Perihal Utang

Cerpen Alda Muhsi

Malam itu gemuruh hujan hadir bersama genangan air mata yang tertampung di kelopak mata dua wanita yang saling bertatapan. Pasalnya, Pak Joko ditemani dua pengawalnya mendobrak pintu rumah kontrakan mereka.

“Mana utangmu?” Bentak Pak Joko seraya mendaratkan telunjuk ke kening Rosni.

Ibu satu anak itu tertegun, tak dapat berbuat dan berbicara banyak. Sebenarnya utang-utang itu bukanlah mutlak kepunyaannya. Itu adalah utang-utang suaminya, yang kini entah berada di mana. Ia melarikan diri. Mungkin seperti itu kata yang tepat.
Lima tahun lalu, Burhan, suami Rosni, meminta ijin kepada Rosni untuk pergi keluar kota membuka usaha. Dengan modal yang mereka pinjam dari Pak Joko itulah langkahnya bermulai. Pada awalnya, tahun pertama kepergiannya, Burhan kerap memberi dan menanyakan kabar Rosni dan Sinta, putri mereka, tak lupa pula dengan uang bulanan.

Akan tetapi, sejak dua tahun silam, ia tak pernah lagi begitu. Berkali-kali Rosni mencoba menghubunginya, namun sayang, ponselnya selalu tidak aktif. Bertahun-tahun Rosni menanti kepulangannya, tapi tak juga. Sebab itulah Rosni sungguh kesal, dan menganggap sang suami telah mati dalam pelarian dirinya.

“Maaf, Pak, kami belum punya uang.”

“Apa? Setiap kali kudatangi pasti jawabanmu selalu sama! Belum punya uang! Suami belum pulang! Mau sampai kapan? Apa mau sampai kalian mati? Kalian sudah berutang selama 5 tahun, tapi belum pernah sekalipun membayar. Apa memang tak mau bayar, ha?”

“Bukan begitu, Pak, kami benar belum punya uang. Nanti kalau sudah ada pasti kami bayar.”

“Tas….”

“Banyak omong!”

“Ibu… ibu… ibu….” jerit Sinta terisak.

Ia pun segera mendekap ibunya yang terbujur di lantai. Keduanya terlihat tak berdaya.

“Ya sudah, begini saja, aku beri waktu seminggu, kalau tidak bagaimana jika anakmu yang cantik ini menemaniku semalaman? Dengan begitu utang kalian dapat kuanggap lunas. Hahahaha.”

Rosni dan Sinta kembali terperanjat pada tatapan masing-masing. Air mata keduanya mengalir kian deras. Rosni menggenggam tangan putrinya erat-erat. Debar jantungnya terasa begitu kencang di dada Sinta.

“Silahkan kalian pikirkan. Hahahaha.”

Pak Joko mengerlingkan sebelah matanya, lalu pergi meninggalkan rumah kontrakan selebar 5×7 meter itu, diikuti dua orang pengawalnya.

Ah, kenapa tak ada pilihan yang lebih ringan. Ini sama saja seperti berdiri di antara mastodon dan serigala bergigi tajam. Tak ada jalan keluar. Kedua pilihan itu begitu menyakitkan. Alangkah keji kau, Joko! Rentenir laknat.

Inikah takdir yang katanya telah ditetapkan Tuhan? Tapi mengapa takdir hidup Rosni terasa begitu pedih? Setelah ditinggal pergi suami yang tak tahu diri, harus pula menghadapi utang-utangnya dan harus merelakan putri yang baru berumur 18 tahun menjadi perempuan pemuas napsu si rentenir laknat itu?

“Apa salahku, ya Tuhan? Hingga kau hadapkan aku pada jurang yang sangat curam. Apa dosa yang pernah kubuat hingga akhirnya Kau pilih ini sebagai jalan penebusannya? Apa, Tuhan? Lalu sekarang aku harus bagaimana? Apa yang mesti kuperbuat? Menegarkan diri terhadap takdir ini? Atau mencoba merelakan segala yang telah ditetapkanNya? Ah, tidak. Bukankah Tuhan itu Mahabaik?”

Rosni menduga-duga sendiri apa yang akan terjadi nanti, dan apa pula yang harus dilakukannya untuk menyelesaikan perihal utang ini. Kau tahu, utang itu seperti ular. Ia akan melilit tubuhmu dengan sangat ketat. Dan mengerat begitu kencang. Hingga kau tak dapat bergerak sedikit saja. Tak dapat melangkah walau hanya satu-dua ayunan kaki. Percayalah, ketika kau tak mampu mengikuti keinginannya kau akan lumpuh perlahan hingga kemudian tak berdaya sama sekali – mati. Itulah yang mereka rasakan saat ini.

***

“Maafkan ibu, Sayang, ini semua bukan kemauan ibu. Andai saja bapakmu tidak berulah, tentu saja kita tak akan pernah merasakan semua ini. Semoga benar bahwa ia telah mati.”

“Tapi, Bu, aku takut…”

“Ya, mau bagaimana lagi sayang, cuma ini satu-satunya jalan agar utang bapakmu bisa terbayar. Agar kita terlepas dari teror Pak Joko, rentenir laknat itu. Coba bayangkan, di mana kita harus mencari uang 150 juta dalam tempo seminggu? Sudahlah, Sayang, mengalahlah, mengertilah keadaan kita, Nak.”

“Tapi, Bu….”

Seketika malam menjadi hening. Hujan yang menderu seolah tak terdengar. Petir yang menyambar samar. Detak jantung seirama detak jarum jam mengisi kekosongan.

“Hmm… baiklah, Bu. Jika ini satu-satunya jalan aku akan mengerti.”

“Terima kasih, Sayang. Maafkan ibu, Nak.”

Tangis mereka pecah malam itu. Semakin menjadi-jadi. Mengubah malam yang semula terasa hening menjadi hingar-bingar kericuhan tanpa henti. Tak disangka betapa berat cobaan yang mesti dihadapi. Mereka harus menelan kenyataan yang lebih pahit daripada obat apa pun di dunia ini. Tubuh yang terkulai lemah, mata yang penuh air, tergeletak di badan kasur. Mereka berpelukan menikmati kedukaan.

***

Hari yang dijanjikan tiba. Malam itu Pak Joko sudah berada di kamar hotel menantikan perempuan yang telah dipesannya. Sementara itu, si perempuan tengah dalam perjalanan menuju hotel untuk menunaikan janjinya.

“Jangan lupa, kamar 86.” Isi pesan singkat Pak Joko pada si perempuan.

“Baiklah, saya sedang menuju ke sana.”

Perempuan itu mengenakan penutup kepala dan cadar menutupi tiga per empat wajahnya. Yang tampak tinggallah mata. Agar orang-orang tak bisa mengenalinya, yang malam itu terpaksa menjadi seorang perempuan panggilan.

“Ting-tong.”

“Saya sudah di depan kamar.” Pesan singkat si perempuan.

Pak Joko membuka pintu, mempersilakan perempuan itu masuk, lalu memadamkan lampu.

Ia pun langsung memeluk perempuan itu. Tangannya mulai menjamah titik-titik erotis. Perlahan-lahan dan menjalar ke seluruh penjuru tubuh.

Satu-satu kancing baju perempuan itu dibukanya. Sambil sesekali menghisap dan menjilati bagian leher hingga tengkuk si perempuan. Tepat pada kancing yang terakhir matanya seketika terbelalak, seolah hendak keluar, menahan sakitnya sebilah pisau menembus perutnya.

“Cap!!!”

Lagi. Perempuan itu berkali-kali menghunjamkan pisau itu ke perutnya. Dibukanya penutup kepala dan cadarnya. Lampu ia nyalakan.

“Rentenir laknat! Tak akan kubiarkan kau merenggut kesucian anakku. Tak mungkin kugadaikan kesuciannya kepadamu, setelah setiap malam kau selalu memaksaku untuk mencumbuimu. Dasar bodoh! Mestinya kau tidak bermimpi, Joko. Aku memang tak pandai menjaga kesucianku, tapi aku begitu lihai menjaga putriku. Sebab, ialah harta berharga yang masih kumiliki. Aku tak ingin ia menjadi korban dari perbuatan suamiku, ayahnya sendiri. Aku juga tak ingin ia membenci Burhan, Joko. Maka maafkan aku! Kau memang manusia laknat dan kau pantas mati! Aku yakin Tuhan itu cukup adil, maka akulah yang diutusnya untuk membunuh manusia sepertimu! Nikmatilah kematianmu.”

“Ah, kau memang gila, Rosni! Gila! Betapa keji dan kejam!”

Darah yang tercecer dari perut Pak Joko dengan cepat mengental dan membeku. Menenggelamkan dirinya, menyesakkan dadanya. Sampai akhirnya tak ada gerak, tak ada air mata, dan tak ada desah napas yang lagi terdengar.

Medan, Agustus 2016

Alda Muhsi, lelaki kelahiran Medan, 1993. Telah menamatkan pendidikan di Universitas Negeri Medan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Tinggal di Jalan Amaliun No. 152 Medan. Penyuka puisi dan cerpen. Puisinya pernah dipublikasikan di Harian Waspada, Analisa, Medan Bisnis, Jurnal Masterpoem, dan Media Indonesia. Dan Cerpennya pernah dipublikasikan di Harian Waspada, Analisa, Medan Bisnis, Republika, Suara Merdeka, dan Banjarmasin Post. Buku kumpulan cerpennya, Empat Mata yang Mengikat Dua Waktu (Ganding Pustaka, 2016).
No. HP 085371783262

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)