Catatan Tak Berjudul

Puisi Nasib TS

:Taman Budaya Sumatera Utara

pada sebuah sore yang cerah
matahari mengintip di antara rimbun akasia
gadis-gadis menari
di panggung terbuka
setiap liuk tubuhmu
melukis cinta di dada terluka
setiap rentak dalam irama kakimu
menawar gersang dahaga jiwa

di bawah rindang pohon asam
angin mamainkan rimbun daun
ketika di luar pagar debu beterbangan dihempas roda bis kota
kita cium aroma segar rerumputan
sembari berbincang apa saja
tentang kearifan yang melayang
tentang hati dan kepekaannya yang tumpul
dan tentang identitas yang terkikis zaman
di saat banyak orang menggelisahkannya
namun tak tahu bagaimana caranya peduli
dan kita mengasahnya kembali
wajah kearifan dan identitas yang mulai sulit dikenali
tercabik-cabik pertarungan para pemburu kepentingan tahta kaum loba
pembunuh rasa dan penjagal jiwa bangsa

di balik gedung utama
matahari mengulum senyum
cahaya senja jatuh di meja kantin
menyinari bekas tumpahan kopi yang mengering
namun inspirasinya tak pernah mati
serupa pameran lukisan,
laksana puisi dalam gemerlap panggung
di bangku-bangku kosong terngiang gelak tawa pemain leng
tempat kita merenda kearifan retak
tempat kita menyulam hati beku dari kegersangan zaman yang individu

Ah kita!
Kapan lagi sore yang cerah
ketika matahari mengintip di antara rimbun akasia
ketika cahaya senja turun di meja kantin
dan angin memainkan rindang daun
kapan lagi kita ke koridor depan sanggar tari
berbaur menyerbu sepeda pedagang mie
usai menonton lomba baca puisi
Ah!
—-Sabtu Galau , 22 November 2014

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)