Hati dan Budi Bertaut Abadi (Rekam Jejak Shafwan Hadi Umry)

Beliau dikenal sederhana dan bersahaja. Dalam berbagai kesempatan, begitu akrab menyampaikan ilmu pengetahuan dalam situasi santai bersama mahasiswa. Bahkan dalam candaannya selalu terselip nasihat dan kata-kata bernas untuk terus membangun semangat dan bergeliat dalam kancah kesusasteraan serta sikap peduli dalam memberikan perawatan bagi kebudayaan Indonesia yang mulai terkikis oleh masa.

Beliau adalah Shafwan Hadi Umry. Seorang sastrawan dan Penyair Sumatera Utara yang lahir 27 Januari 1951 di kota kecil Bedagai Kabupaten Serdang Bedagai. Kemudian sejak usia balita dibawa orangtuanya pindah ke Perbaungan (kota bersejarah Kesultanan Serdang). Setelah menamatkan SD dan SMP Negeri (1966) di Perbaungan, dia kemudian melanjutkan SMA Negeri 1 di Lubuk Pakam (1969), Deli Serdang. Kemudian menamatkan Sarjana Muda Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Negeri Medan (1974) dan Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia IKIP Medan (1983).

Beliau mulai aktif menulis sejak tahun 1969 ketika beberapa puisinya dimuat pada Harian Angkatan Bersenjata Medan. Setelah menamatkan sarjana Muda Bahasa Indonesia (1974) tulisan-tulisanya dimuat di berbagai surat kabar Medan antara lain, Harian Berita Buana (Ruang “Dialog” yang diasuh oleh Penyair Abdul Hadi WM), Harian Waspada (Ruang sastra Seni yang diasuh Herman Ks) Harian Mimbar Umum (Ruang budaya yang diasuh Penyair Rusli A. Malem), Harian Analisa Medan (Ruang Rebana yang diasuh oleh Zakaria M. Passe dan Ali Soekardi), Mingguan Bintang Sport Film (yang diasuh Emsir Qelana). Pada tahun 1976 bersama para sastrawan Medan di antaranya N.A. Hadian, Damiri Mahmud, W.Yudhi Harsoyo, A. Zaini Nasution dan Herman Ks membentuk arisan sastra dari rumah ke rumah yang diberi nama “Omong-omong Sastra. Beliau adalah konseptor utama dalam membidani lahirnya forum diskusi sastra ini dan mendapat dukungan dari sastrawan Medan.

Pernah memenangi Penulisan Esai selaku juara 1 oleh Dewan Kesenian Medan (DKM) tahun 1984 Antologi Puisi yang berjudul “Tiga Muka” (1979) memuat sejumlah puisi bersama R. Lubis Zamakhsyari dan Damiri Mahmud, Kemudian puisi-puisi lain dimuat dalam Antologi Puisi Asean Rantau (1984), Antologi Puisi (Malaysia–Indonesia) Titian Laut (1986), Antologi Puisi Temu Sastrawan Sumut (1977) Antologi Puisi “Muara” (1988) dan Antologi Puisi “llham” (1991). Beberapa karya esai telah dibukukan yaitu Apresiasi Sastra Penerbit Wina Bandung (1997), Proses Penulisan Puisi (USU Press, 1995), Mitos Sastra Melayu (2010), Bahasa Pers, Iklan dan Bahasawan (USU Press, 2011), Sastra Mandiri (Tahun 2011), Sastra dan Religiusitas (2012), Psikologi Sastra (2012), Tradisi Lisan dalam Cerita Sumatera Utara (2012), Panduan Menulis Bahasa Surat (2012) Pada tahun 1976 diangkat selaku guru SMP Negeri Sipiongot Tapanuli Selatan. Kemudian pindah mengajar di SMP Negeri Manggadua Tebing Tinggi Deli (1980-1981). Pada tahun 1982-1992 mengajar di SMA 1 Medan. Pada tahun 1993 diangkat selaku Kepala Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud Sumut menggantikan Djohan A. Nasution (sastrawan dan penyair Sumut ). Pernah setahun menjabat sebagai Kepala Taman Budaya Medan (1996), Kepala Balai Bahasa Medan (2001-2006). Pada tahun 2006 beralih profesi dari jabatan struktural menjadi dosen Sekolah Tinggi Swadaya Medan. Menyelesaikan studi Program Magister di Prodi Linguistik USU (2008). Tahun 2010 pindah bertugas selaku Dosen UMN Al Washliyah Medan sampai sekarang. Shafwan juga berkiprah sebagai ketua Dewan Kesenian Sumatera Utara dua periode (1999 – 2009). Beliau kini diundang selaku dosen tamu di Fakultas Hukum UISU dan Fakultas Ilmu Budaya Prodi Linguistik USU Medan. Pada tahun 2014 menamatkan Program Pascasarjana S-3 Prodi Linguistik Konsentrasi Kesusastraan di FIB USU Medan.

Memiliki dua orang anak hasil perkawinan dengan Zulhaida Amin. Tahun 1992 pernah mengikuti studi pengajaran bahasa di Universitas Macquarie Sydney Australia. Sejumlah puisinya diterbitkan dalam buku Menyimak Ayat Ombak (1996) dan Telaga (2005). Kini sebagai Ketua Umum HPBI (Himpunan Pembina Bahasa Indonesia Cabang Medan).

Dalam salah satu sajaknya, Shawan berkata, “Jika ia pohon, teduhkan sejuknya agar tubuh merasakan damainya. Jika ia rumah berilah beranda, agar anak dan orang tua saling bercanda. Jika ia sekolah sampaikanlah kearifan, agar hati dan budi bertaut abadi”.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)