Modal Dasar Pengajaran Sastra Sumatera Utara

Oleh:

Yulhasni

 

Pengantar

            Studi pengajaran sastra di sekolah telah banyak dilakukan oleh para ahli. Cakupan penelitian tidak hanya berkisar tentang problematika pengajaran sastra melainkan telah merambah ke proses kreatif penciptaan sastra di sekolah. Berbagai kalangan masih optimis tentang pengajaran sastra bisa sejalan dengan perkembangan karya sastra itu sendiri. Tetapi tidak sedikit yang membuang jauh harapan tersebut karena ditengarai masih lemahnya pola pengajaran sastra di sekolah.

Problematika pengajaran sastra di sekolah sedikit banyaknya melahirkan berbagai gagasan untuk keluar dari kondisi negatif itu. Wacana pentingnya mencari solusi terbaik dalam pengajaran sastra di sekolah menciptakan banyak bentuk dan model pengajaran sastra tersebut. Tentu saja model dan bentuk itu serta merta melahirkan teori-teori baru dalam pengajaran sastra.

Jika merujuk pada model dan bentuk yang baru pada pola pengajaran sastra sebagai basis dasar pengembangan sastra di sekolah, maka guru menjadi garda terdepan mewujudkannya. Tenaga pendidik berbasis ilmu pengetahuan pengajaran sastra itu menjadi tolak ukur keberhasilan pengajaran sastra. Tetapi modal dasar itu saja tidak bisa menjamin bahwa kualitas capaian dari model dan bentuk baru pengajaran sastra itu melahirkan pencipta, penikmat, dan peneliti sastra.

Sastra sebagai sebuah dunia yang penuh tanda tanya. Banyak definisi sastra yang telah dikemukakan oleh para ahli. Pada dasarnya, definisi tersebut mempunyai dasar pengertian yang sama, meskipun diuraikan dengan kata dan bahasa yang berbeda. Walaupun usaha mendefinisikan sastra sudah dilakukan oleh banyak ahli, batasan yang tepat mengenai sastra itu belum dapat dirumuskan. Batasan-batasan yang ada seringkali hanya didasarkan pada aspek-aspek tertentu sehingga masih ter­dapat kemungkinan untuk disanggah atau dipertanyakan.

Di tengah hiruk pikuk penciptaan sastra di berbagai wilayah Indonesia, keprihatinan terhadap masa depan pengajaran sastra masih terus dikumandangkan. Nada keprihatinan tersebut mencuat karena realitas pengajaran sastra belum menyentuh pada akar persoalan sastra itu sendiri. Taufiq Ismail bahkan sampai gregetan dengan kondisi pembelajaran sastra yang demikian hancur-hancuran. Sebab berdasarkan penelitian yang pernah dilakukannya berkait pembelajaran sastra dan mengarang pada siswa SMA di 13 negara tahun 1997, kondisi yang terjadi di Indonesia sungguh sangat memprihatinkan. (Esko Israhayu, 2011).[1]

Tidak semua orang menyenangi dan memahami karya sastra dengan baik. Jika merujuk kepada minat mahasiswa mempelajari sastra maka akan terkait dengan latar belakang mereka ketika menempuh pendidikan di SLTA. Kaitan ini kemudian akan menjelaskan berbagai faktor yang membuat mereka menyenangi karya sastra. Salah satu faktor yang sering dijadikan alasan ini karena pengajaran sastra di perguruan tinggi yang tidak maksimal. Mukhlis Hamid mengatakan pengajaran sastra di lembaga pendidikan formal dari hari ke hari semakin sarat dengan berbagai persoalan. Tampaknya, pengajaran sastra memang pengajaran yang bermasalah sejak dahulu. Keluhan-keluhan para guru, subjek didik, dan sastrawan tentang rendahnya tingkat apresiasi sastra selama ini menjadi bukti konkret adanya sesuatu yang tak beres dalam pembelajaran sastra di lembaga pendidikan formal.[2]

Kondisi demikian sudah berlangsung lama dalam siklus pendidikan di tanah air. Alhasil fakta tersebut melahirkan problematika pengajaran sastra seperti sungai yang meluap karena tidak mampu menampung kiriman air dari berbagai aliran. Selain itu, seperti ditulis Rita dalam makalanya berjudul ‘’Keefektifan Model Respon Pembaca dan Simbol Visal dalam Pembelajaran Sastra di SD’’ menyebutkan secara empiris banyak guru yang tidak mampu mengajarkan sastra secara benar. Mengajarkan sastra dengan baik dan benar bagi guru masih sebatas angan-angan saja. Banyak guru yang menolak mengajarkan sastra karena merasa tidak mampu menyajikan pelajaran itu. Hal ini karena minat membaca mereka (khususnya karya sastra) sangat rendah. Memang tidak masuk akal menginginkan siswa yang gemar membaca karya sastra, sementara guru sendiri menghindari kegiatan itu. Kalaupun harus mengajar, mereka lakukan semampu mereka tanpa mencoba mempelajari metode-metode mengajar sastra yang telah ada.[3]

 

Realitas Sumatera Utara

Tidak dapat dipungkiri bahwa Sumatera Utara merupakan peletak dasar Sejarah Sastra di Indonesia. Sejak zaman Balai Pustaka, Sumatera Utara sudah menjadi bahan pembicaraan terkait dengan kemunculan sejumlah nama penting dalam khazanah sastra Indonesia. Selain Merari Siregar dengan roman Azab dan Sengsara yang diterbitkan Balai Pustaka, empat tokoh Pujangga Baru yakni Sutan Takdir Alisyahbana, Sanusi Pane, Armyn Pane, dan Amir Hamzah merupakan tokoh penting sejarah Sastra Indonesia. Tokoh semisal Charil Anwar, meskipun berkiprah dan mencuatkan namanya sebagai tokoh Angkatan 45 di Jakarta, tetapi dia tetap anak Sumatera Utara.

Tentu saja fakta sejarah tersebut menjadi catatan penting ketika berbicara pengajaran Sastra Sumatera Utara. Pada bagian lain, mahasiswa yang mengambil program studi pendidikan Bahasa Indonesia tidak memahami karya sastra yang terbit di daerah mereka. Bahkan peneliti yang mengampu mata kuliah Sejarah Sastra, Telaah Drama, dan Kritik Sastra di FKIP UMSU sering menemukan ketidaktahuan mahasiswa terhadap karya-karya sastra yang terbit di Sumatera Utara. Ini terbukti dengan setiap pertanyaan yang peneliti ajukan dalam perkuliahan tentang karya sastra Sumatera Utara dan nama pengarangnya, mahasiswa cenderung tidak mengetahui. Latar belakang mahasiswa yang berbeda-beda dari SLTA membuat pemahaman mereka menjadi minim. Mereka seperti asing dengan karya-karya muatan lokal Sumatera Utara. Kondisi tersebut tentu saja diperparah oleh muatan studi sastra di perguruan tinggi yang cenderung tidak memperkenalkan karya-karya sastrawan lokal. Kekurangpahaman tersebut membuat mahasiswa yang memberi pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah-sekolah di Sumatera Utara akhirnya tidak mampu memberi pengetahuan baru kepada siswanya terkait karya sastra yang lahir dari Sumatera Utara. Buku-buku teks pelajaran sastra yang dijadikan bahan ajar di sekolah juga tidak memberi ruang kepada karya sastra lokal.[4]

Dengan kondisi yang demikian, tentu saja terapan baru dalam metode pengajaran sastra sangat dibutuhkan. Bahan ajar teks sastra berbasis karya lokal pengarang Sumatera Utara harus diketengahkan dalam bingkai untuk mencari alternatif pembelajaran sastra yang komprehensif.

 

Modal Dasar

Secara tidak langsung, meski kadang peranannya tidak diperbincangkan, pembentukan komunitas pengajaran sastra berbasis karya lokal penting dijadikan titik awal menelurkan pengetahuan sastra kepada generasi muda di Sumatera Utara. Komunitas pengajaran sastra harus lahir dari pihak yang berkepentingan dalam memajukan khazanah sastra di Sumatera Utara. Komunitas ini bisa jadi modal dasar pengajaran sastra Sumatera Utara.

Komunitas pengajaran sastra berbasis karya lokal ini harus terbebas dari kungkungan kurikulum pembelajaran yang cenderung sentralistik. Seperti diketahui bahwa hegemoni pusat terhadap pembelajaran sastra dalam teks-teks bahan ajar cenderung menafikan keberadaan sastra lokal. Perspektif pembuat buku bahan ajar sastra dalam berbagai tingkatan (SLTP dan SLTA) nyaris tidak mencantumkan posisi-posisi penting pengarang Sumatera Utara, terutama mereka yang berkarya kurun waktu 90-an ke atas.

Kesalahan perspektif tersebut dimungkinkan terjadi karena tidak menyebarnya karya sastra secara merata di Indonesia. Penyebaran di sini dimaksudkan karena industri perbukuan di Indonesia yang cenderung monopolistik. Mereka tidak hanya menguasai percetakan tetapi juga menguasai penjualan buku di berbagai daerah. Dari hulu ke hilir, penyebaran buku dikuasai sebagian kecil penerbit buku dan umumnya berasal dari Pulau Jawa. Alhasil, buku yang disebarkan ke daerah-daerah pun akan bermuatan sentralistik atau boleh juga disebut Jawasentris.

Teks bahan ajar sastra di buku-buku sekolah yang dikonsumsi oleh pelajar di daerah, seperti Sumatera Utara, tentu saja akan sulit bersentuhan dengan karya sastra lokal. Pengetahuan dasar sastra ini sebenarnya tidak baik bagi perkembangan dan pemerataan pengetahuan generasi muda terhadap sastra itu sendiri. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi ini sulit diimbangi dengan penerbitan lokal. Sumatera Utara belum dikategorikan sebagai daerah yang ramah dengan industri perbukuan. Daya beli masyarakat Sumatera Utara sebenarnya tidak terlalu mengecewakan, akan tetapi mereka juga akan kesulitan mendapatkan buku-buku karya pengarang lokal karena persoalan monopolistik industi perbukan tersebut.

Salah satu alternatif yang bisa dibuat tentu saja meramaikan diskusi tentang karya sastra lokal. Diskusi itu tidak diharapkan lahir di bangku-bangku sekolah karena teks bahan ajar sekolah yang tidak mencantumkan karya sastra lokal. Komunitas pengajaran sastra berbasis karya lokal bisa diterapkan kepada masyarakat pencinta sastra. Mereka bisa saja berasal dari masyarakat umum, apalagi dari kalangan pelajar. Pada komunitas seperti ini akan banyak kemungkinan dan metode yang bisa diterapkan. Komunitas bisa saja mangadopsi model-model pembelajaran yang sudah umum diterapkan di bangku sekolah.

 

Perangkat Pendukung Pembelajaran

Berbagai metode pembelajaran yang umum berlaku di bangku sekolah dan kemudian diadopsi di komunitas tersebut harus didukung dengan berbagai perangkat pendukung. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan adalah ketersediaan bahan ajar berbasis karya lokal, pengetahuan tenaga instruktur tentang karya lokal, dan kurikulum.

 

Bahan Ajar

Metode pembelajaran sastra selama ini berbasis pada teks dalam buku pelajaran. Jika teks dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia yang dikeluarkan oleh penerbit di Pulau Jawa, maka tidak akan ditemukan karya dan nama sastrawan lokal Sumatera Utara. Oleh karena itu, pada kelompok komunitas, siswa dapat diberi materi tentang karya sastrawan Sumatera Utara. Sejumlah buku karya sastrawan Sumatera Utara dapat dijadikan bahan ajar siswa.

Selain menggunakan bahan ajar berbasis karya lokal, maka siswa juga bisa langsung berinteraksi dengan pengarangya. Tentu saja proses interaksi ini akan mendapatkan nilai lebih dalam memahami karya sastra. Pengarang dapat mengajarkan proses kreatifnya kepada siswa. Transpormasi pengetahuan ini bermanfaat bagi pengembangan pengetahuan siswa terhadap karya sastra, terutama berbasis lokal.

 

Pengetahuan Tenaga Instruktur

Dalam proses belajar mengajar pada komunitas berbasis lokal tersebut, tenaga pengajar (instruktur) tentu harus memiliki pengetahuan yang luas tentang karya sastra lokal. Tentu saja lebih berkualitas proses belajar mengajar itu jika tenaga instrukturnya adalah pengarang itu sendiri. Memang hal ini tidak mutlak berlaku, akan tetapi tenaga seperti ini akan lebih banyak membantu pengenalan karya sastra lokal tersebut.

Pengetahuan tenaga instruktur tersebut bisa diukur dari tingkat pemahamannya terhadap karya lokal tersebut. Mereka tidak hanya dituntut mengetahui bentuk, nama, dan jenis karya yang dihasilkan sastrawan lokal akan tetapi juga dibutuhkan seperangkat pemahaman proses kreatif kepengarangan. Tenaga instruktur dengan latar belakang sastrawan bisa saja memahami proses kreatif kepengarangan sastrawan lain. Namun jika tenaga instrukturnya tidak berlatar belakang pengarang, maka proses belajar dan mengajar pada komunitas berbasis lokal ini bisa berkurang kualitasnya.

Kondisi ini dapat diatasi dengan pelatihan tenaga instruktur oleh pengarang langsung atau mereka yang sudah mengetahui lebih banyak tentang sastra lokal Sumatera Utara. Pelatihan tenaga instruktur untuk menjadi tenaga pengajar di komunitas berbasis lokal sangatlah penting agar fungsi kelompok tersebut bisa tercapai. Tentu saja target utama dari fungsi komunitas berbasis lokal adalah memberikan pengetahuan dasar kepada peserta didik tentang sastra lokal Sumatera Utara.

 

Kurikulum

Proses pembelajaran dalam bidang apapun sudah dipastkan membutuhkan kurikulum. Print dalam Sanjaya (2010:4) memandang sebuah kurikulum sebagai perencanaan pengalaman belajar, program sebuah lembaga pendidikan yang diwujudkan dalam sebuah dokumen serta hasil dari implementasi dokumen yang telah disusun. Namun pada dasarnya kurikulum memliki beberapa konsep, yaitu kurikulum sebagai mata pelajaran, kurikulum sebagai pengalaman belajar dan kurikulum sebagai perencanaan program pembelajaran.[5]

Oleh karena itu dalam komunitas berbasis lokal, kurikulum menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan dari proses belajar mengajar. Kurikulum di dalam pendidikan sekolah telah ditetapkan sebagai acuan pembelajaran sedangkan di lain pihak pada komunitas berbasil lokal, kurikulum bersifat fleksibel. Sifatnya yang tidak terikat menjadikan kurikulum pada komunitas berbasis lokal menjadi lebih luas dan melahirkan gagasan penting untuk memberi pembelajaran kepada peserta didik.

 

Penutup

Komunitas berbasis lokal tentu saja bukan satu-satunya rumusan untuk menjawab rangkaian persoalan ketidakmampuan peserta didik mengetahui karya lokal Sumatera Utara. Peranan pemerintah daerah tetap diharapkan dalam proses peningkatan pengetahuan sastra lokal tersebut. Ada banyak capaian yang bisa dihasilkan ketika sinergi antara penggagas komunitas berbasis lokal bisa seiring dengan konsep pemerintah daerah.

Komunitas berbasis lokal bisa jadi alternatif belajar di samping tentu saja rangkaian ide-ide lain dengan tujuan meningkatkan pengetahuan peserta didik terhadap sastra lokal Sumatera Utara. Perguruan tinggi sebagai basis dasar melahirkan tenaga pendidik, misalnya, haruslah berada sebagai pihak yang bertanggung jawab juga terhadap persoalan ketidakmampuan peserta didik mengetahui karya lokal Sumatera Utara.

 

 

 

 

 

[1] Eska Rahayu : Upaya Menyiapkan Guru Sastra yang Berkualitas. Dalam http.//edukasi.kompasiana.com diunduh 21 April 2015

[2] Mukhlis Hamid : Mencari Solusi Pengajaran Sastra http://gemasastrin.wordpress.com/2007/05/01/mencari-solusi-pengajaran-sastra-indonesia diunduh 21 April 2015

[3] Rita I Rudy : Keefektifan Model Respon Pembaca dan Simbol Visal dalam Pembelajaran Sastra di SD. Makalah dipresentasikan dalam Konferensi Internasional Himpunan Sarjana-Kesusasteraan Indonesia (HISKI), Palembang, 18-21 Agustus 2015.

[4] Yulhasni. 2012. Studi Deskriptif Pengetahuan Mahasiswa Sastra Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UMSU terhadap Karya Sastra dan Pengarangnya di Sumatera Utara : Penelitian Dosen Muda UMSU.

[5] Sanjaya, Wina. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

 

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)