entahlah.

***

Malam tiba, ditandai dengan suara jangkrik yang menjerit-jerit di balik rerumputan seberang jalan. Desahan angin yang menggesek dedaunan, serta cahaya rembulan temaram.

Aku duduk di balkon rumah. Menikmati malam dengan seruputan kopi panas. Memandangi langit terang yang memukau. Menenangkan diri dari sedikit kelelahan jiwa. Tapi lagi-lagi keributan rumah sebelah selalu menggangguku. Sudah tidak ada lagi kenyamanan yang kurasa, meskipun itu di rumah sendiri. Teriakan dan bentakan yang samar terdengar tentu saja sangat mengganggu malamku. Tidak! Tidak cuma malam, bahkan setiap hari.

Rasanya aku ingin membawa Bu Sandra ke rumah sakit jiwa. Meminta para dokter di sana untuk memasung kakinya dan menyumbat mulutnya agar tak bisa bergerak dan berkata-kata.

Ah, tapi itu semua tidak mungkin kulakukan. Aku tidak berhak. Akhirnya kuputuskan malam itu untuk menyerah pada waktu, dan mengembalikan ketenangan di dalam ruang lelap. Semoga saja ketenangan benar-benar kudapat.

***

Satu hari, dua hari, dan tiga hari ini sudah tak kudengar jeritan seperti biasa dari rumah sebelah. Aku heran, tapi juga bersyukur. Barangkali Bu Sandra memang sudah terapi ke psikiater. Atau Tuhan telah menunjukkan padanya sebuah jalan kebenaran.

Pagi ini aku ingin menikmatinya di balkon sambil menggerak-gerakkan tubuh dengan gerakan senam dasar. Tak lupa pula secangkir teh hangat dan beberapa potong kue kecil.

Dari atas, kulihat Pinem sedang mencangkul tanah di halaman rumahnya. Aku tersenyum saja, dalam hati berkata, ‘Alangkah bahagia kau saat ini, Pinem. Bu Sandra tak lagi pernah membentakmu.’ Secepat itu pula langsung kupalingkan tatap, takut jika saja Pinem sempat melihatku memandangnya.

Aku penasaran, apa yang ingin dia tanam. Sementara rumput-rumputnya masih terlihat rapi. Maka saat itu juga aku mencoba memberanikan diri untuk menghampiri Pinem. Mungkin inilah pertama kalinya aku berbicara dengannya. Hatiku pun bergetar, seketika keringat bercucur. Entah itu karena gerakan senam atau pula karena canggung.

“Pagi, Pinem. Wah, ceria kali pagi ini, Ya?”

Ia hanya membalas dengan senyum dingin.

“Rajin kali kamu ya. Sedang menanam apa, tuh?”

Lagi-lagi ia tidak menjawab. Kali ini memasang wajah ketat. Seperti cuek.

“Bu Sandra ada? Sudah lama nih, aku tak melihatnya.” Kataku sedikit berbasa-basi.

Mendengar pertanyaanku yang terakhir, Pinem sontak membanting cangkul yang sedang digenggamnya. Lalu ia berlari keluar rumah. Berlari dengan air mata yang terurai, serta isakan tangis yang membuncah.

Aku semakin heran. Kucoba menggali lagi tanah bekas cangkulan Pinem. Terdapat sebuah bungkusan hitam kecil yang masih basah. Dan ternyata itu adalah potongan jari-jari tangan dan kaki Bu Sandra.

Aku tercengang. Segera masuk ke dalam rumah untuk melihat keadaan Bu Sandra. Ia sudah tergeletak tanpa nyawa, tanpa kaki, tanpa tangan yang menyatu pada tubuh.

Aku panik, dan langsung menghubungi polisi untuk segera mengurus kasus ini.

Kukira percakapan itu hanyalah sebagai yang sia-sia, tapi ternyata tidak. Percakapan itu justru yang membawa bencana. Malapetaka. Tak kusangka, Pinem, anak berumur 8 tahun bisa-bisanya meracuni majikannya sendiri. Hanya perkara sering dimarahi. Yang lebih mengherankan lagi adalah potongan-potongan jari itu, persis seperti potongan-potongan masakan sop. Kejam! Tragis! Sungguh tragis! Mencengangkan!

Aku tak menyangka apa pun saat mendengar jeritan-jeritan itu. Memang tak terdengar kata-kata yang diucapkan. Tembok pembatas rumah lebih tebal daripada runcingnya pembicaraan mereka. Kupikir hanya seperti biasa, layaknya majikan yang sedang menyuruh ini-itu kepada si pembantu. Marah-marah ketika yang dikerjakan tidak sesuai harapan.

Sekarang lihatlah apa jadinya. Tulang belulang telah dipotongi Pinem dengan rapi. Ditinggalkannya begitu saja. Berserakan di tiap sisi kamar. Lalu ia pergi tanpa jejak.

Kalau sudah begini siapa yang hendak disalahkan? Siapa pula yang harus dimintai tanggung jawab? Ah, malangnya nasibmu Nyonya.

Seketika rumah sebelah itu mendadak jadi artis. Didatangi para polisi, wartawan, dan banyak orang. Hanya sekadar untuk mencari tahu cerita yang sebenarnya. Sedangkan pelakunya sudah entah ke mana. Barangkali sudah bunuh diri. Atau sedang berdiri memakai topeng di antara para kerumunan.

***

Medan, Agustus 2016

Alda Muhsi, lelaki kelahiran Medan, 1993. Telah menamatkan pendidikan di Universitas Negeri Medan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Tinggal di Jalan Amaliun No. 152 Medan. Penyuka puisi dan cerpen. Puisinya pernah dipublikasikan di Harian Waspada, Analisa, Medan Bisnis, Jurnal Masterpoem, dan Media Indonesia. Dan Cerpennya pernah dipublikasikan di Harian Waspada, Analisa, Medan Bisnis, Republika, Suara Merdeka, dan Banjarmasin Post. Buku kumpulan cerpennya, Empat Mata yang Mengikat Dua Waktu (Ganding Pustaka, 2016).
No. HP 085371783262

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)