Kesaksian

Cerpen: Nasib TS

Namaku Mangku Nogari! Sudah lama
aku berbohong. Sekarang, aku ingin menulis
kesaksian ini dengan jujur.

Sudah lama aku berbohong kalau sebenarnya aku harus menggenggam teguh sumpah-janji yang pernah kuucapkan dan mestinya kupatri di dalam sanubariku untuk: setia, amanah, jujur, arif dan bijaksana demi rasa keadilan yang mereka dambakan. Sedangkan kehormatan yang kumiliki, tidak seharusnya kugunakan untuk menakuti-nakuti , apalagi melukai hati nurani.

Sudah lama aku berbohong kalau sebenarnya akulah orang yang mereka butuhkan, saat mereka datang minta perlindungan akibat tekanan kelompok kekuatan atau menderita karena penindasan melalui sistem wewenang. Tapi, aku justeru berbohong seolah adil dan bijaksana menyikapi reaksi kesewenangan yang mengiris–iris rasa keadilan mereka. Karena kenyataannya, kebijakanku memang tergantung kepada tekanan angin yang paling kuat memberi kontribusi keuntungan material bagi diriku dan kroni-kroniku.

Sudah lama aku berbohong kalau sebenarnya aku orang yang tidak peduli. Tapi aku berbohong, karena sebenarnya aku hampir tidak menyisakan hati ketika mendengar jeritan nurani mereka yang papa dan tertindas. Atau ketika mendengar tangis anak-anak mereka yang lapar karena tak bisa membeli sekilo beras akibat gerobak dagangan diangkut petugas operasi tramtib. Memikirkan itu, bagiku hanya membuat perasaan rapuh dan tidak menguntungkan. Aku memang dilahirkan untuk pebisnis tangguh, ulung dan untung. Aku bukan dewa penolong. Aku tidak sudi merugi, membuang waktu pentingku untuk menanggapi keluhan tidak menguntungkan. Waktuku adalah uang, bisnis, tender dan komisi proyek serta fulus.

Sudah lama aku berbohong kalau sebenarnya aku harus mencintai mereka, seperti mereka mencintai aku, mengelu-elukan aku di setiap kehadiranku sebagai undangan kehormatan pada acara-acara penting negeriku. Kalau pun selama ini mereka menganggap tindakanku mulia dan kepedulianku tinggi, sebenarnya bukan karena dorongan niat tulus ikhlas dari lubuk hati sanubariku. Sering aku pura-pura peduli, pura-pura empati. Semua itu kulakukan semata-mata demi menjaga performa, untuk pencitraan, agar segala sesuatunya tampil benar-benar simpati seakan akulah orang yang amat responsibility terhadap keluh kesah penderitaan mereka. Itu, penting bagiku. Karena , itu “bisnis” ku.

Sudah lama aku berbohong kalau saat mereka susah, seolah-olah akulah yang paling tahu, paling mengerti, paling memahami derita mereka. Soalnya, kadang-kadang aku memang memerlukan kondisi mereka semacam itu untuk kujadikan ‘komoditas’ politik memperkuat pesona pribadi dari penampilanku. Itu penting, agar aku terlihat berhati emas, memiliki kepekaan sosial yang paling tinggi di banding rival-rivalku.

Sudah lama aku berbohong kalau investasi proyek yang kubangun menjanjikan kesejahteraan. Padahal, aku hanya memprioritaskan proyek itu demi komisi dari sejumlah relasi-relasiku. Tak peduli walau kadang-kadang harus ada penggusuran paksa dan penghuninya akan kehilangan : sumber nafkah, tempat bernaung keluarga dan hak-hak sosial lainnya. Enggak urusan!

Sudah lama aku berbohong kalau sebenarnya aku bukan dermawan seperti yang mereka pikirkan tentang sosokku. Karena uang dan harta yang kusumbangkan kepada mereka yang meminta, sebenarnya budget yang sudah kupersiapkan untuk “investasi” membangun pondasi kehormatan pura-pura, kepercayaan pura-pura yang kelak harus mereka bayar dengan simpati publik sebanyak-banyaknya. Pada waktunya, mereka aku butuhkan untuk mengukuhkan tahta kehormatanku.

Sudah lama aku berbohong kalau dalam berbagai kesempatan menghadiri undangan kehormatan, akulah sedulur mereka, teman sejati mereka dalam susah,dalam senang. Padahal, sebenarnya aku cuma memiliki sekelompok kroni, pecundang plus deposito yang sewaktu-waktu bisa kucairkan untuk “membeli” simpati mereka melalui teman dan relasi yang kujadikan agennya. Sekalipun dengan konsekuensi bila nanti targetku sampai, aku bisa sedikit berbagi keuntungan dengan mereka sebagai balas budi.

Sudah lama aku berbohong kalau aku kaya raya dan suka memberi, karena yang kaya sebenarnya mereka. Harta yang kumiliki sebenarnya milik mereka. Semua itu kukumpulkan lewat usaha pura-pura: pura-pura resmi, pura-pura halal, pura-pura milikku. Dan, mereka tidak tahu itu!

Sudah lama, dan terlalu lama aku berbohong kalau kroniku berbohong, mitraku berbohong soal kebohonganku itu. Mereka semua berbohong, karena akulah yang mengajari mereka untuk kompak berbohong agar kebohongan tidak selalu terlihat bohong.

***

Akulah, Mangku Nogari! Satu dari sedikit individu terhormat paling beruntung di muka bumi. Namaku terukir rapi di setiap lembar sertifikat tanda kehormatan yang kuterima yang kini menghiasi ruangan kerjaku, di setiap iklan ucapan selamat atau karangan bunga dari para relasi, di setiap publikasi media massa terkenal pada halaman depannya.

Rumahku sepuluh, hadiah dari sejumlah developer pemenang tender proyek tukar guling. Apartemenku lima, tersebar di berbagai kota. Belum termasuk vila yang kubangun sendiri untuk bersenang-senang dan menyegarkan pikiran setiap akhir pekan. Mobilku dua puluh yang kubeli untuk isteri, anak-anakku termasuk para gundikku. Belum termasuk, kapal pesiar dan pesawat pribadiku.

Namun aku sungguh tak tahu, kalau seluruh pesona kehormatan yang kumiliki itu, sekarang seolah menipuku. Termasuk tentang kehormatan yang kumiliki dulu, ternyata pura-pura. Ecek-ecek! Ini aneh dan sangat aneh: segala yang kumiliki dulu tak ubahnya hanya sebuah ilusi, seperti fatamorgana dalam mimpi buruk tidur panjangku. Faktanya sekarang, aku terisolasi dari semua pesona kehormatan itu. Aku seperti terlempar entah di mana!

Sudah lama aku berbohong, termasuk ketika aku berbohong saat menjadi terdakwa dan hadir menyampaikan kesaksian dalam persidangan resmi di kotaku. Aku masih ingat, mobil mewah terbaru mengantarku dengan pengamanan ketat oleh pengawal pribadiku. Waktu itu aku masih bisa mengumbar senyum di depan sorotan kamera kuli tinta yang memburu pernyataanku. Sedikit pun tidak kurasakan ketegangan seperti sekarang. Kini tidak ada lagi jaksa, hakim dan tim pengacaraku yang dulu dengan sukacita menerima tawaranku untuk menjual sisa kejujuran yang mereka miliki. Karena, seluruh kehormatan mereka sangat gampang kubeli dengan setumpuk kebohongan yang kemudian kujadikan kesaksian di pengadilan kotaku.

Sudah lama aku berbohong dan terlalu lama aku berbohong! Sekarang aku ingin menulis kesaksian ini dengan jujur: dengan cara itulah aku bebas murni dari segala dakwaan dalam sidang eksklusif yang digelar lembaga peradilan di kotaku. Aku bebas! Tak payah merehabilitasi nama baikku. Karena skenario berikutnya, aku segera mengatur komentar tentang berita kemenangan perkara pura-pura di ratusan media massa. Baik yang sengaja kubayar atau dimuat gratis karena tidak sengaja. Maklum, sebagai publik figur aku memang news maker. Tapi aku ingin jujur sekarang, kalau semua itu, termasuk “kemenangan” itu, ternyata bohong belaka.

Terlalu lama aku berbohong dan mengira keputusan yang kubeli dari lembaga peradilan kotaku menjadi akhir sebuah “kekuatan hukum tetap”. Ternyata, semua itu bohong. Peradilan sesungguhnya baru akan dimulai sekarang. Dan aku segera memberikan kesaksian!

****

Hening. Sepi menyergapku dan keadaan sekitar. Begitu mencekam! Hawa dingin menjalar hingga merasuki relung jiwa. Aku terpaku ketika membaca kembali kesaksianku itu terbentang di langit. Ketika aku merasa aneh, karena tiba-tiba aku sudah berada di tengah dataran luas yang asing penuh misteri ini. Kedua kakiku seperti bertumpu di dataran luas itu, tapi tidak merasakan jejak pada ujung saraf telapak kakiku. Tepatnya melayang. Aku hampir tidak percaya , sekarang aku berada di tengah suasana yang asing, sangat asing.

Semula aku mengira, aku hanya bermimpi di waktu tidur. Ternyata tidak. Ini nyata, sangat nyata. Aku masih ingat terakhir kali menikmati malam indah, tidur bersama seorang wanita cantik di kamar ekslusif sebuah hotel ternama. Lewat tengah malam, setelah meninggalkan diskotik kami segera masuk kamar. Aku bahkan sempat menelan sebutir viagra, pemberian seorang relasi. Setelah itu, tubuhku terasa mengapung di ranjang sorga.

Tapi kali ini, aku tak habis mengerti berada di mana. Aku sendirian di tengah dataran mahaluas. Untuk memastikan fenomena penuh misteri ini sungguh nyata, aku mencoba mengamati sekitar. Yang terlihat hanya kelam. Aku tengadahkan wajah , tapi tak kulihat langit seperti lazimnya. Seluas mata memandang hanya hitam kelam. Tak ada awan, matahari, bintang atau bulan. Sebuah titik kecil bersinar biru terlihat lamat-lamat. Ukurannya kira-kira sebesar lubang jarum. Posisinya seperti terpencil dalam bentangan wahana kelam tak terbatas itu.

Pemandangan itu membuatku takjub, tapi sekaligus membuatku kalut. Kesadaranku pelan-pelan mulai muncul, kalau aku seperti berada di bagian dunia lain. Dunia aneh. Alam asing yang sepi. Pikiranku jauh mengembara ke alam fantasi mengira-ngira: titik biru dalam wahana tak terbatas itu adalah planet bumi. Ya, sekarang aku ingat! Di sana, beberapa saat yang lalu sebagian kesaksian itu sudah kutulis. Setelah itu, seperti ada yang membimbingku ke tempat aneh ini. Katanya—aku harus ikut untuk mengantar kesaksian ini. Semacam kesaksian untuk sebuah proses peradilan. Itulah yang dibisikkannya kepadaku. Kesaksian aneh yang bukan seperti merekam peristiwa yang biasanya baru ditulis setelah terjadi interval waktu. Kesaksian ini mengalir dan menyatu bersama peristiwa itu sendiri. Seperti bayangan mengikuti benda.

Aku terkesima ketika baru menyadari, kesaksian itu ternyata tertulis begitu detil, sangat kronologis dengan tingkat kecermatan yang sempurna. Tak ada satu huruf pun yang terlewatkan, sehingga mustahil aku bisa merubah atau mengaburkan artinya walau pun hanya satu kata. Lebih terkesima lagi ketika aku baru menyadari kalau dari seluruh proses terciptanya rangkaian kesaksian itu hingga perjalanan panjang mengantar kesaksian di depan “peradilan” asing ini, ternyata hanya ditempuh dalam sekejap mata. Sependek waktu yang dibutuhkan untuk memadamkan aliran listrik di rumah kita. Bahkan lebih pendek dari pergantian siang dengan malam yang diperantarai senja. Artinya, mustahil aku bisa mengganti satu huruf, kata, merekayasa kalimat, bahkan sekadar mengganti namaku dengan nama orang lain dalam posisi kesaksian itu. Seperti yang pernah kulakukan bersama pengacaraku dulu.

***

“Mangku Nogari, kamu sudah siap dengan kesaksianmu?”

Pertanyaan itu tiba-tiba memecah keheningan, menciptakan gemuruh alam sadarku. Tekanan nada suaranya begitu berwibawa menggetarkan relung jiwa. Dan sangat menakutkanku. Aku tak berani memandang ke arah datangnya suara yang sulit kutebak posisinya: di hadapan, di belakang, di atas atau dari dalam relung jiwaku sendiri. Berkali-kali aku mencoba mengingkari peristiwa aneh yang kualami. Berkali-kali aku mencoba untuk tidak percaya, bagaimana aku bisa terdampar di dunia asing ini. Dunia asing yang posisi kordinatnya belum pernah kuketahui dalam bentangan jagad raya ini. Karena sebelumnya, aku memang tidak pernah memikirkannya.

Aku tidak bisa segera menjawab pertanyaan itu. Apakah aku sudah siap mengutarakan kesaksianku? Aku coba mengumpulkan kembali seluruh rangkaian memori kesaksianku. Kini aku kembali ingat sesuatu. Terakhir kali aku terbaring di Ruang ICU Rumahsakit Seger Waras di kotaku. Seluruh keluargaku dan tim medis berikut dokter pribadi yang merawatku berunding serius mengatur rencana untuk membawaku tirah ke sebuah rumahsakit terkenal di Amerika Serikat.

“Bagaimana dokter?” tanya Pertiwi, isteriku, kepada dokter Rahayu Santoso kepala tim medis yang menangani perawatanku. Dokter itu tak segera menjawab. Ekspresi wajahnya tenang sekali menatap isteriku yang tampak jelas begitu cemas.

“Kami terus berusaha,” ujar dokter itu.

‘Usaha’ yang disebutkan, maksudnya mengatur koordinasi dengan pihak rumah sakit di Amerika Serikat, tempat dimana perawatanku akan dirujuk. Sebab, usaha medis yang dilakukan dokter itu sudah menemui titik keterbatasan kemampuannya. Dia sudah menyerah, tak tahu sebabnya. Dengan dalih tidak adanya fasilitas moderen yang dimiliki, dokter itu bilang sama isteriku, “Satu-satunya usaha yang masih mungkin dilakukan adalah membawa suami nyonya ke luar negeri”.

Di tengah suasana genting itu, Adyaksa penasihat hukumku datang tergesa-gesa mendekati isteriku.

“Gawat Bu” bisiknya.

Pertiwi hanya memandanginya tak habis mengerti. Sebelumnya, isteriku Pertiwi memang ada menugaskan Adyaksa untuk memantau perkembangan isu di luar. Khususnya menyangkut tuduhan korupsi terhadap diriku yang kasusnya baru diputus pengadilan di kotaku. Putusannya seperti yang sudah kuutarakan: aku bebas demi hukum karena tuduhan tidak terbukti. Sejak kasusku bergulir, Pertiwilah yang mengatur proses pembelaanku termasuk memberi jaminan penangguhan penahananku. Ketika aku divonis bebas, isteriku minta Adyaksa memantau reaksi publik terhadap kasus itu. Termasuk mengakses informasi media massa.

“Mereka menemukan bukti baru,” bisik Adyaksa ke telinga isteriku. Pengacara yang juga pelobi tangguh itu menyodorkan surat kabar yang memuat berita investigasi tentang kasusku. Pertiwi tampak kalut dan cemas. Kasihan dia. Tapi baru kutahu, kalau sebenarnya dia juga perempuan yang tangguh. Khususnya dalam hal menjaga kehormatanku, suaminya.

“Sttt…Nanti kita bicarakan lagi,” kata isteriku kembali berbisik kepada Adyaksa. Tampaknya Pertiwi cemas kalau aku sampai mendengar kabar buruk itu dan hanya akan memperburuk penyakitku. Padahal aku sudah mendengarnya, tapi seperti sudah tidak punya reaksi perasaan apa-apa lagi. Pasrah dan begitu pesimistis.

Itu percakapan terakhir yang kudengar, sebelum kemudian tangisnya meledak histeris di depan Ruang ICU. Setelah itu gelap. Seperti aliran listrik padam tiba-tiba di rumah kita. Tahu-tahu aku sudah berada di tempat asing yang terisolir ini. Sebuah perjalanan misteri tanpa jarak pasti dalam rangka mengantar setumpuk kesaksian yang kutulis dari balik kesadaran peristiwa itu sendiri.

 ***

“Mangku Nogari, jawablah! Sekarang, apakah kamu sudah siap?”

Pertanyaan itu kembali menggetarkan relung jiwaku. Aku masih belum mampu menjawab, karena lidahku terasa kelu. Aku gemetaran. Aku kukatakan, aku dibimbing ke tempat ini memang untuk memberi kesaksian secara jujur. Padahal aku tidak punya kejujuran itu. Hati kecilku mengatakan, fenomena alam aneh ini memang sebuah proses peradilan. Peradilan melalui ‘persidangan’ aneh yang tidak pernah kukenal sebelumnya.

Ya! Tidak seperti sebelumnya. Aku datang ke tempat ini tanpa diantar sedan mewahku lagi, tanpa pengawal pribadi dan pengacara terkenal yang tidak bisa kuketahui lagi di mana keberadaan mereka sekarang. Aku hadir di tengah suasana “persidangan” ini dengan cara yang kelihatannya misterius dan benar-benar aneh. Selain aku datang seorang diri, aku menjadi pembela—meski tak bisa kubela—, sekaligus saksi yang menyaksikan bagi peradilan diri sendiri. Bahkan tidak pernah kuketahui bagaimana cara dan rahasianya aku bisa sampai di tempat asing menakutkan ini.

Kehormatan dan wibawaku seketika hilang dan aku begitu gemetaran. Tak ada jaksa, hakim, pengacara dan wartawan yang bisa kusogok. Aku takut dan tidak mungkin bisa berbohong lagi. Karena kebohongan berbicara sendiri. Begitu pula kejujuranku memberikan kesaksiannya sendiri. Pancainderaku satu persatu membeberkan kesaksian itu secara detil, sangat akuntabilitas dan transparan. Kesaksiannya mendahului suara dari lafaz lidah dalam rongga mulutku yang biasanya bekerja secara otomatis membentuk efek artikulasi kata melalui gelombang pita suara untuk menyempurnakan kebohongan demi kebohongan yang kuucapkan.

Sekarang ini lidahku begitu kelu dan suaraku tak terdengar lagi. Aku berbicara menggunakan hati sanubari. Tidak lagi bisa berbohong atau berdalih menggunakan kepintaran pikiran menciptakan alibi hukum yang biasanya dengan mudah bisa kurekayasa dengan cara apa saja agar fakta bisa kuputarbalikkan. Tapi sekarang? Aku tak bisa lagi. Jiwaku menggigil. Aku gemetar. Aku takut, sangat takut! ***

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)