Menanti Putra Perantau

Puisi Alda Muhsi

Kau tahu malam yang panjang itu semakin jauh meninggalkan cahaya
awan-awan hitam bergumpal seperti estafet tak kenal garis akhir
perempuan tua di beranda menenun teluk belanga
dengan benang-benang cerah serupa wajahmu dalam ingatan
putranya si perantau akan tiba
katanya sebelum siaran takbir hari raya
di dadanya debar penantian melebihi jantung para pecinta
gigil menggigit daging-dagingnya
esok harus ia rampungkan serta kopiah
agar di tanah lapang tampak berkilau megah
bersujud menyembah pencipta
Hari ini ia kembali ke beranda
usai menggantung teluk belanga di almari
untuk kejutan ketika kau tiba
kancing bajunya bisa kuterka dihias banyak batu
kemilau
seperti kunang-kunang sekebun
Kau tiba di antara gundah hatinya
pakaian serba hitam ditambah kacamata dan fedora
kau gagah bagai saudagar
ia bimbang menerima kepulangan
nyatanya kau jauh berubah
Lantunan takbir panjang memanggil
orang-orang berkumpul pagi itu
semarak lebaran berkibar-kibar
kau tergesa berlari
teluk belanga tanggal di atas tilam
kopiah berderai jatuh di bawah gorden
rambutmu tersibak harum tubuhmu jangkung dibalut jas cokelat
mata ibumu berserakan di antara koran-koran termpat bersujud
di antara baris-baris doa yang akan dibisikkannya kepada Tuhan

Medan, Juli 2016

 

Alda Muhsi kelahiran Medan, 1993. Telah menamatkan pendidikan di Universitas Negeri Medan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Tinggal di Jalan Amaliun No. 152 Medan. Penyuka puisi dan cerpen. Puisinya pernah dipublikasikan di Harian Waspada, Analisa, Medan Bisnis, Jurnal Masterpoem, dan Media Indonesia. Dan Cerpennya pernah dipublikasikan di Harian Waspada, Analisa, Medan Bisnis, Republika, Suara Merdeka, dan Banjarmasin Post. Buku kumpulan cerpennya, Empat Mata yang Mengikat Dua Waktu (Ganding Pustaka, 2016). No. HP 085371783262

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)