Mendambakan Pusat Dokumentasi Sastrawan di Medan

Oleh: Nasib TS

Pada sebuah acara Omong-omong Sastra yang digelar di kediaman sastrawan Mihar Harahap, Februari lalu, saya pernah membicarakan ihwal kebutuhan membangun pusat dokumentasi sastrawan Medan. Topik pusat dokumentasi sastra menjadi pengantar diskusi yang hangat. Tentu saja gagasan mendirikan pusat dokumentasi sastrawan Medan, bukan hal baru. Wacana ini sudah muncul sejak hampir tiga dasawarsa lalu. Dan itu dibenarkan sastrawan Maulana Syamsuri, Sulaiman Sambas, Damiri Mahmud dan Shafwan Hadi Umry.

Mereka prihatin dengan nasib karya-karya sastrawan Medan yang tidak diketahui jejaknya setelah pemilik karya meninggal dunia. Padahal, karya sastrawan bagian dari perjalanan sejarah dan aset budaya yang harus dilindungi dan dilestarikan untuk berbagai kepentingan generasi kini dan mendatang. Dalam diskusi itu, hampir seluruh peserta mendukung dengan beberapa catatan masing-masing tentunya.

Obsesi Lama

Harapan adanya pusat dokumentasi sastrawan Medan, atau lebih sederhana semacam perpustakaan khusus yang menyimpan dan mengoleksi karya-karya sastrawan Medan, ternyata pernah muncul pada era 90-an. Sastrawan senior Sulaiman Sambas memberi tahu saya, bahwa gagasan tersebut pernah diperbincangkan bahkan sudah pernah coba diwujudkan yang salah satu penggagasnya Jaya Arjuna. Konon, Jaya Arjuna bahkan sudah sampai pada tahap melobi tempat dan minta dukungan Pemko Medan. Namun entah di mana kendalanya, terwujudnya Pusat Dokumentasi Sastra di Medan tetap menjadi impian.

Shafwan Hadi Umry, tokoh lain yang pernah menggagas Pusat Dokumentasi Karya Sastrawan Medan. Dalam sebuah kesempatan, kepada saya beliau mengaku sampai saat ini masih menyimpan mimpinya di dalam angan-angan, Dulu dirinya pun, sudah sempat mengumpulkan sejumlah koleksi buku-buku karya sastrawan Sumatera Utara, namun kendalanya soal tempat. Bila Jaya Arjuna melobi Pemko Medan, Shafwan sempat melobi pejabat Perpustakaan Daerah Sumatera Utara untuk meminta sekadar ruangan menyimpan karya-karya pengarang Sumatera Utara. Namun lagi-lagi, tidak mendapat respons.

Hasil diskusi pada acara Omong-omong Sastra di kediaman Mihar Harahap itu, langsung merekomendasikan sebuah gerakan untuk mengumpulkan karya-karya sastrawan Medan sebelum karya mereka lapuk dimakan rayap. Beberapa sastrawan sudah bersedia mempelopori gerakan pengumpulan karya, namun masih menemukan kendala lain. Sebagaimana Shafwan Hadi Umry, Maulana Syamsuri, Jaya Arjuna, Damiri Mahmud, Sulaiman Sambas dan kawan-kawan yang pernah gagal mengupayakan tempat menyimpan karya sastrawan Medan, diskusi pada Omong-omong Sastra itu pun meruncing seputar mencari jalan keluar soal kendala tempat.

Sebagian peserta melihat ada peluang untuk memanfaatkan salah satu ruang kecil di Taman Budaya Sumatera Utara. Diskusi Omong-omong Sastra kemudian merekomendasikan Mihar Harahap, Afrion, Sulaiman Sambas dan beberapa lainnya termasuk saya menemui pejabat Kepala UPT Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU). Sebagaimana Shafwan Hadi Umry dan kawan-kawan di era 90-an, hasil lobi kami itu pun gagal. Dengan berbagai alasan prosedural, pihak TBSU dengan sangat menyesal tidak dapat memenuhi permintaan sastrawan.

Menunggu Kepedulian

Pusat dokumentasi sastrawan Medan, siapa peduli? Perjuangan panjang sastrawan mewujudkan pusat dokumentasi cuma menyisakan pertanyaan yang belum kunjung menemukan jawaban sampai sekarang.

Shafwan Hadi Umry menyebut ‘pusat dokumentasi karya sastrawan Sumatera Utara,” sebuah obsesi yang penting diwujudkan segera sebelum karya-karya mereka punah dan luput dari catatan sejarah. Di tengah tumbuh berkembang komunitas sastra di Sumut seperti sekarang, gagasan soal pentingnya pusat dokumentasi karya sastrawan Medan layak disambut kembali dan ditindaklanjuti.

Dalam catatan sejarah, Medan memiliki sastrawan-sastrawan yang produktif dengan karyanya yang kuat dan berpengaruh. Sekadar menyebut nama, ada Herman KS, NA Hadian, AA Bunga, Lazuardi Anwar, Rusli A Malem, Karlan Hadi, dan yang lainnya. Mereka telah tiada, namun tidak ada data jejak mereka yang terdokumentasi dengan baik dan bisa diakses publik. Khususnya dokumentasi seni sastra dan kiprah para sastrawannya yang konon pernah berjaya. Sementara ini karya-karya mereka yang pernah mewarnai jagad sastra Sumatera Utara diurus keluarga masing-masing dan tidak ada jaminan apakah akan terawat dengan baik atau malah terancam ‘dikilokan’ pengepul barang bekas.

Mencemaskan fakta itu, di masa depan perlu adanya lembaga khusus yang mengurus pendokumentasian karya sastrawan daerah ini, agar jejak karya para pendahulu, jejak karya para pegiat sastra sekarang dan jejak karya generasi mendatang tidak hilang dalam sejarah sastra di Sumatera Utara.

Penutup

Seni sastra sebagai sub kebudayaaan semakin eksis di tengah peradaban manusia. Kritikus sastra terkenal HB Jasin pernah mengatakan, sastra adalah milik dunia. Sastra Indonesia dapat berkembang sebagai warga sastra dunia. Bahkan sastra sudah menjadi bagian dari disiplin ilmu yang banyak ditekuni di perguruan tinggi. Sebagai warga kesenian, sastra berekspresi menggunakan medium bahasa yang melahirkan percikan pemikiran, filsafat dan keindahan. Boleh dikatakan, sastra adalah seni arsitektur rohani. Sastra juga saksi zaman sepanjang abad.

Bias-bias perikehidupan tercermin dalam karya sastra. Istimewanya, sastra itu organ hidup yang berkembang dan bergerak sehingga sastra tetap kontekstual dengan lingkungan zamannya. Sebagai saksi zaman yang hidup, karya sastra merekam gejala zaman dengan tata nilai manusia di lingkungannya.

Melihat urgensi ini, maka sangat dibutuhkan inventarisasi dan pelestarian karya sastra sebagai khasanah kekayaan kebudayaan bangsa yang bernilai (spiritual) sangat berharga. Sebagai salah satu upayanya perlu ada sistem pendokumentasian yang baik dari produk budaya itu.

Pusat dokumentasi sastra di Medan yang saya bayangkan memiliki beberapa kepentingan di antaranya: Pertama, menjadi sumber referensi untuk melihat jejak sejarah sastra di Medan. Kedua, melindungi karya sastrawan Medan dari kepunahannya. Ketiga, menjadi motivasi berkarya generasi penerus. Keempat, sebagai pusat pelayanan studi sastra untuk dunia pendidikan dan penelitian. Kelima, sebagai pusat pelayanan penikmat sastra. Keenam, sebagai pusat kegiatan apresiasi sastra melalui pameran dan penerbitan sastra.

Dengan kata lain, kehadiran pusat dokumentasi sastra di Medan diharapkan dapat dijadikan tempat melakukan kegiatan apresiasi, menggelar pameran dan memperkenalkan dokumentasi karya sastra pada dunia pendidikan dan masyarakat penikmat sastra. Selain itu, berguna juga untuk melayani kebutuhan studi sastra, pembuatan skripsi, referensi wartawan dan manfaat lainnya.

*)Penulis Ketua Lembaga Seni Rumah Kata, peminat masalah sosial budaya dan sastra.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)