Antilan Purba : Nasiku Tak Kau Makan Lagi, Silaturahmi Kita Mati

 

Membaca judul tulisan di atas, boleh jadi kita berpikir tentang sikap Antilan Purba yang menolak individualime. Semasa hidupnya, ia dikenal akrab dengan berbagai kalangan. Sekalipun ia merupakan dosen di Universitas Negeri Medan dan beberapa kampus lainnya, ia tetap bersedia duduk sebangku tanpa membedakan ‘kasta’ antara ia dan mahasiswa.

Penggalan puisi nasiku tak kau makan lagi, silaturrahmi kita mati adalah bentuk kepeduliannya dalam berbagi. Dengan adanya rasa kebersamaan maka harmoni akan terjalin. Lima tahun sudah kepulangannya menghadap Sang Khalik, kerinduan tak lagi dapat disangkal. Menyeruak di dalam hati ketika memori kembali terbongkar tentang semangatnya untuk terus menyampaikan kalimat-kalimat bertuah. Meskipun penyakit itu nyata dan terlihat oleh semua. Ia merasa tak perlu sungkan untuk membersihkan cairan merah yang keluar dari hidungnya. Semua orang tahu dia sakit, tapi ia tak mau tahu bahwa ia sakit dan tetap menghadiri tempat-tempat sastra yang digagas oleh mahasiswa.

Ia lahir di Pematangbandar, Simalungun pada 8 Maret 1958. Ia menamatkan pendidikannya di SD Hikmah Pematangbandar pada tahun 1972, SMP Negeri Pematangbandar pada tahun 1975, SMA Negeri Perdagangan pada tahun 1979, IKIP Negeri Medan pada tahun 1984, dan menyelesaikan S2 di IKIP Negeri Bandung.

“Penilaian tentang Penilaian Pemakaian Bahasa Indonesia” merupakan esai pertamanya yang dimuat di Harian Pikiran Rakyat, Bandung pada tahun 1990. Pada tahun yang sama pulalah kiprah dan gairah sastra sastrawan yang lahir dari pasangan Alamsyah Purba dan Ulung Saragih terus marak dalam dunia menulis. Esainya telah banyak menghiasi jagat media massa Sumatera Utara seperti Medan, seperti Analisa, Mimbar Umum, dan Suara Guru Jakarta. Tulisannya tidak hanya berbentuk esai tapi juga puisi. Dengan menulis puisi, ia mengaku bebas berekspresi.

Puisi-puisi Antilan pernah diperlombakan dan bahkan sempat dibacakan oleh Sawal Pasaribu pada Dies Natalis USU tahun 2004 dan banyak juga memvisualisasikannya terutama mahasiswa Unimed. Karya-karya puisinya juga kerap dibacakan di Taman Budaya Sumut. Beberapa buku hasil kreatifitasnya yaitu Kompetensi Komunikatif Bahasa Indonesia: Ancangan Sosiolinguistik yang diterbitkan oleh USU Press Medan tahun 1996, Kompetensi Komunikatif, Teori dan Terapan dalam Pembelajaran Bahasa dan Penelitian Bahasa diterbitkan oleh USU Press Medan tahun 1988, Pragmatik diterbitkan oleh USU Press Medan tahun 2002, Otonomi Budaya diterbitkan oleh USU Press Medan tahun 2004.

Bahasa, Wacana dan Sastra yang diterbitkan oleh USU Press tahun 1997, Sastra Indonesia Kotemporer diterbitkan oleh USU Press tahun 2001. Stilistika diterbitkan oleh FBS Unimed tahun 2004, Kompleksitas Sastra Indonesia dierbitkan oleh USU Press tahun 2004, Esai Sastra Indonesia diterbitkan oleh FBS Unimed tahun 2004, Teori Sastra Indonesia diterbitkan oleh FBS Unimed tahun 2004, dan Sastra Bangsa Indonesia diterbitkan oleh FBS Unimed tahun 2004. Beberapa buku tersebut merupakan karya ilmiah, artikel-artikel tentang sastra dan budaya.

Bersama A. Rahim Qahhar, ia juga menulis buku dengan judul Sastra Media Pembentuk Pribadi Berakhlakulkarimah yang diterbitkan oleh Laboratorium Sastra Medan tahun 2004. Selain itu, tahun 2001 Antilan Purba dan beberapa penyair Medan membentuk perkumpulan Arisan Sastra (Arsas) Medan dengan tujuan menerbitkan seri antologi puisi Tengok dengan swadana. Antilan sendiri bersama Idris Siregar dan Aishah Basar menghimpun puisi dalam Tengok 3: Antologi Puisiyang diterbitkan oleh Arsas Medan tahun 2002. Puisi-puisi Antilan yang lain terdapat dalam Amuk Gelombang: Sejumlah Puisi Elegi Penyair Sumatera Utara yang diterbitkan oleh Star Indonesia Productions, Medan tahun 2005, Jelajah: Puisi Ekologis yang diterbitkan oleh Valentino Group, Medan tahun 2006, dan Medan Puisi: Antologi Puisi Pesta Penyair Indonesia yang diterbitkan oleh Laboratorium Sastra Medan tahun 2007.

Antilan Purba suami dari Salmah Hasibuan yang menikah pada tanggal 26 November 1986 di Medan ini adalah ayah tiga oang anak yaitu Sofyan Helmi Purba lahir 1987, Adlino Novianti Purba lahir 1988, dan Faruq Hafiz Purba lahir 1992.

Antilan Purba penulis sederhana yang karyanya masih hidup dan memberi warna bagi kesusasteraan Sumatera Utara. Meski engkau tak lagi makan nasi, kita tetap bisa bersilaturranmi dalam bait-bait doa. Meski perpisahan jasad membentengi jarak kita, selama karyamu masih dapat kami baca, kehidupanmu yang sejati adalah di hati kami. Alfatihah.  (Tiflatul Husna)

 

 

 

 

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)