Bersatulah Petani-Petani Indonesia

Puisi Alda Muhsi

Riak air matamu di tangkahan sawah. Murni serupa embun tertampung pada daun keladi. Tak dalam namun tajam. Di dasarnya dapat kulihat raut mukamu sembab mengeruti bayang-bayang anak istri.

Caping lusuh telah kering dibakar matahari sejak pagi. Cangkul kau pikul di bahu harum aroma tanah dan padi menemani sepanjang jalan. Jerami bertumpuk siap dikupas. Kau tergesa-gesa.

Ini sawah siapa punya
Ini tanah siapa sewa
Kau yang garap kau yang tengkurap
Para cukong tiarap di kasur empuk
Ketika malam hama-hama menyerang dan kau terkena malaria

Oi adakah pagi menetaskan telur harapan yang saban waktu kau erami
Akankah seperti hujan yang tak tentu lahirkan pelangi
Merunut sejarah, mestinya bersatulah petani-petani Indonesia
Bongkar sawah-sawah penjilat dengan geliat
Akhiri permainan dengan ligat

Sawah dan ladang terhampar luas
Namun satu-satu menjelma hutan-hutan beton
Kau akan terkikis pelan-pelan
Umpama abrasi
Pembakaran dengan topeng kelalaian
Lalu alibi macam-macam menyerap gumpalan asap

Bukan tak boleh menggelar patuh
Hama kehidupan di depan mata menggigit tulangmu, menghisap raga lebih kejam daripada malaria
Akankah kau cari kina untuk musnahkannya?
Ataukah kau pasrah berserah

5 Agustus 2016

 

Alda Muhsi kelahiran Medan, 1993. Telah menamatkan pendidikan di Universitas Negeri Medan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Tinggal di Jalan Amaliun No. 152 Medan. Penyuka puisi dan cerpen. Puisinya pernah dipublikasikan di Harian Waspada, Analisa, Medan Bisnis, Jurnal Masterpoem, dan Media Indonesia. Dan Cerpennya pernah dipublikasikan di Harian Waspada, Analisa, Medan Bisnis, Republika, Suara Merdeka, dan Banjarmasin Post. Buku kumpulan cerpennya, Empat Mata yang Mengikat Dua Waktu (Ganding Pustaka, 2016). No. HP 085371783262

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)