Air Mata Kedua di Titi Gantung

Cerpen Alda Muhsi

Aku masih mengenang segala yang bisa dikenang. Raut wajahmu yang tak pernah berubah segaris pun di mataku. Serta ulahmu yang selalu saja menciptakan tawa di atas perih. Ah, aku hanya bisa menikmati senja bersama bunga-bunga di halaman rumah. Tanpa kau, kekasih.

Aku mencarimu ke tempat biasa kita menghabiskan senja. Di Titi Gantung, tempat kesukaanmu. Katamu di sana kita bisa menyaksikan miniatur kehidupan negeri ini. Atau hanya sekadar memandangi railink, kereta bandara, yang sudah lumayan cantik dan mewah. Berteman angin sore dan riuh suara kereta api kita sering menghabiskan senja di sana, hanya berdua, walau terkadang terganggu dengan kerecokan yang lain, kita acuh saja. Ada pedagang, ada pengamen, ada peminta-minta, dan ada juga rakyat biasa seperti kita yang tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa terima keadaan mau jadi apa bangsa ini. Tak juga kutemui kau di sana. Kata orang-orang yang kutanyai, mereka menjawab memang tadi ada perempuan yang biasa datang bersamaku, kali ini ia datang sendiri sambil menangis.

“Iya, tadi wanita itu telah datang, tapi hanya sendiri,” kata bapak penjual roti, yang biasa rotinya kubeli, “memang kau dari mana? Kenapa tak bersamanya? Apa kalian sedang bertengkar?” Sambungnya.

“Enggak, Pak,” kujawab sambil geleng kepala.

Kulihat ada buku kumpulan puisi Chairil Anwar di sudut sana. Aku yakin pasti itu milikmu. Tapi apa kau sengaja meninggalkannya? Atau kau lupa membawanya? Kubalik isi buku itu satu-satu. Di lipatannya, halaman 12, tertulis sepenggal kalimat, yang akhir-akhir ini selalu kau tangisi.

“Betapa aku merindukan ayah.”

Lembaran itu masih lembab, kurasa bekas air mata semenit lalu. Aku segera berlari menyusulmu. Mungkin kau tengah perjalanan pulang. Begitu dalam pikiranku.

“Trasy… Trasy… Trasy….”

Kuketuk pintu dan jendelanya bergantian. Keringatku mengucur. Aku tak henti memanggilnya. Hatiku penuh kecemasan.

“Hey, kau cari siapa?” sapa ibu tetangga.

“Trasy, Bu, apa ibu tau dia ke mana?”

“Rumahnya sudah kosong. Sudah tak ada lagi siapa-siapa.”

“Ke mana mereka, Bu?”

“Kau ini siapa? Apa kau tidak tahu?”

“Ayolah, Bu, lekaslah beri tau! Apa yang terjadi? Ke mana Trasy dan ibunya?”

Beberapa menit yang lalu mereka telah pergi. Katanya mau menyusul ayah Trasy.

“Apa? Maksud ibu bagaimana?”

“Kemarilah!”

Aku terkejut sekali, ibu itu menunjukkan berkas perjanjian hutang beratas nama ibunda Trasy. Apa? Jadi rumah ini akan disita? Dan masih banyak lagi kekurangan bunganya? Aku begitu terpukul.

“Begitulah, sejak kepergian suaminya, ibunda Trasy goyah bukan kepalang, pekerjaannya terbengkalai, usaha yang diwariskan suaminya gagal dijalankan hingga akhirnya berujung pada kebangkrutan. Hutang-hutang itu juga merupakan sisa-sisa dari hancurnya usaha mereka.”

Darahku melemah sampai kaki. Bibirku terpaksa bergetar kaku. Jadi benar tekadmu yang kau bilang tempo hari. Memang inilah yang kutakutkan, Trasy. Aku sudah menduga-duga yang akan terjadi setelah kau katakan itu.

“Betapa aku merindukan ayah, aku sudah tidak tahan lagi, seandainya ada ayah, dia pasti tau apa yang harus dilakukan.”

“Ya, tapi apa tak ada cara lain?”

“Sudah terlambat, tak ada jalan lain. Kupikir ini jalan satu-satunya.”

“Tidak, Trasy, ini hanyalah suatu kebodohan. Jangan, Trasy! Kubilang jangan! Kumohon padamu. Aku masih ingin menikmati waktu bersamamu, menjalani pagi di stadion berduaan, sambil sarapan bubur ayam. Lalu, menghabiskan siang di bangku taman, bersama bunga-bunga yang bermekaran, dan melihat kepompong yang akan meretas menjadi kupu-kupu, sambil pula kita menikmati es krim kesukaan. Merebahkan lelah di pelukan rembulan saat malam datang. Aku masih ingin melakukannya bersamamu, Trasy.”

“Ini yang terbaik untuk kita, terlebih untukmu.”

“Aku tak peduli dengan yang lain. Aku tak mau tau tentang kebaikan, yang aku ingin kau harus bertahan dengan keadaan. Aku akan selalu menopangmu. Kau tak boleh hanyut bersama badai ini.”

“Sudahlah, sia-sia kau bersikeras menahanku. Mencoba meredakan amarah dan mengurungkan niat. Aku tetap pada pilihan.”

Kau cium bibirku agar tak berkata-kata lagi.

Kupeluk tubuhmu. Terasa dingin sekali.

Trasy, maafkan aku tak bisa membantumu. Aku pikir masalah ini hanya antara kau dan ibumu. Tapi ternyata tidak, ini lebih besar dan lebih memakan pikiran. Pantas saja kau pasrah dan memilih jalan yang aku dan Tuhan membencinya. Kini aku baru tahu, bahwa hutang-hutang ibumu telah memaksamu harus menemui ayah.

“Aku terlalu mencintaimu, dan tak akan kubiarkan tubuhku rebah di jantung lelaki lain. Maafkan aku tak memberi tahu peristiwa yang sebenarnya. Aku tak ingin panikmu menggebu. Biar saja aku yang hilang dimakan abu. Setelah itu bersihkanlah pikiranmu dan carilah wanita lain yang cantiknya seperti aku.”

Aku masih ingat kata-katamu malam itu, ketika tubuhmu tanpa baju menindih tubuhku yang malu-malu. Rasanya aku ingin menghilang dan tak ingin kembali ke kota ini. Kota yang mengingatkanku pada kenangan-kenangan hitam. Apa lagi jika melintasi titi gantung, ingatanku kembali mencuat tentang peristiwa pembantaian ayah. Waktu itu ayah membawaku jalan-jalan sore sambil melihat kereta api yang melintas, tiba-tiba kami disergap dan ia ditikam berulang-ulang. Aku tak tahu penyebabnya. Saat itu aku masih berumur 7 tahun. Dan kini titi gantung kembali memaksa air mataku keluar, setelah sebelumnya aku susah-payah untuk melupakan itu. Ia kembali merekahkan luka dan air mata mengalir menggenangi sisi-sisi rel kereta. Sebab kepergianmu.

Medan, Agustus 2016

Alda Muhsi, lelaki kelahiran Medan, 1993. Telah menamatkan pendidikan di Universitas Negeri Medan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Tinggal di Jalan Amaliun No. 152 Medan. Penyuka puisi dan cerpen. Puisinya pernah dipublikasikan di Harian Waspada, Analisa, Medan Bisnis, Jurnal Masterpoem, dan Media Indonesia. Dan Cerpennya pernah dipublikasikan di Harian Waspada, Analisa, Medan Bisnis, Republika, Suara Merdeka, dan Banjarmasin Post. Buku kumpulan cerpennya, Empat Mata yang Mengikat Dua Waktu (Ganding Pustaka, 2016).
No. HP 085371783262

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Enjoy this blog? Please spread the word :)