Menjadi Pribadi Emas

Oleh Win R.G.*

Emas ada di mana-mana, bahkan di tempat yang tidak kita duga seperti sawah, gua, tanah, sungai, dan lain-lain. Begitu pun dengan manusia yang berkepribadian “emas” ada di mana-mana sebenarnya.

Ada di sini, ada di sana, ada di berbagai tempat yang tidak kita duga-duga, sama seperti emas yang ada di berbagai tempat yang tidak kita duga. Tapi untuk menjadikan diri kita sebagai pribadi “emas” tidak mudah. Kita perlu “penambang tangguh” untuk menemukan kita. Siapakah yang akan berhasil menemukan kita sebagai pribadi “emas”? Orang-orang terbaik yang berada pada lingkungan yang baik! Itu jawabannya!
Itulah gunanya kita selalu mendapat PR agar berteman dengan orang-orang baik, sesuai hadist, “Bertemanlah dengan si penjual minyak wangi, meski kamu tidak membeli minyak wanginya tapi akan kecipratan wanginya. Jangan berteman dengan si penjual besi, meski kamu tidak membeli parang atau pisaunya tapi kamu pasti kecipratan bau asapnya.”
“Penambang emas” yang tangguh ini ini bukan orang sembarangan. Dia tahu betul mana emas yang bernilai tinggi, mana emas yang tidak sejati. Penambang emas ini bisa jadi adalah kakak senior di organisasi yang sama, teman sekelas, guru, dosen, orang tua, atau orang hebat lainnya yang memang sudah berhasil menghebatkan diri mereka, maka jika penambang emas ini sudah menemukan kita, ikutlah pada sarannya. Meski kita tidak paham tentang nasehat, kritikan, atau sarannya pokoknya ikuti saja. Sekalipun kita bingung dengan saran atau perintahnya pokoknya ikuti saja. Di puncak kebingungan itulah biasanya selalu ada jawaban tentang hikmah perintahnya. Contoh: Kisah nabi Musa yang diberi perintah oleh Allah untuk menghentakkan tongkatnya ke bumi. Nabi Musa bingung, kenapa di keadaan genting seperti itu Allah masih sempat-sempatnya memberi perintah. Kenapa tidak langsung kasih keajaiban saja agar beliau dan kaumnya selamat? Tidak tahunya justru pertolongan itu ada di perintah Allah. Justru di perintah itu ia diakui sebagai penyelamat bagi kaumnya dan menghancurkan Firaun yang tenggelam di lautan besar. Atau kisah Rasul yang diminta untuk hijrah ke Madinah, kisah Nabi Ibrahim yang diperintah untuk menyembelih Nabi Ismail, dan kisah menarik lainnya. Maka ketika kakak senior di organisasi yang sama, atau sahabat terdekat yang sudah berhasil itu menyuruh kita untuk ini itu, untuk ke sana ke sini, ikuti saja. Dia begitu karena ingin menjadikan kita menjadi lebih indah, lebih bercahaya.
Apakah kita akan menjadi “emas” yang bernilai tinggi? Jawabannya ada di ayakan waktu. Seperti halnya emas di sawah yang harus diayak agar terpisah dari pasir, lumpur, air, dan tanah. Setelah serpihan emas tadi sudah ditemukan namun belum bisa dihargai, belum bisa bernilai tinggi sebelum dicetak dan dibakar.
Pencetakan emas dalam golden character adalah pemetaan impian, evaluasi arah masa depan, pencarian jati diri yang sudah matang. Kita mau jadi orang yang bagaimana di lima atau 10 tahun lagi mesti dicetak di sini, harus ada target, harus berani bermimpi. Jika ingin mengintip kehebatan seseorang di beberapa tahun lagi, maka intiplah mimpinya. Mimpi besar hanya dimiliki oleh orang besar. Orang besar bermula pada mimpi yang besar.
Berikutnya adalah pembakaran emas. Api yang membakar “emas” berupa caci maki orang, penyepelehan dari orang, pandangan sinis dari orang. Batu bata terbaik itu bukan yang warna cokelat muda atau tua (bukan warna cantik), melainkan batu bata yang berwarna merah kehitaman (warna yang jelek). Dibakar dengan api yang sangat panas, begitu pun emas. Emas yang murni, emas yang kuat, emas yang dihargai dengan rupiah tinggi adalah emas yang dibakar pada tingkat panas yang tinggi.
Begitupun dengan kita sebagai manusia yang hendak menjadi pribadi “emas”. Kita memang harus dibakar untuk jadi “emas” sejati berprestasi, maka jangan takut dengan caci maki orang karena itu akan menjadi makanan kita sehari-hari. Tutup telinga dan teruslah berjalan dengan impian tinggi bagi caci maki yang tidak berkualitas, tapi buka telinga bagi caci maki yang baik untuk memperbaiki diri. Caci maki dari musuh-musuh tadi tak selamanya negatif, itu akan bisa menjadi positif dan bermanfaat bagi kita sebab musuh adalah sahabat baik yang menemukan kelemahan-kelemahan kita. Mereka sudah membuang banyak energi untuk memperhatikan semua pergerakan kita, maka wajar jika mereka berhasil menemukan titik-titik kelemahan dalam diri kita dan itu justru jadi peluang kita untuk memperbaiki diri.
Pada proses pematangan ini perbanyak diri dengan beribadah kepada Allah, jadilah pribadi yang beriman dan banyak belajar agar menjadi pribadi yang berilmu. Iman dan ilmu tak boleh dipisahkan. Orang yang beriman, tapi tak berilmu akan bisa ditokoi, orang berilmu tapi tak beriman akan bisa menokoi, maka agar tak ditokoi dan menokoi jadilah pribadi “emas” yang beriman dan berilmu.
Setelah berhasil melalui proses ini semua. Saatnya menunggu antrian untuk menjadi “emas” yang dipesan para pemburu emas yang sudah menunggu dengan jumlah banyak dan bayaran banyak.
You are golden! Kamu adalah emas! Selamat menjadi pribadi emas!!!
***

(Motivasi ini pernah disampaikan pada seminar nasional Golden Character yang diselenggarakan oleh IMM FKIP UMSU pada acara IMMSAC, Rabu, 2 Maret 2016 di Auditorium UMSU bersama Jemi Ngadiono (Founder 1000 Guru)
*Penulis adalah sekretaris Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UMSU, penulis 20 buku fiksi dan nonfiksi)

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)